Opini  

World Environment Day 2024: Momentum Kobarkan Semangat Peduli Sungai

Prastomo

Oleh: Irawan Prastomo

Intensitas hujan yang cukup tinggi di sejumlah wilayah di Kabupaten Landak telah menyebabkan banjir di beberapa wilayah, terutama di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Landak sejak Selasa (22/05/2024) lalu.

Akibat banjir tersebut Pemerintah Kabupaten Landak telah mengeluarkan status tanggap darurat yang tertuang pada Surat Keputusan Nomor: 265/BPBD/2024 yang berlaku selama 45 hari terhitung mulai tanggal 22 Mei hingga 6 Juli mendatang. Banjir yang terjadi telah menyebabkan ribuan warga landak mengungsi.

Diketahui banjir merupakan peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Banjir kerap sekali terjadi pada musim hujan, dan dapat menyebabkan kehilangan harta benda maupun korban jiwa.

Permasalahan Daerah Aliran Sungai (DAS)

DAS Landak merupakan Daerah Aliran Sungai Landak meliputi Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Landak, yang sebagian besar telah mengalami perkembangan yang berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan, dimana perubahan tersebut dapat menyebabkan nilai koefisien aliran permukaan cenderung mengalami peningkatan sehingga banjir mudah menggenang (Della, dkk., 2021).

Kawasan sempadan sungai di DAS sering terdampak banjir yang berasal dari luapan air sungai. Banjir tersebut pada umumnya disebabkan oleh permasalahan pertumbuhan penduduk, ekonomi, sosial, budaya, kebutuhan hidup akan sandang, pakaian dan perumahan. Permasalahan di DAS bukan hanya disebabkan karena adanya degradasi lingkungan dan perubahan iklim, namun juga karena perilaku individu. Kejadian banjir selama beberapa tahun terakhir terus meningkat dan menyebabkan kerugian bagi masyarakat yang terdampak banjir.

Momentum Kobarkan Semangat Kepedulian Pada Sungai

Permasalahan banjir dan air yang khususnya terjadi di sungai dalam beberapa tahun ke belakang terus meningkat secara signifikan. Tidak hanya masalah sampah, namun juga masalah penyempitan luas sungai dan alih fungsi sungai. Berbagai permasalahan ini tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah dan tidak dapat selalu diatasi melalui pembangunan infrastruktur. Namun juga perlu melalui pendekatan non struktural seperti partisipasi dan kolaborasi melalui aksi nyata dari berbagai stakeholder, diantaranya: masyarakat, akademisi dan swasta.

Partisipasi aktif yang dapat dilakukan diantaranya pengayaan vegetasi dengan menanam pohon di lahan kritis/daerah aliran sungai, menambah luasan kawasan lindung, sosialisasi kepada masyarakat di DAS Landak seperti pendekatan dan edukasi agar dapat memahami pentingnya menjaga lingkungan dan pentingnya mengelola lingkungan untuk meminimalisir daerah berpotensi banjir. Yang semuanya kembali pada upaya merevitalisasi semangat kita semua untuk lebih peduli dengan sungai. Karena sungai ini adalah sumber kehidupan kita. Kita tidak akan punya air kalau sungai-sungai kita kering.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) 2024 pada tanggal 5 Juni 2024, adalah momentum membangkitkan kembali kepedulian untuk menjaga sungai. Mengambil tema Land Restoration, Desertification and Drought Resilience (Restorasi Lahan, Penggurunan, dan Ketahanan terhadap Kekeringan). Menumbuhkan semangat kepedulian semua, bahwa sungai adalah masa depan kita.

* Penulis adalag dari Komunitas ALAM / Perencana Ahli Muda

Penulis: Tim LiputanEditor: Kundori