15 Tahun Jualan Rujak di Sekadau, Sukarjo Mampu Sekolahkan Anak Hingga ke Jawa

  • Bagikan
Sukarjo, salah seorang penjual Rujak yang biasa berjualan didepan Alfa Mart Terminal Lawang Kuari Sekadau, Minggu (18/7/2021). SUARAKALBAR.CO.ID/ Tambong Sudiyono

Sekadau (Suara Kalbar) – Sukarjo, salah seorang penjual Rujak yang biasa berjualan di depan Alfa Mart Terminal Lawang Kuari Sekadau mampu menyekolahkan anaknya hingga ke Pulau Jawa.

Dari hasil berjualan Rujak lebih dari cukup baginya menghidupi keluarga dan menyekolahkan kedua anaknya hingga mampu membeli sebuah rumah yang ia tempati sekarang.

Pria kelahiran tahun 1973 itu hijrah ke Sekadau tahun 2006, dua minggu sebelum gempa dahsyat yang melanda kota Gudeg tersebut.

“Saya istri dan anak ke Sekadau dari Jogja itu tahun 2006, kesini langsung jualan rujak sudah kurang lebih 15 tahun. Dulunya di Jogja itu buruh pabrik,” ujarnya, Minggu (18/7/2021).

Anak pertama Sukarjo bernama Ghozaly tahun ini baru lulus dari SMK Al Munawwir Krapyak Jogjakarta dan tahun ini juga berencana akan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Sedangkan anak putri bungsunya tahun ini baru akan masuk Sekolah Dasar.

“Alhamdulillah berkat kerja keras bisa juga nyekolahkan anak mas (katanya kepada suarakalbar.co.id), Cuma anak pertama ini agak pusing juga saya, karna kalau mau kuliah itukan perlu motor, leptop, dan lain-lain, ya mudah-mudahanlah ada rejekinya,” ceritanya.

Sebenarnya ia dan istri memiliki 3 orang anak, namun anak kedua pada tahun 2008 silam meninggal dunia karena jantung bocor.

Dimasa pandemi, menurut Sukarjo penghasilannya dari berjualan rujak buah-buahan cukup terdampak. Sebelum pandemi melanda ia bisa meraup untung bersih per hari hingga Rp 200 ribu namun sekarang omzetnya menurun dibawah Rp 150 ribu itu pun kadang jualannya sering tidak habis.

“Selama jualan saya rasa masa-masa ini lah paling parah. Apalagi sebelum puasa kamaren, sepi sekali, sekarang sih agak lumayanlah udah mulai rame. Itu pun kadang jumlah buah yang saya jual saya kurangi, takut dak habis,” bebernya.

Ia berharap pandemi segera berakhir agar para pelaku usaha sepertinya dirinya bisa kembali berjualan seperti biasa. Apalagi dirinya kini sudah mempunyai tanggungan anak yang akan kuliah, maka harus ada upaya semua pihak mengembalikan kondisi ekonomi agar bisa bangkit disemua sektor.

Sukarjo berjualan mulai pagi hingga sore hari. Rujak buah yang ia jual sangat laris dan sudah lekat dilidah para penggemarnya, terutama para ibu-ibu. Satu porsi ia hargai Rp 10 ribu ada mangga manis, timun, pepaya, nanas, jambu, kedondong hingga bengkoang. Jika buah-buahan ini dinikmati dicampur dengan bumbu rujak racikannya, rasanya sungguh membuat air liur menjadi kembang.

“Saya sering beli punya pakde rujak ini (Sukarjo), rasanya enak,” kata Ummi, seorang ibu rumah tangga di Sekadau.

  • Bagikan