SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Mengenal IEA Pontianak- Kubu Raya, Relawan Misi Kemanusiaan Menolak Dibayar demi Nyawa Sesama

Mengenal IEA Pontianak- Kubu Raya, Relawan Misi Kemanusiaan Menolak Dibayar demi Nyawa Sesama

Indonesian Escorting Ambulance Pontianak- Kubu Raya usai mengantar pasien di Rumah Sakit Pontianak. SUARAKALBAR.CO.ID/Dok-IEA

Sirene meraung memecah padatnya lalu lintas sore di Pontianak. Di tengah deretan kendaraan yang nyaris tak bergerak, tiga sepeda motor melaju perlahan dengan sigap, membelah kemacetan. Tangan mereka memberi aba-aba, suara klakson bersahutan, sementara dari kejauhan sebuah ambulans berusaha menembus jalan yang sempit oleh kepadatan kota khatulistiwa itu.

Oleh: Diko Eno

Di balik helm dan rompi yang mereka kenakan, ada sekelompok anak muda yang tak sedang mencari sensasi. Mereka adalah bagian dari Indonesian Escorting Ambulance Korwil Pontianak-Kubu Raya, komunitas relawan yang memilih bertaruh nyawa di atas aspal demi satu tujuan sederhana namun mulia yakni membantu ambulans membawa pasien secepat mungkin menuju rumah sakit tanpa meminta imbalan apa pun.

Bagi banyak orang, bunyi sirene ambulans mungkin hanya terdengar sebagai suara yang meminta jalan. Namun bagi mereka, itu adalah panggilan kemanusiaan. Panggilan yang membuat hati mereka tergerak untuk turun ke jalan.

“Tujuan utamanya kita terjun ini membantu bagi masyarakat yang membutuhkan. Seperti kita mendampingi ambulans membawa orang sakit yang kita diperlukan untuk membuka jalan di jalan raya itulah sebenarnya tergerak hati kita untuk membantu dan turun di jalanan,” ujar Ketua 2 Indonesian Escorting Ambulance Korwil Pontianak-Kubu Raya, Taufik Abdilah, yang akrab disapa Opik, kepada Suarakalbar.co.id, Selasa (12/5/2026).

Komunitas ini berdiri sejak 2018. Inspirasi mereka lahir dari kejauhan. Melihat kiprah relawan pengawal ambulans di Jakarta dan Bandung yang tanpa lelah membantu masyarakat di jalan raya. Dari rasa kagum itulah tumbuh keyakinan bahwa Pontianak dan Kubu Raya terutama Kalimantan Barat juga membutuhkan gerakan serupa.

Indonesian Escorting Ambulance Pontianak- Kubu Raya usai mengantar pasien di Rumah Sakit Pontianak. SUARAKALBAR.CO.ID/Dok-IEA

“Komunitas ini berdiri sejak 2018. Awalnya, kita tergerak hati melihat rekan-rekan relawan ambulans yang ada di Jakarta dan di Bandung yang sangat gesit membantu masyarakat di jalan,” katanya.

Bagi Opik dan rekan-rekannya, kebahagiaan mereka bukan soal dikenal orang. Bukan pula soal pujian. Kebahagiaan mereka hadir saat ambulans yang mereka kawal berhasil tiba tepat waktu. Ketika pasien mendapatkan penanganan cepat, ketika keluarga pasien bisa sedikit bernapas lega.

“Suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang kita dapat, kita sudah membantu. Meskipun mungkin bantuan kita terlihat kecil, tapi kita sangat beruntung bisa membantu pasien sampai di rumah sakit dan mendapatkan penanganan cepat,” ungkapnya.

Namun jalanan tidak selalu ramah. Di balik aksi membuka jalan, ada risiko yang selalu mengintai.

Benturan dengan ego pengguna jalan adalah hal yang paling sering mereka hadapi. Tidak semua pengendara memahami bahwa setiap detik bagi ambulans bisa menjadi penentu hidup dan mati seseorang.

“Kalau untuk bentrok di jalan dengan pengendara, itu sering. Mungkin sebagian masyarakat belum bisa mengontrol egonya, walaupun mereka tahu ini ada hal yang lebih prioritas dan seharusnya mengerti terhadap ambulance,” ucap Opik.

Indonesian Escorting Ambulance Pontianak- Kubu Raya usai mengantar pasien di Rumah Sakit Pontianak. SUARAKALBAR.CO.ID/Dok-IEA

Kemacetan adalah tantangan terbesar. Ketika ruas jalan penuh sesak dan kendaraan saling mengunci, mereka harus mengambil keputusan cepat.

Kadang tak ada pilihan selain melakukan contraflow membuka jalur berlawanan arah demi memberi ruang bagi ambulans.

