Berkolaborasi Selebriti dan Influencer, Kemenkominfo Tingkatkan Kampanye Berpikir Kritis di Era Digital

  • Bagikan
Berkolaborasi dengan Selebriti dan Influencer, Kemenkominfo Tingkatkan Kampanye Berpikir Kritis di Era Digital

Jakarta (Suara Kalbar) – Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo) melalui Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi mengajak masyarakat Indonesia untuk terampil berpikir kritis dalam menangkal hoaks dan kejahatan dunia maya di media sosial, lewat program literasi digital terbarunya.

Acara yang digelar secara daring melalui Zoom pada 8 Oktober 2021 ini menghadirkan selebriti Indonesia dan influencer media sosial, Nikita Mirzani. Acara ini berhasil menghadirkan lebih dari 1,400 peserta secara daring.

Berbagai kampanye literasi digital tengah digalakkan di Indonesia, di antaranya lewat berbagai webinar, sesi pelatihan, dan lokakarya gratis yang digelar secara daring dan luring. Kegiatan ini dihadirkan untuk menjawab kebutuhan akan keterampilan literasi digital dasar di tengah masyarakat. Sebagai salah satu negara dengan pengguna internet aktif tertinggi di dunia, masyarakat Indonesia masih sangat terdampak oleh berbagai hoaks, cyberbullying, dan berita bohong.

Melawan hoaks dan kejahatan dunia siber

Menurut Digital Civility Index 2020, pengguna internet di Indonesia menempati urutan terakhir di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam hal sopan santun di dunia maya. Lebih dari 47% orang Indonesia yang ikut dalam survey mengakui pernah mengalami cyberbullying, sementara 19% mengaku menjadi korban pelecehan online.

Lewat diskusi bertajuk “Menjadi Kritis di Media Sosial” melalui Zoom pada Jumat lalu, selebriti dan influencer dengan 3,8 juta pengikut di media sosial, Nikita Mirzani, berbagi pengalamannya dalam melawan hoaks dan cyberbullying di media sosial.

“Berpikir kritis merupakan hal yang sangat penting dari setiap interaksi yang kita lakukan di era digital ini,” ujar Nikita Mirzani. “Karenanya, penting untuk memperkaya kemampuan kita dengan berbagai keterampilan literasi digital, sehingga kita lebih bijak dalam menyaring informasi yang diterima secara online. Penting bagi masyarakat untuk dapat mengidentifikasi sumber berita yang tepercaya, sehingga mereka tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang diterimanya.”

Nikita juga menambahkan pentingnya menumbuhkan empati dalam bermedia sosial. “Masyarakat perlu belajar memahami orang lain, khususnya mereka yang memiliki perspektif dan pengalaman yang berbeda. Dengan demikian, kita dapat menciptakan interaksi yang sehat dan bertanggung jawab di media sosial,” jelas Nikita.

Kemampuan berpikir kritis secara menyeluruh

Berpikir kritis juga menjadi topik utama yang menjadi sorotan program literasi digital oleh Kemenkominfo dan GNLD Siberkreasi. Salah satunya ialah program pelatihan public speaking daring yang menargetkan guru dan tenaga pendidik. Bertajuk “Public Speaking untuk Tenaga Pendidik,” pelatihan yang digelar pada Kamis, 7 Oktober 2021 ini melibatkan aktris dan presenter Indonesia, Nadia Mulya sebagai pemateri. Topik yang menjadi sorotan ialah pentingnya menguasai teknik public speaking yang baik dan benar bagi pengajar selama pembelajaran daring.

Pelatihan yang melibatkan 3,000 peserta secara daring ini membahas berbagai tantangan pengajaran jarak jauh yang dihadapi oleh para tenaga pendidik di Indonesia. Seperti diketahui, sejak Maret 2020, para guru dan tenaga pendidik di Indonesia harus beradaptasi ke metode pembelajaran daring dengan menggunakan berbagai platform digital. “Karenanya, penting bagi pemerintah untuk terus mengedukasi masyarakat agar sigap menghadapi masa transisi ini, salah satunya lewat program pelatihan literasi digital bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran daring yang lebih inovatif dan interaktif,” ujar Samuel A. Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo RI.

Akses webinar Siberkreasi melalui http://info.literasidigital.id dan ikuti @siberkreasi di media sosial untuk event-event selanjutnya.

 

Penulis: Tim LiputanEditor: Redaksi
  • Bagikan