Makna dan Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

  • Bagikan
Dr. Muhammad Khoiri, M.Ag

“Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai
orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya.”

Oleh : Dr. Muhammad Khoiri, M.Ag

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang diistimewakan dan diagungkan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga selayaknya bagi kaum muslimin untuk turut pula mengagungkan bulan ini. Dalam sebuah hadis, Nabi Saw bersabda; Sya’ban adalah bulan dimana amal seseorang dilaporkan kepada Allah SWT dan saya senang bila amalku dilaporkan dalam keadaan saya berpuasa”.

Dalama kitab Ma dza Fi Sya’ban karyanya Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki, beliau menjelaskan “Bulan ini dinamai dengan sebutan Sya‘ban karena banyak cabang-cabang kebaikan pada bulan ini. Sebagian ulama mengatakan, Sya‘ban berasal dari Syâ‘a bân yang bermakna terpancarnya keutamaan. Menurut ulama lainnya, Sya‘ban berasal dari kata As-syi‘bu (dengan kasrah pada huruf syin), sebuah jalan di gunung, yang tidak lain adalah jalan kebaikan. 

Sementara sebagian ulama lagi mengatakan, Sya‘ban berasal dari kata As-sya‘bu (dengan fathah pada huruf syin), secara harfiah bermakna ‘menambal’ di mana Allah menambal  dan menutupi kegundahan hati (hamba-Nya) di bulan Sya’ban.

Melalui penjelasan di atas, tampak sangat jelas kandungan keistimewaan dan keutamaan bulan Sya’ban ini. Sehingga tidak heran ketika memasuki bulan ini, kaum muslimin menyambutnya dengan penuh antusias dan kegembiraan. Berbagai aneka ragam ibadah dilakukan dengan penuh semarak, mulai dari puasa, baca yasin bersama, meramaikan masjid dengan shalat wajib lima waktu dan ibadah-ibadah yang lainnya.

Terdapat kaidah umum yang sudah populer di kalangan ulama’ bahwa nilai dasar keistimewaan suatu zaman (bulan) ditentukan oleh tingkat keistimewaan peristiwa yang terjadi pada zaman tersebut. Semakin tinggi nilai keistimewaan peristiwa yang terjadi, maka semakin tinggi pula keistimewaan zaman yang melingkupinya.

Begitu pula pada bulan Sya’ban, dikarenakan banyak amalan kebaikan dan keistimewaan yang diberikan Allah Swt di dalamnya, mulai dilaporkannya amalan seseorang ke hadirat Allah Swt, dianjurkannya memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Saw dan sebagainya, sehingga menentukan tingkat keistimewaan bulan ini.

Ada pernyataan sangat baik sekali yang dikatakan Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban berkaitan dengan mengagungkan bulan Sya’ban ini, juga bulan-bulan lainnya.

اننا لا نعظم الزمان لأنه زمان ولا المكان لأنه مكان لأن هذا عندنا من الشرك. ولكن ننطر لما هو أعلى من ذلك وأعظم……..وانما ننظر اليها من حيث مقامها ووجاهتها وجاهها ورتبتها وشرفها…
Artinya; kami tidak mengagungkan zaman (bulan) karena semata zaman tersebut, dan tidak pula mengagungkan tempat karena hanya semata tempat itu. Bagi kami hal itu bagian dari perbuatan syirik. Tetapi kami melihat yang lebih besar dan agung dari itu semua….kami melihat (mengagungkan) dari sisi kedudukan, dan kemulian zaman (bulan) dan tempat tersebut”.

Bukti dari mulianya bulan Sya’ban, bisa kita lihat dari sejumlah peristiwa penting bersejarah di dalamnya. Peristiwa-peristiwa ini bisa dipandang bukan semata sebagai fakta historis tapi juga pertanda bahwa Allah memberikan perhatian spesial terhadap bulan ini.

Pertama, pada bulan Sya’ban Allah menurunkan ayat perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Mayoritas ulama, khususnya dari kalangan mufassir, sepakat bahwa ayat ini turun di bulan Sya’ban.  Oleh karena itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak shalawat di bulan Sya’ban, di samping bergegas membersihkan diri atau bertobat dari kesalahan-kesalahan yang sudah lewat guna menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Kedua, bulan Sya’ban merupakan saat diturunkannya kewajiban berpuasa bagi umat Islam. Imam Abu Zakariya an-Nawawi dalam al-Majmû‘ Syarah Muhadzdzab menjelaskan bahwa Rasululah menunaikan puasa Ramadhan selama sembilan tahun selama hidup, dimulai dari tahun kedua Hijriah setelah kewajiban berpuasa tersebut turun pada bulan Sya’ban.   

Bulan Ramadhan merupakan bulan paling mulia di antara bulan-bulan lainnya. Artinya, Sya’ban merekam sejarah penting “diresmikannya” kemuliaan Ramadhan dengan difardhukannya puasa bagi kaum mukminin selama sebulan penuh. Sya’ban menjadi tonggak menyambut bula suci sebagai anugerah besar dari Allah yang melipatgandakan pahala segala amal kebaikan di bulan Ramadhan.

Ketiga, bulan Sya’ban juga menjadi sejarah dimulainya Ka’bah menjadi kiblat umat Islam yang sebelumnya adalah Masjidil Aqsha. Peristiwa peralihan kiblat ini ditandai dengan turunnya ayat 144 dalam Surat Al-Baqarah:

  قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ  
Artinya: “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”   

Saat menfsirkan ayat ini, Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkâmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban.   

Berkaitan dengan keistimewaan dan amalan-amalan ketika memasuki malam Nisyfu Sya’ban ada hadits yang diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila datang malam nisfu Sya’ban, maka bangunlah pada malamnya dan berpuasalah siangnya. Sesungguhnya Allah turun pada malam itu sejak terbenamnya matahari ke langit dunia dan berkata, “Adakah orang yang minta ampun, Aku akan mengampuninya. Adakah yang minta rizki, Aku akan memberinya rizki. Adakah orang sakit, maka Aku akan menyembuhkannya sampai terbit fajar,” (HR Ibnu Majah).

Oleh karena itu, sudah menjadi tradisi termasuk masyarakat muslim di Indonesia ketika memasuki malam nisfu Sya’ban mereka berkumpul di masjid-masjid atau surau-surau untuk melaksanakan shalat berjama’ah, berdzikir dan membaca surat Yasin sebanyak tiga kali. Bacaan yasin pertama diniati agar diberi Panjang umur, bacaan yasin yang kedua diniatin agar terhindar dari bala, sedangkan bacaan yasin yang ketiga diniati agar mati dalam keadaan husnul khatimah.

*Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qomar Mempawah

  • Bagikan
You cannot copy content of this page