SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Menjaga Tradisi “Siaddampe’ngeng” Perayaan Idul Fitri di Desa Wajok Hilir

Menjaga Tradisi “Siaddampe’ngeng” Perayaan Idul Fitri di Desa Wajok Hilir

Salah satu Keluarga di Desa Wajok HIlir, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat Makan Bersama usai sholat Idul Fitri dan Siaddampe’ngeng.[SUARAKALBAR.CO.ID/Diko Eno]

Mempawah (Suara Kalbar)- Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Wajok Hilir, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, masih menjaga erat tradisi Siaddampe’ngeng dalam perayaan Idulfitri.

Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi simbol kuatnya tali silaturahmi dan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat Bugis yang telah lama bermukim di desa tersebut.

Secara harfiah, Siaddampe’ngeng dalam bahasa Bugis berarti saling memaafkan dan kembali memulai dari awal. Momen ini menjadi waktu yang dinanti-nantikan, di mana masyarakat saling berkunjung ke rumah kerabat, tetangga, dan sesepuh desa untuk meminta maaf dan mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang.

Bagi warga Wajok Hilir, tradisi ini adalah bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam pelaksanaannya, Siaddampe’ngeng dimulai dengan para generasi muda mengunjungi rumah orang yang lebih tua untuk meminta maaf dan bersilaturahmi.

Ucapan yang sering digunakan dalam tradisi ini adalah Mellauddampe’ng, yang berarti meminta maaf dari yang muda kepada yang tua, serta Taddampe’ngakka, yang bermakna ungkapan maaf yang tulus.

Menurut Arifin, salah satu tokoh masyarakat Wajok Hilir, tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Bugis.

“Sebagai bagian dari budaya Bugis, kami tetap menjaga nilai adab dan tradisi ini, terutama dalam menghormati orang tua serta memperkuat kebersamaan,” ujarnya, Jumat (4/4/2025).

Lebih dari sekadar ajang bermaafan, Siaddampe’ngeng juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial tanpa memandang perbedaan status. Seluruh lapisan masyarakat saling mengunjungi, berbagi kebahagiaan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Meskipun modernisasi semakin pesat, masyarakat Wajok Hilir tetap berusaha melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

“Kami berharap generasi muda tetap menjaga warisan ini agar tradisi Siaddampe’ngeng terus hidup dan menjadi bagian dari perayaan Idulfitri di masa mendatang,” tambah Arifin.

Baginya, Lebaran bukan hanya tentang hidangan khas atau pakaian baru, tetapi lebih pada makna menjaga silaturahmi dan memperkuat persaudaraan. Tradisi Siaddampe’ngeng menjadi bukti bahwa nilai-nilai luhur budaya Bugis tetap lestari, meski zaman terus berkembang.

“Budaya tidak harus luntur oleh modernisasi, justru dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan sosial serta membangun kebersamaan yang lebih erat dalam setiap perayaan Idulfitri,” pungkasnya.


Penulis:
Diko Eno

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play