Peringati Milad ke 111 Muhammadiyah Ini Pesan Ketua PDM Sanggau 

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sanggau M Hasbi. (SUARAKALBAR.CO.ID/Darmansyah)

Sanggau (Suara Kalbar) – Muhammadiyah di Kabupaten materi Sanggau peringati Milad ke 111 Muhammadiyah yang jatuh pada tanggal 18 November 2023 atau 114 tahun pada tanggal 8 Dzulhijjah 1445 H.

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sanggau M Hasbi, menyampaikan Muhammadiyah yang didirikan oleh Muhammad Darwis atau yang lebih dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 kini telah Milad ke-111 dalam hitungan kalender masehi, tepatnya tanggal 18 November 2023.

Persyarikatan Muhammadiyah memasuki gerbang abad kedua, tepatnya tahun kesebelas di abad keduanya. sekian kemajuan telah diwujudkan dan dunia pun mengakuinya. Tentu bukan puja-puji yang tengah dituju oleh Muhammadiyah, tetapi amal sholeh untuk sebanyak mungkin kebermanfaatan untuk umat manusia, dengan kata kunci Islam berkemajuan.

Dikatakannya, Muhammadiyah meneguhkan diri tidak akan menjadi organisasi yang mandek dan berpuas diri. Namun akan selalu memodernisasi geraknya, adaptif pada tiap tuntutan zaman, dan mantap dalam aksi-aksi perubahan yang menggembirakan.

“Risalah Islam berkemajuan menjadi keputusan penting muktamar ke-48 di Solo sebagai bagian dari rumusan idiologi Muhammadiyah. Dalam perspektif Muhammadiyah, Islam merupakan agama yang berkemajuan (din al-hadlarah), yang kehadirannya membawa rahmat bagi semesta kehidupan, ” ujar M Hasbi.

Lebih lanjut, M Hasbi menuturkan bahwa Islam yang berkemajuan memancarkan pencerahan bagi kehidupan dengan lima karakteristik pilar utama, yaitu berlandaskan pada Tauhid, bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah, menghidupkan Ijtihad dan Tajdid, mengembangkan Wasathiyah dan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.

Pada usia Muhammadiyah yang genap 111 tahun dalam hitungan kalender Masehi, Muhammadiyah tetap menunjukkan konsistensi dan makin bertumbuh memberikan andil pada umat dan bangsa.

“Walaupun kita akui masih banyak kekurangan yang harus terus kita perbaiki untuk terus menjaga dan menumbuhkan spirit awal berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan amal dan pelayanan umat,”ungkap Hasbi, Rabu (22/11/2023).

Adapun tema Milad Muhammadiyah kali ini ‘Ikhtiar Menyelamatkan Semesta’, tema tersebut dipilih karena Muhammadiyah memandang bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja. dalam hal ini, ada dua tantangan berat dan kompleks yang dihadapi oleh umat manusia. pertama,perang dengan eskalasi yang semakin meluas.

Mulai dari perang antara Rusia dengan Ukraina yang melibatkan berbagai kekuatan besar dunia. konflik dan kudeta di afrika yang terus merembet ke negara kawasan. ketegangan di laut natuna yang tak kunjung reda. dan yang terbaru, meletusnya perang antara Israel dengan Hamas yang menyebabkan krisis kemanusiaan di jalur gaza Palestina.

“Kedua,tantangan perubahan iklim (Climate Change) yang sejatinya telah menjadi kesadaran global dan sekaligus menjadi konsen bagi muhammadiyah sejak dua dekade terakhir,”katanya.

Diangkatnya tema tersebut tidak lepas dari keseriusan dan komitmen Muhammadiyah dalam membangun kehidupan yang damai, adil, dan penuh dengan kesadaran terhadap alam.

“Peningkatan suhu bumi yang semakin menuju ke titik ekstrim mendorong Muhammadiyah untuk ikut andil memberikan solusi penyelamatan bumi. Muhammadiyah sebenarnya telah memberikan perhatian yang serius terhadap perubahan iklim sejak Muktamar di Makassar,”jelasnya.

Bagi umat Islam, bergerak untuk perubahan ikhtiar menyelamatkan semesta memiliki banyak landasan teologis berasal dari Al Qur’an, di antaranya tertuang dalam surat Ar Rum ayat 41 yang menyebutkan kerusakan lingkungan disebabkan ulah tangan manusia. Disisi lain kerusakan alam juga bisa disebabkan oleh kebijakan pembangunan yang tidak mempertimbangkan keseimbangan ekologi.

Selain itu juga tata kelola transportasi umum yang masih semrawut dan abai dengan energi terbarukan juga memberi andil dalam mempercepat datangnya ‘kiamat’.

Begitupun di sektor pangan atau pertanian, terjadinya perubahan iklim juga berdampak pada pergeseran kalender tanam para petani, misalnya, musim kemarau dan hujan yang sulit diprediksi menjadikan kalender tanam mundur. Selain itu tanaman setelah ditanam sering kebanjiran akibat curah hujan yang ekstrim.

Kesadaran tentang menjaga semesta masih rendah, termasuk di kalangan umat beragama. padahal Muhammadiyah jauh sebelum ini sudah menulis dokumen penting tentang teologi lingkungan. dokumen ini diperkuat dengan putusan muktamar tentang global warming.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS