Opini  

Lebaran Ajang Kenangan Terindah

Syafaruddin Daeng Usman pendiri Poesaka dan Pustaka.[HO-Dok Pribadi]

“Di barat, matahari tenggelam, pada ujung garis laut yang terhampar. Unggas undan bersahutan, saling sapa dan berkata dengan bahasanya. Pada ketika itu pula, seruan azan berkumandang. Pertanda saatnya maghrib, isyarat berakhir sudah Ramadhan yang dijalani. Dan menanda, Syawal menjelma.”

Catatan Ringan Syafaruddin Daeng Usman

Semilir dingin angin berhembus. Tak kencang, namun dingin menusuk ke relung kalbu. Sejuk menggigil menyelinap dalam raga. Dan, rasa hampa tiba-tiba menjelma seketika.

Teringat pada waktu yang sudah, pada masa yang lewat, pada ketik yang lalu, pada suatu saat di tempo dulu. Terkenang pada kedua orang insan yang dimuliakan dalam hidupku. Teringat akan belai kasih dan sentuhan sayangnya. Terlintas menjelma di pelupuk mata, pada matahati, kedua orang terkasih orang tercinta, Bapak dan Emakku sayang.

Empat puluh lima tahun lampau, usiaku ketika itu lima tahunan. Usia kanak-kanak, umur anak kecil yang masih manja. Seperti senja ini, sebagaimana sore ini, serupa menjelang malam ini, bagaikan waktu seketika ini, demikian itulah kala itu. Kala ketika aku dimanja dibuai dibelai. Bersama menanti azan bersahut, bersama memasuki hari bahagia, esok untuk berlebaran.

Hampir setengah abad yang lampau, di malam takbir menggema, aku dituntun dibimbing Bapakku, belajar bertakbiran. Bersama melangkah ke langgar atau surau dekat rumah kami. Lalu mengikuti Bapakku, duduk bersimpuh sebagaimana juga yang lainnya, sehabis maghrib berlanjut bertakbiran. Hingga larut malam, sampai dekat batas waktu, pertanda Ramadhan sudah pergi dan Syawal datang kemari.

Malam-malam di akhir Ramadhan, malam bahagia penuh sukacita, kanak-kanak bahagia untuk berhari raya di esok harinya. Begitu pun aku, dibawa Bapakku ke langgar, lalu pulang ke rumah dan ditimang tidurkku, esok subuhnya dibangunkan dan selepas berbenah segala sesuatunya menuju masjid untuk sholat Id.

Empat puluh lima tahun yang telah berlalu … Berdiri aku memaku bumi memancang langit. Namun tak tegak lurus. Anak kecil yang masih suka ke sana kemari, berkejaran bermain-main dengan anak-anak yang lain. Sukacita bersama orangtua dan keluarga merayakan Idul Fitri.

Dengan penuh bahagia, sukacita menyatu dalam makna yang ada pada naluri anak kecil, aku dipeluk didekap dimanja Bapak dan Emakku. Kucium tangan keduanya, mereka pun mencium keningku dengan penuh kasih sayang.

Empat puluh lima tahun yang telah melintas … Kini, serasa waktu kanak-kanak itu dulu, berdiri aku menatap ke sekelilingku. Kuterawang sekitar, kulepas pandang, kuingat semua yang kusimak, kini di umur limapuluh tahun ini, semua telah jadi kenangan. Tak ada Bapak dan Emakku lagi, mereka telah pergi ke negeri abadi, tinggallah aku merenung mengingat dan mengenang sendiri.

Lamunanku mengembang, anganku melayang, kenangan kian membayang. Dan, semuanya menjadi pertemuan, pertemuan impian dan kenangan.

Di hari ini, aku bukan kanak-kanak lagi. Panjang sudah waktu dijalani, jauh sudah masa dilintasi, kini aku mengingat dan merenung ke suatu ketika ke suatu masa. Dan, lebaran empat puluh lima tahun yang lalu di hari ini adalah lebaran yang membuncah ingatan pada kedua orang terkasih.

Selamat berlebaran Bapak dan Emak, mohon ampun dan maaf lahir batin

Penulis  adalah Syafaruddin Daeng Usman,  Peminat Kajian Sejarah dan Budaya Kontemporer Kalimantan Barat.