SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak Tudang Manre Sipulung 2026, Tradisi Makan Bersama Bugis Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan

Tudang Manre Sipulung 2026, Tradisi Makan Bersama Bugis Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan

Para tamu undangan Tudang Manre Sipulung tengah menikmati hidangan makanan khas Bugis. SUARAKALBAR.CO.ID/Fajar Bahari

Pontianak (Suara Kalbar) Tradisi makan bersama masyarakat Bugis, Tudang Manre Sipulung, kembali digelar oleh Forum Komunikasi Orang Bugis Kalimantan Barat pada Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Pontianak, Minggu (8/3/2026), itu menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat dengan diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi masyarakat.

Hidangan khas Bugis disajikan di atas hamparan kain putih yang disusun memanjang. Ratusan orang tampak duduk bersila, saling berbincang dan berbagi cerita sembari menunggu waktu berbuka puasa.
Dalam bahasa Bugis, tudang berarti duduk, manre berarti makan, dan sipulung berarti bersama. Tradisi ini tidak sekadar makan bersama, melainkan menjadi simbol kebersamaan, persaudaraan, serta ungkapan rasa syukur.

Kegiatan yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan ini semakin terasa hangat. Sebelum berbuka puasa, para tamu disuguhkan berbagai pertunjukan budaya Bugis. Irama musik tradisional dan gerak tarian membuka acara dengan nuansa budaya yang kental.

Ketika hidangan mulai disajikan, beragam kuliner khas Bugis menggugah selera para tamu. Di antara sajian pembuka terdapat jalangkote, doko-doko, bolu peca, serta kurma. Sementara menu utama menghadirkan burasa, lepat lau, sambal udang kentang, coto Makassar, hingga rendang.

Minuman khas seperti kopi Toraja Sapan dan Seko turut menghangatkan suasana kebersamaan. Untuk hidangan penutup, para peserta menikmati es pisang ijo dan saraba yang menambah kenikmatan berbuka puasa.

Bagi masyarakat Bugis, setiap hidangan yang disajikan bukan sekadar makanan. Sajian tersebut membawa cerita tentang tradisi, perjalanan, serta identitas budaya yang tetap dijaga meskipun berada jauh dari tanah asal.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, yang turut menghadiri kegiatan tersebut menilai tradisi Tudang Manre Sipulung memiliki nilai budaya dan religius yang penting untuk terus dilestarikan.

“Ini patut dilestarikan karena ada nilai religi yang bisa diambil dari acara tudang manre sipulung. Ini memberikan kesan kebersamaan, gotong royong, selain juga mempererat silaturahmi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kota Pontianak mendukung kegiatan seni, budaya, dan religi yang dapat memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

“Saya sudah sampaikan dalam sambutan bahwa Pemerintah Kota Pontianak memberikan support dan dukungan kepada siapapun yang menyelenggarakan kegiatan seni budaya religi yang dikemas sebagai entertain dan ekonomi kreatif. Selain melestarikan budaya leluhur, juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Pontianak yang juga menjadi panitia penyelenggara, Anggi Febri Ardika, mengatakan tradisi makan bersama ini memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan berbuka puasa.

“Duduk makan bersama ini adalah kita makan sambil berdiskusi, menyelesaikan permasalahan dan saling menjalin silaturahmi antar umat beragama,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun, khususnya pada bulan Ramadan, sebagai upaya menjaga dan melestarikan adat serta budaya Bugis di Kalimantan Barat.

“Insya Allah ke depan kita akan lakukan hal yang sama demi melestarikan adat dan budaya, dan semoga dapat terus dilakukan di bulan suci Ramadan. Estimasi peserta sekitar 600 orang dari beberapa organisasi kemasyarakatan,” pungkasnya.

Penulis: Fajar Bahari

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play