“Kalau contraflow, kalau tidak ada pembatas jalan, kita alihkan ke contraflow. Kalau tidak ada jalur contraflow, kita coba buka jalur kanan atau jalur cepat. Tapi kita tidak bisa fokus hanya di jalur cepat, karena kepadatan kendaraan biasanya sangat padat, jadi kita maksimalkan membuka jalur sampai depan,” ujarnya lagi.

Di situlah keberanian mereka diuji. Mereka sadar betul, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Karena itu, setiap pengawalan dilakukan dengan prosedur ketat. Jarak aman antara motor pengawal dan ambulans dijaga sekitar 30 meter agar sopir ambulans tetap memiliki ruang untuk mengerem jika ada kondisi darurat.

“Kalau jarak pengawalan kita dan ambulance itu harus 30 meter. Jadi sewaktu-waktu ada kondisi urgent di depan, driver ambulance masih bisa ngerem. Kalau terlalu mepet itu bisa membahayakan kita sendiri,” paparnya.

Mereka juga rutin melakukan pelatihan, setidaknya enam bulan sekali. Bagi mereka, menjadi relawan bukan berarti bekerja asal-asalan. Ada disiplin, evaluasi, dan tanggung jawab besar yang terus diasah.

“Kita selalu membuat pelatihan, kadang enam bulan sekali. Kita perbaiki lagi apa saja yang kurang lengkap, kita perbaiki lagi,” katanya.

Indonesian Escorting Ambulance Pontianak- Kubu Raya mneggelar silaturahmi sesama an gota berbagi edukasi tentang pengawalan ambulance. SUARAKALBAR.CO.ID/DOK-IEA

Yang membuat kisah mereka semakin menyentuh adalah satu hal. Semua dilakukan dengan dana pribadi.

Tak ada sponsor. Tak ada donatur tetap. Bahkan ketika salah satu anggota mengalami kecelakaan saat bertugas, biaya perbaikan kendaraan dan pengobatan ditanggung sendiri.

“Dan untuk anggaran atau sifatnya biaya saat kita kecelakaan, kita pakai dana pribadi tanpa donatur sama sekali,” terang Opik.

Mereka pun kerap ditawari uang oleh keluarga pasien sebagai bentuk terima kasih. Namun tawaran itu hampir selalu mereka tolak.

Bukan karena merasa lebih. Tapi karena sejak awal mereka telah menanamkan niat bahwa misi ini bukan ladang penghasilan.

“Sama sekali kita tidak ada donatur dan kita tegaskan di sini kita tanpa dipungut biaya sepeser pun. Jadi niatnya kita membantu orang yang sedang mengalami musibah. Bahkan kita tidak ada biaya jika kita diminta tolong untuk mengawal. Tidak ada biaya,” tegasnya.

“Sering kita mau dikasih uang, tapi kita berusaha sebisa mungkin untuk menolak. Balik lagi, tujuan kita untuk membantu dan tidak mengharapkan biaya sepeser pun,” lanjut Opik.

Di tengah zaman ketika banyak hal diukur dengan nilai materi, pilihan mereka terasa seperti pengingat sederhana. Masih ada orang-orang yang bergerak hanya karena kemanusiaan.

Mereka mungkin bukan tenaga medis. Mereka juga bukan keluarga pasien. Tetapi di jalan raya, mereka menjadi garda pertama yang memastikan ambulans bisa melaju tanpa hambatan.

Bagi masyarakat, kehadiran mereka ternyata memberi dampak besar.

“Kalau untuk masyarakat alhamdulillah respon positif sekali. Banyak yang mendukung adanya kami. Mungkin karena mereka merasa terbantu, atau mungkin keluarganya pernah kita bantu di jalan. Respon negatif sangat sedikit, respon positif lebih sering kita jumpai,” katanya.

Di akhir perbincangan, Opik menyampaikan satu harapan sederhana kepada seluruh pengguna jalan.

Harapan yang sebenarnya tidak sulit dilakukan, tetapi bisa berarti hidup bagi seseorang yang sedang terbaring di dalam ambulans.

“Harapan kami kepada masyarakat jika ada ambulance sudah terdengar sirenenya di jalan, harapan kami tidak banyak menepilah sebentar, berikan kami jalan untuk lewat. Karena yang kami bawa ini bukan orang sehat, yang kami bawa ini orang sakit. Mungkin dengan adanya kebaikan masyarakat yang bisa menepi sebentar bisa menyelamatkan nyawa seseorang yang berada di ambulans,” pungkasnya.

Di jalan raya, mereka bukan sekadar pengawal ambulans.

Mereka adalah penjaga harapan anak-anak muda yang memilih melawan risiko, menantang kemacetan, dan menukar waktu serta tenaga mereka demi satu kemungkinan paling berharga yakni seseorang bisa pulang hidup-hidup.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play