Dewan Pendidikan Kalbar Apresiasi Sikap Ocha di Polemik LCC 4 Pilar, Anggap Kritis, Tenang dan Bermartabat
Pontianak (Suara Kalbar) – Sikap salah satu peserta LCC 4 Pilar MPR RI 2026 bernama Josepha Alexandra atau Ocha yang menyuarakan keberatan terkait hasil penilaian mendapat apresiasi dari Dewan Pendidikan Komite Pendidikan Menengah Kalimantan Barat (Kalbar).
Dewan Pendidikan Komite Pendidikan Menengah Kalbar, Yudi Dharma menilai keberanian Josepha menjadi cerminan positif generasi muda yang kritis namun tetap beretika.
“Justru ini menjadi timbal balik atau feedback bahkan cerminan, kalau kami orang yang juga menyoroti dalam sektor pendidikan, ini adalah pintu masuk peluang yang begitu amat sangat besar. Ternyata dibalik dengan dimensi permasalahan sektor pendidikan yang begitu amat sangat besar di Indonesia, justru kita punya potensi generasi penerus yang hebat, seperti yang ditunjukkan Josepha,” ujarnya.
Menurut Yudi, keberanian menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan merupakan mentalitas yang harus dibangun dalam dunia pendidikan.
“Mereka berani, dia tampil berbeda untuk menyuarakan hal yang benar, memperjuangkan hal yang dalam konteks itu keadilan dalam sebuah kompetisi. Nah tentu mentalitas-mentalitas ini yang harus dibangun, dipopuk, dikembangkan,” katanya.
Ia menilai keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan kemampuan komunikasi peserta didik.
“Bahwa salah satu indikator keberhasilan pendidikan, ya bukan hanya mereka memiliki penguasaan pada konten knowledge, tapi lebih dari itu mereka adaptif, berkarakter, dan punya kemampuan komunikasi skill yang tepat sesuai dengan konteksnya,” jelasnya.
Yudi bahkan secara khusus mengapresiasi cara Josepha menyampaikan kritik yang dinilai tetap santun dan bermartabat.
“Nah tentu kita sangat mengapresiasi bagaimana sikap yang ditunjukkan si Josefa, bahkan dia bisa dengan jernih, dengan tenang, bahkan bermertabat dalam level sekolah atau SMA, mampu menyuguhkan kalimat-kalimat yang tentunya kritis tapi beretika,” ujarnya.
Ia juga menegaskan kritik yang disampaikan peserta tidak seharusnya dianggap melukai marwah dewan juri. Menurutnya, juri juga manusia yang bisa saja melakukan kekeliruan teknis. Yudi menilai, apabila memang terjadi kesalahan teknis dalam penilaian, juri sebaiknya bersikap terbuka dan demokratis.
“Jadi saya rasa juri juga perlu bersikap profesional, demokratis, walaupun memang sudah ada juknisnya, tidak egois dalam konteks mengambil keputusan,” ujarnya.
Ia menambahkan, mengoreksi keputusan yang keliru justru menunjukkan kebesaran jiwa seorang juri.
“Ketika memang itu pure secara teknis kekeliruan yang ada di sisi mohon maaf dalam tanda kutip pendengaran seorang juri, ketika juri menyuguhkan mohon maaf kita klarifikasi, kita anulir dengan keputusan itu, saya rasa itu tidak menurunkan meruah seorang juri, justru menunjukkan berjiwa besar bahwa pendidikan itu tempatnya belajar, tempatnya salah, tempatnya berproses,” pungkasnya.
Penulis: Maria





