Buku dan Film Dokumenter Wayang Gantung Singkawang Diantara Jejak yang Tertinggal Dilaunching
Singkawang (Suara Kalbar) – Sanggar Seni Adinda Kota Singkawang menyelenggarakan launching buku dan film dokumenter Wayang Gantung Singkawang diantara jejak yang tertinggal di Taman Rekreasi Teratai Indah Singkawang, Minggu (12/4/2026).
Diantaranya juga ditampilkan pementasan wayang gantung yang dihadiri Djiu Tiam Fuk, Chin Kun Tong serta tim pengiring musik Delapan Dewa. Sayangnya Maestro lainny, Ajan saat ini dalam kondisi sakit sehingga tidak dapat hadir.
Hadir juga diantaranya Anggota DPRD Kota Singkawang Mesy Tandora, sejumlah budayawan Kota Singkawang, MABT Kota Singkawang serta tokoh masyarakat dan instansi pemerintah diantaranya dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang dan Diskominfo dan instansi lainnya.
Tampak kegiatan ini dimeriahkan dengan para tim film dokumenter seperti produser Richo Faridho Eduardo serta Sutradara sekaligus penulis, Haris Supiandi
“Alhamdulilah hadir tokoh-tokoh terkait baik tokoh masyarakat, budayawan dan Alhamdulillah bisa terlaksana atas bantuan teman-teman,” ujar Ketua Sanggar Seni Adinda Kota Singkawang Juniartuty.
Dia menjelaskan bahwa budaya gantung sudah hampir punah dan pihaknya tergugah agar anak cucu kedepan dapat bisa melihatnya.
“Kami juga membuat versi anak-anak wayang gantung juga pernah ditampilkan di sejumlah sekolah dan cafe. Respon orangtua sangat senang dan berharap wayang gantung bisa dihidupkan kembali,” paparnya.
Djiu Tiam Fuk atau akrab disapa Pak Afuk (77), selaku dalang wayang gantung Singkawang berharap ada penerus dari pemain wayang gantung Singkawang kedepannya.
Anggota DPRD Kota Singkawang Messy Tandora memberikan apresiasi kepada kegiatan launching buku dan film dokumentar serta pementasan wayang gantung Singkawang.
“Ini sangat positif dalam melestarikan keseneian dan budaya wayang gantung ada buku dan pemutaran film dan menjadi bukti nyata konkret kesenian wayang gantung di Kota Singkawang,” paparnya.
Sutradara sekaligus penulis, Haris Supiandi, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap keberlanjutan Wayang Gantung Singkawang. Melalui riset yang dimulai sejak 2017, pihaknya kini memproduksi buku dan film audio-visual sebagai langkah nyata menyelamatkan warisan budaya yang telah dinyatakan rawan punah oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XII Kalimantan Barat.
“Kami bergerak karena adanya kegelisahan terhadap objek budaya ini. Sangat penting bagi kami untuk merespons kondisi seni yang terancam punah ini,” jelas Haris.
Pada tahun 2024, upaya pelestarian ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan RI. Haris mengakui bahwa tantangan terbesar dalam proses produksi ini adalah mencari keberadaan para maestro yang tersisa.
“Secara pengalaman pribadi, tingkat kesulitannya adalah menemukan maestro wayang gantung karena mereka sudah tidak lagi terhimpun dalam satu kelompok atau rumah yang memang terpisah agak jauh,” paparnya.
Dari belasan praktisi di masa lalu, kini hanya tersisa tiga orang maestro yang masih hidup, yakni Afuk, Akun, dan Ajan. Dokumentasi ini diharapkan menjadi basis data penting agar pengetahuan tentang Wayang Gantung Singkawang tidak hilang ditelan zaman.
Penulis : Hendra
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






