Penting Bagi Tenaga Pendidik, Kepala Kemenag Mempawah Ungkapkan Makna Moderasi Beragama

Kepala Kantor Kemenag Mempawah Hasib Arista saat membuka Pelatihan Pendidikan Moderasi bagi guru/kepala/pengawas madrasah angkatan II di Gedung PLHUT Kemenag Mempawah, Senin (13/3/2023). SUARAKALBAR.CO.ID/Foto. IST

Mempawah (Suara Kalbar) – Balai Diklat Keagamaan Jakarta menggelar Pelatihan Pendidikan Moderasi bagi guru/kepala/pengawas madrasah angkatan II di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mempawah, 13-18 Maret 2023.

Secara resmi kegiatan dibuka Kepala Kantor Kemenag Mempawah Hasib Arista, di Gedung Pelayanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT) Komplek Kemenag Mempawah, Jalan Raden Kusno, Senin (13/3/2023).

Hasib Arista menjelaskan implementasi moderasi beragama merupakan program prioritas nasional Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

“Moderasi beragama mendapat perhatian serius dari Kementerian Agama. Peran strategis ini termaktub dalam kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7272 Tahun 2019 Tentang Pedoman Implementasi Moderasi Beragama Pada Pendidikan Islam,” jelasnya.

Melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 dan 184 Tahun 2019, imbuh Hasib Arista, Kemenag mendorong madrasah untuk melakukan beberapa langkah penguatan peserta didik melalui guru.

“Guru memiliki tiga hal penting yang harus disampaikan kepada peserta didik, yaitu pentingnya pendidikan anti korupsi, pendidikan moderasi beragama dan pendidikan karakter,” katanya.

Melalui KMA tersebut, lanjut Hasib Arista, madrasah diberikan ruang untuk berinovasi dalam peneguhan moderasi beragama dengan berbagai cara, diantaranya setiap guru mata pelajaran wajib menanamkan nilai moderasi beragama kepada peserta didik.

Penanaman nilai ini, imbuh Hasib Arista lagi, bersifat hidden curriculum yang terwujud pada bentuk pembiasaan, serta pemberdayaan dalam harian peserta didik, dan implementasinya tidak harus tercantum dalam administrasi madrasah tetapi terealisasikan.

Ia pun menjelaskan moderasi beragama merupakan sikap, cara pandang, mindset, cara berperilaku menjalankan agama dengan sifat tawassuth (tengah tengah), tawazun (seimbang), dan sifat toleransi (menghargai hak hak orang lain).

“Moderasi beragama menjadi hal penting yang harus diteguhkan pada peserta didik di madrasah. Pada prinsipnya tujuan moderasi beragama adalah kerukunan,” ucap Hasib Arista.

Berbicara soal moderasi beragama, Hasib Arista menyebut lebih dimaknai sebagai cara pandang agama secara moderat, yakni paradigma beragama yang tidak ekstrem, baik kiri atau kanan.

Ini berarti tidak membolehkan terlalu kaku dalam memahami ajaran agama, tidak boleh terlalu bebas penggunaan akal, sehingga menempatkan akal sebagai satu-satunya tolak ukur kebenaran, dan juga tidak boleh memahami agama dengan cara membuang jauh-jauh penggunaan akal (tekstual).

Selain itu, Hasib Arista menjelaskan makna moderasi beragama lebih menekankan kepada perlunya beragama dengan sikap yang tawassuth.

Sikap ini tidak hanya tergambarkan pada pola pikir, tetapi juga harus tampak pada perilaku.

“Kondisi ini berkonsekuensi pada moderasi, bisa menjadi fleksibel sesuai dengan konteks ruang dan waktu yang mengiringinya sepanjang sesuai dengan koridor konsep moderasi itu sendiri,” jelasnya.

Dikatakan Hasib Arista, moderasi beragama menjadi suatu sikap yang sangat perlu ditanamkan ke peserta didik di madrasah, mengingat ekstremisme, radikalisme dan ujaran kebencian merupakan problem bangsa Indonesia saat ini.

“Nah, madrasah sebagai lembaga pendidikan umum berciri khas Islam perlu menjadi pionir dalam menumbuhkembangkan sikap moderat ini,” tegasnya.

Sedangkan Qomar selaku ketua panitia dan mewakili Kepala Balai Diklat Keagamaan Jakarta menyampaikan bahwa kegiatan yang berlangsung dari tanggal 13-18 maret 2023 ini diikuti sebanyak 30 peserta.

Selanjutnya ia menjelaskan tentang indikator utama keberhasilan moderasi beragama yang dapat dilihat dari empat faktor, yaitu komitmen wawasan kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan menghargai kearifan lokal.

“Dan keempat faktor tersebut harus dikuasai dan diterapkan guru kemudian diajarkan kepada peserta didik, serta perlu disosialisasikan pada orang tua wali peserta didik agar hasil pencapaiannya bisa maksimal,” jelasnya.

Kemudian, madrasah juga dituntut mempunyai manajemen andal dengan dukungan guru dan tenaga kependidikan yang memiliki sikap dan perilaku moderat.

“Termasuk juga harus bisa memanfaatkan komunitas madrasah untuk penciptaan habituasi nilai moderasi beragama pada harian kehidupan peserta didik,” katanya.

Komunitas madrasah, imbuh Qomar, juga harus bisa memunculkan networking dan kepercayaan dari masyarakat, dan harus bisa menjadi jembatan peserta didik di madrasah untuk mengimplementasikan sikap moderat pada ruang publik.

Madrasah juga diharapkan dapat menghasilkan output yang memiliki sikap dan perilaku toleran, mengakui atas keberadaan pihak lain, penghormatan atas pendapat dan tidak memaksakan kehendak dengan cara kekerasan.

“Output yang menerapkan moderasi beragama, bertakwa dan berilmu sangat dibutuhkan pada era milenial sekaligus merupakan agenda penting guna mencapai visi madrasah tahun 2030 sebagai madrasah unggul dan kompetitif,” ucap Qomar.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS