News  

Bappenas RI Tekankan Pentingnya Isu Air di Forum Air Dunia

Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas Medrilzam berbicara dalam konferensi pers Pusat Informasi PBB (UNIC) di Jakarta, Kamis (16/5/2024). (ANTARA)

Jakarta (Suara Kalbar)- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI menyoroti pentingnya menyuarakan isu air dalam Forum Air Dunia (World Water Forum), mengingat ancaman krisis air yang tidak hanya akan terjadi di dalam negeri, tetapi juga di seluruh dunia.

Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas, Medrilzam, menyampaikan bahwa isu air menjadi perhatian penting karena ketersediaan air tawar di dunia semakin berkurang, sementara kebutuhan akan air untuk kehidupan sehari-hari semakin meningkat.

“Jadi, (isu air) ini yang sekarang betul-betul harus bisa jadi concern (perhatian) kita,” kata Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas Medrilzam dalam konferensi pers Pusat Informasi PBB (UNIC) di Jakarta, Kamis.

Medrilzam mengatakan bahwa isu air menjadi persoalan yang sangat penting karena ketersediaan air tawar di dunia semakin berkurang, sementara kebutuhan terhadap air untuk kehidupan sehari-hari semakin besar.

Pernyataan itu didasarkan pada data yang menunjukkan bahwa dari total air yang terdapat di alam, ketersediaan air tawar hanya sebanyak 2,5 persen.

Dan dari 2,5 persen air tawar tersebut, hanya 1,2 persen di antaranya adalah air permukaan. Sementara itu, dari 1,2 persen air yang ada di permukaan tersebut, air yang benar-benar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia jumlahnya sangat kecil.

“Jadi, bumi kita memang airnya banyak, tapi ternyata fresh water yang bisa dimanfaatkan itu kecil sekali,” katanya.

Medrilzam lebih lanjut menyebutkan data tentang rasio kebutuhan terhadap ketersediaan air itu sendiri (water stress), yang diprediksi akan sangat besar pada 2050.

Data tersebut menunjukkan bahwa pada 2050, lebih dari separuh penduduk dunia diperkirakan akan berada di wilayah yang mengalami kelangkaan air cukup parah.

Kemudian pada 2050, sekitar 1,6 miliar orang diperkirakan akan menghadapi risiko banjir, sementara kebutuhan air secara global juga diprediksi akan meningkat 20-25 persen.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa frekuensi kekeringan ekstrem dan berkepanjangan akan meningkat, sementara orang-orang di daerah perkotaan yang menghadapi kelangkaan air juga diprediksi akan meningkat dua kali lipat dari 930 juta jiwa pada 2016 menjadi 1,7 hingga 2,4 miliar jiwa pada 2050.

Dengan semakin banyak ancaman krisis yang akan dihadapi masyarakat di seluruh dunia, Medrilzam menilai isu dan upaya penanganan terhadap isu air perlu diserukan lebih lagi, terutama di dalam Forum Air Dunia (World Water Forum) ke-10 yang akan digelar di Bali pada 18-25 Mei 2024.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS