Mengenal Skizofrenia, Penyakit Mental Kronis yang Mengubah Cara Berpikir dan Hidup
Suara Kalbar – Gangguan kesehatan mental, salah satunya skizofrenia tidak boleh dipandang sebelah mata. Penyakit mental satu ini ternyata banyak diidap oleh masyarakat Indonesia. Dikutip dari laman resmi Cross River Therapy, perusahaan terapi perilaku yang fokus pada terapi applied behavior analysis (ABA), Indonesia merupakan negara dengan prevalensi skizofrenia tertinggi dengan jumlah sekitar 829.735 orang yang mengidap gangguan tersebut.
Bagi sebagian orang awam, skizofrenia mungkin terdengar cukup asing jika dibandingkan gangguan kesehatan mental lainnya seperti depresi, serangan panik, atau kecemasan yang lebih populer. Lalu apa sebetulnya yang dimaksud dengan skizofrenia, apa saja gejala, faktor risiko, komplikasi, hingga bagaimana pengobatan dari gangguan kesehatan mental satu ini? Dilansir dari Healthline, Senin (19/1/2026), yang telah ditinjau secara medis oleh dokter Yalda Safai, berikut penjelasan seputar skizofrenia.
Definisi
Skizofrenia adalah kondisi gangguan kesehatan mental kronis yang dapat mengubah cara seseorang dalam berpikir, bertindak, dan merasa. Gejalanya bisa cukup parah sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari, hubungan, dan aktivitas seperti sekolah atau bekerja seseorang.
Laki-laki biasanya menunjukkan gejala pada akhir masa remaja atau awal usia 20-an, sementara perempuan pada akhir usia 20-an atau awal usia 30-an (dewasa muda).
Gejala (Awal dan Lanjutan)
Gejala awal gangguan ini umumnya muncul pada masa remaja dan awal usia 20-an. Pada usia ini, gejala-gejala awal lebih sering terabaikan karena mencerminkan perilaku remaja tertentu.
Gejala awalnya meliputi suka mengisolasi diri dari teman dan keluarga, fokus atau konsentrasi yang berubah, mengubah pertemanan atau kelompok sosial, masalah tidur, gelisah, sulit mengerjakan tugas sekolah hingga menurunnya prestasi akademik, cemas, hingga merasa berbeda dari orang lain.
Sementara untuk gejala lanjutan, terbagi menjadi tiga kategori berbeda yakni gejala positif, negatif, dan kognitif. Istilah positif dan negatif memiliki konotasi yang berbeda di sini. Gejala positif berarti adanya tambahan pikiran atau tindakan pada pengalaman seseorang yang biasanya dialami. Sedangkan gejala negatif adalah tidak adanya atau hilangnya perilaku yang biasanya dilakukan.
Gejala positif skizofrenia tidak lazim pada orang tanpa skizofrenia atau jenis penyakit mental berat lainnya, mencakup halusinasi yaitu pengalaman yang tampak nyata tetapi sebetulnya hanya diciptakan oleh pikiran orang itu sendiri. Contohnya melihat sesuatu, mendengar suara, atau mencium sesuatu yang tidak dialami orang lain di sekitar individu tersebut.
Kedua ada delusi, terjadi ketika seseorang mempercayai sesuatu meskipun ada bukti atau fakta yang bertentangan. Selanjutnya paranoid, ketika seseorang sangat tidak percaya pada orang lain atau sangat yakin dirinya sedang diikuti atau disiksa.
Gejala negatif skizofrenia meliputi terjadinyaa penurunan kemampuan berbicara, respons emosional yang aneh terhadap situasi, kurangnya emosi atau ekspresi diri, hilangnya minat atau antusiasme terhadap kehidupan, sulit merasa senang, susah memulai atau menyelesaikan rencana dan kesulitan menyelesaikan aktivitas sehari-hari normal.
Kemudian ada gejala kognitif, yang disebut karena menggambarkan seseorang yang mengalami kesulitan dengan fungsi mental tertentu. Gejalanya meliputi pikiran atau ucapan yang tidak terorganisir, seperti ketika seseorang mengubah topik dengan cepat saat berbicara atau menggunakan kata atau frasa buatan sendiri, lupa, sulit fokus atau memperhatikan, sulit mempelajari dan memahami informasi serta menggunakannya untuk membuat keputusan,
Penyebab
Sejauh ini, penyebab pasti skizofrenia tidak diketahui. Namun, para peneliti dalam bidang medis menyakini sejumlah faktor bisa menjadi pemicu skizofrenia, yaitu faktor biologis, genetik, dan lingkungan. Penelitian menunjukkan, tes pencitraan yang dilakukan pada penderita skizofrenia dapat menunjukkan kelainan pada struktur otak tertentu.
Faktor Risiko
Meskipun penyebab skizofrenia masih belum diketahui, para peneliti percaya faktor genetik bisa berperan dalam terciptanya gangguan ini. Individu dengan riwayat keluarga skizofrenia memiliki risiko lebih tinggi untuk memiliki dan mengembangkan skizofrenia.
Sejumlah faktor risiko lain untuk skizofrenia, termasuk terpapar racun, virus, atau kekurangan gizi sebelum lahir atau selama masa bayi, menggunakan obat-obatan yang mengubah pikiran, menjalani hidup dalam situasi yang sangat menegangkan, dan mengonsumsi obat-obatan yang mengubah pikiran pada usia remaja atau dewasa muda.
Komplikasi
Skizofrenia adalah penyakit mental serius yang tidak boleh diabaikan atau dibiarkan tanpa pengobatan karena bisa meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti melukai diri sendiri, mengakhiri hidup, kecemasan, fobia, depresi, penyalahgunaan alkohol atau narkoba dan memicu timbulnya masalah dalam keluarga atau hubungan sosial lainnya, sulit mandiri secara finansial karena sulit bekerja, sehingga berisiko lebih tinggi mengalami kualitas hidup yang lebih rendah.
Pengobatan
Sayangnya, sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan skizofrenia secara keseluruhan hingga tuntas. Perawatan yang ada saat ini berfokus pada bagaimana cara mengelola atau mengurangi keparahan gejala.
Penting untuk pasien skizofrenia mendapatkan perawatan dari psikiater atau ahli kesehatan mental yang profesional dan berpengalaman dalam menangani penderita gangguan ini. Perawatan yang diterapkan meliputi sebagai berikut:
- Obat antipsikotik adalah pengobatan yang paling umum untuk skizofrenia. Obat ini membantu mengelola halusinasi, delusi, intervensi psikososial yang termasuk terapi individual untuk membantu pengidap skizofrenia dalam mengatasi stres.
- Pelatihan sosial, metode ini dapat meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi pasien skizofrenia.
- Rehabilitasi vokasional dapat memberikan pengidap skizofrenia keterampilan yang dibutuhkan untuk kembali bekerja, sehingga bisa membantu mempermudah pasien tetap bisa mempertahankan pekerjaannya.
- Dukungan dan edukasi keluarga, jika Anda atau seseorang terdekat telah diagnosis skizofrenia, dukungan dari keluarga dan teman dapat membantu mengurangi stres dan menciptakan perasaan inklusi.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






