Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Membengkak, Indonesia Ajukan Utang

Pekerja dan pejabat memeriksa unit Comprehensive Inspection Train (CIT) yang baru diluncurkan di stasiun KA Cepat Jakarta-Bandung di Tegalluar, Jawa Barat, Kamis, 13 Oktober 2022. (Foto: AP/Dita Alangkara)

Suara Kalbar – Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung kembali mendapat sorotan. Pasalnya, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) berencana meminjam ke China Development Bank (CBD) sekitar Rp8,3 triliun untuk ikut menutupi pembengkakan biaya pembangunannya.

Terkait rencana pengajuan utang tersebut, Presiden Joko Widodo akhirnya mengeluarkan pendapat. Pemerintah, katanya, mendukung langkah yang akan diambil PT KCIC untuk dapat meneruskan proyek tersebut karena semua pihak harus mendukung transportasi massal.

“Sehingga yang namanya MRT, LRT, Kereta Api, Kereta Api Cepat itu menjadi sebuah keharusan bagi kota-kota besar agar moda transportasi terintegrasi di dalam kota maupun dari kota ke kota, sehingga orang tidak cenderung kepada yang namanya mobil pribadi,” ungkap Jokowi.

MRT atau mass rapid transit adalah sistem transportasi transit cepat yang menggunakan kereta rel listrik untuk beroperasi, sementara LRT atau light rail transit adalah moda transportasi berbentuk kereta dengan konstruksi ringan yang beroperasi di area perkotaan.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan, nilai pembengkakan biaya dalam proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung yang telah disepakati oleh Indonesia dan China adalah sebesar $1,2 miliar. Untuk dapat menutupi pembengkakan biaya tersebut Indonesia, lewat PT KCIC, berencana meminjam dari China Development Bank (CDB) senilai $550 juta atau sekitar Rp8,3 triliun.

“Itu porsi (pinjaman) yang kita butuhkan nanti sekitar $550 juta. Itu sudah diajukan ke CDB, kita sedang negosiasikan struktur final dan harganya. Seharusnya minggu depan akan punya struktur final dan diteken dalam bentuk ekuitas,” ungkap Wamen BUMN yang akrab dipanggil Tiko ini.

Jokowi Targetkan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Beroperasi Juni 2023

Ia menjelaskan Indonesia dan China ikut menanggung pembengkakan biaya tersebut, di mana 25 persen berasal dari setoran ekuitas, dan 75 persen berasal dari pinjaman utang. Dari porsi pinjaman tersebut, menurit Tiko, Indonesia o menanggung sebanyak 60 persen sementara China 40 persen.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS