Pakar Harvard Bongkar 6 Mitos Nutrisi yang Selama Ini Dipercaya Banyak Orang
Suara Kalbar – Banyak orang percaya bahwa mengonsumsi protein sebanyak mungkin adalah kunci sehat, atau beranggapan olahraga berat dapat mengimbangi kebiasaan makan berlebihan. Namun, para ahli di Universitas Harvard justru menegaskan sebaliknya.
Dr Ezekiel J Emanuel, spesialis kanker dari Universitas Harvard (AS), berpendapat bahwa rahasia umur panjang bukan terletak pada tren jangka pendek seperti diet keto atau detoks. Alih-alih mengejar tren, ia menyarankan pola makan berkelanjutan.
Berikut adalah enam kesalahpahaman tentang nutrisi yang sebaiknya Anda tinggalkan:
1. Ngemil Selalu Dianggap Berbahaya
Masalahnya bukan pada aktivitas ngemil, melainkan jenis makanannya. Kebanyakan orang memilih makanan ultra-olahan seperti keripik atau kue kering yang sarat zat aditif pemicu ketagihan. Faktanya, camilan sehat seperti kacang-kacangan, yogurt, atau buah justru membantu menstabilkan kadar gula darah dan memberikan asupan protein serta serat agar kenyang lebih lama.
2. Obsesi Konsumsi Protein Berlebih
Banyak orang terjebak tren bubuk protein dan daging merah. Padahal, kecuali bagi orang berusia di atas 60 tahun (butuh 1,2 g per kg berat badan) atau atlet, orang dewasa normal hanya butuh sekitar 0,8 g/kg. “Penggunaan bubuk protein berlebih bukanlah solusi optimal,” ujar pakar.
Prioritaskan protein alami dari ikan, kacang-kacangan, dan yogurt.
3. Suplemen Serat Dianggap Setara Serat Alami
Diet tinggi serat memang mengurangi risiko diabetes dan kanker, tetapi suplemen bukanlah jalan pintas. Suplemen biasanya hanya mengandung satu jenis serat, sehingga gagal meniru kompleksitas nutrisi yang ditemukan dalam sayuran dan buah-buahan utuh.
4. Mitos Susu Rendah Lemak Lebih Baik
Anggapan bahwa susu murni memicu obesitas belum terbukti secara ilmiah. Penelitian menunjukkan konsumen susu murni justru memiliki tingkat obesitas yang lebih rendah dibanding konsumen susu skim. Produk “rendah lemak” sering kali mengandung tambahan gula berlebih untuk mengimbangi rasa yang hilang akibat kekurangan lemak.
Ilustrasi susu – (Freepik/Istimewa)
5. Anggapan Bahwa Semua Lemak Itu Buruk
Lemak telah disalahkan secara tidak adil selama dekade terakhir. Akibatnya, orang beralih ke karbohidrat olahan dan gula yang memicu lonjakan angka diabetes. Lemak sehat dari minyak zaitun, kacang-kacangan, dan cokelat hitam justru krusial bagi tubuh. Mengonsumsi setengah sendok makan minyak zaitun sehari bahkan dapat mengurangi risiko kematian hingga 19%.
6. Olahraga Digunakan untuk Mengimbangi Makan Berlebih
Anda tidak bisa “menghapus” dosa pola makan buruk dengan olahraga. Tubuh memiliki mekanisme kompensasi energi yang membuat pembakaran kalori harian cenderung konsisten terlepas dari tingkat aktivitas. Olahraga sangat baik untuk suasana hati dan persendian, namun apa yang Anda makan adalah penentu utama kesehatan jangka panjang.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






