SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Jepang Pangkas Insentif EV BYD, Proteksi Industri Lokal?

Jepang Pangkas Insentif EV BYD, Proteksi Industri Lokal?

BYD Racco EV merupakan mobil listrik mungil buatan BYD yang hanya dipasarkan di Jepang. Kebijakan baru Jepang membuat BYD Racco EV tidak lagi terjangkau. (BYD)

Suara Kalbar – Langkah ambisius raksasa otomotif Tiongkok, BYD, untuk menaklukkan pasar otomotif Jepang kini menemui jalan buntu yang terjal. Meski baru saja memperkenalkan model mobil listrik mungil atau “Kei car” untuk menarik minat konsumen lokal, BYD justru mendapatkan pukulan telak dari kebijakan terbaru pemerintah Jepang terkait insentif kendaraan listrik (EV).

Pemerintah Jepang dilaporkan telah memangkas subsidi untuk kendaraan BYD secara drastis, yakni lebih dari 50 persen. Insentif yang sebelumnya mencapai kisaran 350.000 hingga 400.000 yen (sekitar Rp 35 juta-Rp 40 juta) kini merosot tajam menjadi hanya 150.000 yen atau sekitar Rp 15 juta saja. Penurunan ini dianggap sebagai hambatan besar bagi merek yang sedang naik daun tersebut.

“Alasan di balik pemangkasan ini sebenarnya cukup sederhana namun strategis. Jepang tengah merevisi skema subsidi EV miliknya agar lebih memprioritaskan kendaraan yang menggunakan paket baterai hasil produksi manufaktur lokal,” sebut Carscoops, Jumat (3/4/2026).

Mengingat BYD merupakan produsen terintegrasi yang menggunakan baterai buatan Tiongkok, secara otomatis mereka tidak memenuhi kriteria baru untuk mendapatkan insentif maksimal. Langkah ini dilihat oleh banyak pengamat sebagai upaya nyata pemerintah Jepang untuk memproteksi industri otomotif dalam negerinya dari gempuran merek-merek Tiongkok.

BYD sendiri bukanlah lawan sembarangan di mana tahun lalu mereka berhasil menduduki peringkat sebagai produsen mobil terbesar keenam di dunia, sebuah pencapaian yang mulai mengancam dominasi pabrikan tradisional Jepang. Berbanding terbalik dengan nasib BYD, merek-merek domestik Jepang justru mendapatkan dukungan penuh.

Toyota bZ4X, misalnya, tetap menikmati subsidi tertinggi mencapai 1,3 juta yen (sekitar Rp 130 juta). Begitu pula dengan Nissan Ariya yang meskipun akan mengalami sedikit penyesuaian di tahun 2027, tetap mendapatkan angka subsidi yang jauh di atas angka yang diterima oleh BYD.

Menariknya, kemurahan hati pemerintah Jepang ini tidak hanya dinikmati oleh merek lokal. Tesla, perusahaan asal Amerika Serikat, justru mengalami kenaikan subsidi hingga mencapai 1,27 juta yen. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena Tesla menggunakan sel baterai produksi Panasonic, perusahaan elektronik raksasa asal Jepang, sehingga dianggap berkontribusi pada ekonomi lokal.

Beberapa merek luar negeri lainnya seperti Audi dan Hyundai juga sempat merasakan kenaikan subsidi bulan ini karena adanya kemitraan strategis atau penggunaan komponen tertentu. Namun, laporan dari Nikkei Asia menyebutkan bahwa perlakuan istimewa ini tidak bersifat permanen; subsidi untuk merek-merek tersebut dijadwalkan akan ditinjau kembali dan kemungkinan dipangkas mulai Januari mendatang.

Menanggapi situasi ini, Atsuki Tofukuji selaku pimpinan BYD di Jepang, menyatakan keprihatinannya yang mendalam. Ia menyebut bahwa saat ini BYD berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan karena selisih harga akibat subsidi dengan kompetitor seperti Toyota mencapai hampir 1 juta yen. Dengan kesenjangan harga sebesar itu, sangat sulit bagi brand pendatang baru untuk bersaing secara sehat di pasar yang sangat proteksionis tersebut.

Sumber: Beritasatu.comn

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play