SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Kapuas Hulu Fenomena LGBT Di Kalimantan Barat, HWCI Kalbar Buka Suara

Fenomena LGBT Di Kalimantan Barat, HWCI Kalbar Buka Suara

Ilustrasi LGBT. SUARAKALBAR.CO.ID/Pixabay

Kapuas Hulu (Suara Kalbar) – Fenomena penyimpangan prilaku seks atau kerap kali disebut sebagai Kaum LGBT mulai merambah di Provinsi Kalimantan Barat, tak hanya menyebar ke Kota-kota besar, kini fenomena seperti ini mulai ditemukan di Pelosok Provinsi, seperti yang terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu.

‎Fenomena ini kemudian menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat, bahkan, prilaku menyimpang ini kerap kali di pertontonkan dengan cara diposting oleh pelaku penyimpangan itu sendiri melalui media sosialnya.

‎Menyikapi hal tersebut, Ketua Humanity Women Children Indonesia (HWCI), Eka Nurhayati Ishaq buka suara, pihaknya meminta untuk tetap mengedepankan akhlak.

‎”Kita sebagai masyarakat yang berpegang pada nilai agama tentu memiliki pandangan tersendiri terhadap LGBT. Namun dalam menyikapinya, penting untuk tetap mengedepankan akhlak, tidak membenci orangnya, dan menghindari sikap merendahkan,” kata Eka saat dikonfirmasi pada Minggu (12/04/2026).

‎Eka kemudian mengatakan bahwa, perlunya pendekatan terhadap pelaku penyimpangan tersebut tanpa memyinggung dan menimbulkan permusuhan.

‎”Pendekatan yang penuh hikmah, nasihat yang baik, dan doa jauh lebih mulia daripada celaan atau permusuhan. Kami memahami bahwa fenomena LGBT saat ini semakin terlihat di tengah masyarakat, termasuk di Kalimantan Barat. Namun sebagai masyarakat yang berpegang pada nilai agama, budaya, dan norma sosial, kami tidak mendukung maupun menormalisasi perilaku tersebut,” tambahnya.

‎Eka juga menegaskan, pihaknya sangat menentang prilaku penyimpangan ini, dan tentu juga perlu mengedepankan nilai agama, sosial dan budaya yang ada.

‎”Kami memandang bahwa LGBT tidak sejalan dengan nilai agama, norma sosial, dan budaya yang kami yakini. Meski demikian, kami tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Setiap individu harus diperlakukan dengan hormat, tanpa kekerasan, tanpa perundungan, dan tanpa diskriminasi yang merendahkan martabat,” tuturnya.

‎Kemudian dikatakanya lagi bahwa, perbedaan pandangan seharusnya disikapi dengan bijak, melalui pendekatan yang santun, edukatif, dan penuh hikmah, bukan dengan kebencian atau tindakan yang melampaui batas.

‎”Mari kita jaga bersama nilai-nilai yang kita yakini, sekaligus menjaga kedamaian dan keharmonisan di tengah masyarakat, namun perlu digaris bawahi, peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak, terutama untuk memberikan pemahaman bahwa hanya ada dua gander saja, yaitu lahir sebagai laki-laki atau sebagai perempuan sesuai kodrat yang telah ditentukan oleh Allah,” pungkasnya.

‎Penulis : Iqbal Meizar

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play