Mengapa Jarak Tempuh Mobil Listrik Berkurang Saat Cuaca Panas?
Suara Kalbar – Bagi pemilik kendaraan listrik, ada satu fenomena yang kerap terasa membingungkan. Pada hari-hari biasa, mobil listrik mampu menempuh jarak sesuai estimasi. Namun begitu cuaca terik menyengat, indikator jangkauan di dasbor tiba-tiba menunjukkan angka yang lebih rendah dari biasanya. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Jawabannya ada pada cara kerja baterai lithium-ion yang menjadi sumber tenaga utama kendaraan listrik. Panas bukan hanya membuat penumpang tidak nyaman, tetapi juga secara langsung memengaruhi kimia di dalam baterai, konsumsi energi, hingga sistem pendingin kendaraan itu sendiri.
Baterai lithium-ion yang digunakan kendaraan listrik bekerja paling optimal pada kisaran suhu 15 hingga 35 derajat celsius. Begitu suhu melampaui 35 derajat celsius, baterai mulai mengalami pemanasan berlebih yang memicu laju pengosongan lebih cepat, berkurangnya kapasitas penyimpanan energi, dan penyaluran daya yang tidak efisien.
Pada suhu tinggi, pergerakan ion di dalam baterai meningkat secara drastis. Kondisi ini mencegah ion mengikat diri secara efektif ke anoda dan katoda, sehingga aliran energi terganggu dan kapasitas baterai secara efektif berkurang.
Suhu tinggi juga memperkuat arus listrik di dalam baterai, mendorong ion litium secara berlebihan hingga berpotensi menciptakan retakan-retakan kecil di dalam sel baterai.
Retakan itu memicu reaksi sekunder yang menghabiskan kandungan litium dan membuat energi semakin sulit mengalir dengan bebas.
Berapa Besar Penurunan Jangkauannya?
Besaran penurunan jarak tempuh sangat bergantung pada seberapa tinggi suhu lingkungan. Dilansir dari Recurrent Auto, yang menganalisis data nyata dari sekitar 30.000 kendaraan listrik, penurunan jangkauan pada suhu 32 derajat celsius masih sekitar 5%.
Namun ketika suhu mencapai 37 derajat celsius atau lebih, penurunan bisa mencapai 17% hingga 18%. Pada suhu ekstrem di atas 35 derajat celsius, kendaraan listrik bahkan bisa kehilangan 20% hingga 30% total jangkauannya.
Penelitian serupa dari AAA, rata-rata penurunan jangkauan akibat suhu panas adalah 8,5%, meski angka ini jauh lebih kecil dibanding penurunan akibat cuaca dingin ekstrem yang bisa mencapai 39%.
AC Menyedot Energi Baterai
Salah satu faktor terbesar yang memperparah penurunan jangkauan di cuaca panas adalah penggunaan pendingin udara atau AC. Tidak seperti mobil bermesin bensin yang mendapatkan panas gratis dari mesinnya untuk menghangatkan kabin, kendaraan listrik harus mengambil seluruh energi untuk mengatur suhu kabin langsung dari baterai.
Pada suhu 27 derajat celsius penggunaan AC hanya menyebabkan penurunan jangkauan sekitar 2,8%. Namun ketika suhu naik ke 35 derajat celsius, dampaknya melonjak tajam hingga sekitar 17%.
Energi yang dibutuhkan juga tidak merata, saat AC pertama kali dinyalakan untuk mendinginkan kabin yang sudah panas, sistem membutuhkan antara 3 hingga 5 kilowatt. Setelah suhu kabin mencapai titik nyaman, konsumsi energi turun ke kisaran 1 kilowatt saja.
Berbeda dari kekhawatiran banyak orang, AC pada kendaraan listrik sebenarnya tidak seberat penggunaan pemanas pada musim dingin dalam hal konsumsi energi.
Selain itu, karena mesin listrik tidak menghasilkan panas sisa sebanyak mesin pembakaran, AC kendaraan listrik tidak perlu bekerja melawan panas mesin seperti yang terjadi pada mobil konvensional.
Sistem Pendingin Baterai Ikut Menguras Daya
Di luar AC kabin, kendaraan listrik juga memiliki sistem pendingin baterai tersendiri yang dikenal sebagai battery thermal management system (BTMS). Sistem ini bekerja keras menjaga suhu baterai tetap pada kisaran ideal, yakni sekitar 15 hingga 27 derajat celsius.
Ketika cuaca panas, sistem manajemen termal ini menggunakan sebagian daya baterai untuk menjaga suhu baterai tetap aman.
Berbeda dengan sistem pendingin mesin konvensional yang hanya berfungsi mendinginkan, BTMS pada kendaraan listrik dirancang untuk bekerja dua arah yaitu mendinginkan saat panas dan menghangatkan saat suhu terlalu rendah.
Di samping itu, panas ekstrem di atas 30 derajat celsius juga dapat mempercepat penuaan dan degradasi baterai secara jangka panjang. Pengisian daya, terutama fast charging, di cuaca panas menghasilkan panas tambahan yang memperburuk kondisi tersebut.
Pengisian Daya Ikut Terdampak
Cuaca panas tidak hanya memengaruhi jangkauan saat berkendara, tetapi juga proses pengisian daya. Banyak kendaraan listrik memiliki sistem pemantau suhu baterai bawaan.
Ketika sistem mendeteksi baterai mulai terlalu panas saat pengisian berlangsung, ia secara otomatis akan memperlambat laju pengisian, sebuah mekanisme yang dikenal sebagai thermal throttling.
Dengan mengurangi kecepatan pengisian, sistem mengurangi panas yang dihasilkan sehingga baterai tetap berada di suhu yang aman. Konsekuensinya, waktu pengisian menjadi lebih lama dari biasanya.
Cuaca panas memang memberikan tantangan nyata bagi kendaraan listrik, namun bukan berarti kendaraan ini tidak cocok untuk iklim tropis. Dengan memahami cara kerja baterai dan menerapkan kebiasaan berkendara yang tepat, dampak dari cuaca terik terhadap jangkauan bisa diminimalkan secara signifikan.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





