SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Mempawah Korban Sriwijaya Air: Muhammad Nur Kholifatul Amin, Pamong Belajar yang Rajin Berkebun

Korban Sriwijaya Air: Muhammad Nur Kholifatul Amin, Pamong Belajar yang Rajin Berkebun

Kepala SKB Mempawah, Ida Mulyani (kerudung putih) dan Muhammad Nur Kholifatul Amin (dua dari kanan berdiri) saat berfoto bersama pada HUT Kabupaten Mempawah beberapa tahun lalu. SUARAKALBAR.CO.ID/Dok SKB Mempawah.

Mempawah (Suara Kalbar) – Tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya
Air SJ-182 di Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021), turut menyisakan duka
mendalam bagi atasan dan rekan kerja Muhammad Nur Kholifatul Amin.

Semasa hidupnya, almarhum yang akrab disapa Haji Kholif ini,
tercatat sebagai Pamong Belajar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Mempawah,
Jalan Daeng Menambon, Kuala Secapah, Kecamatan Mempawah Hilir.

Kepala SKB Mempawah, Ida Mulyani, yang dihubungi
suarakalbar.co.id, menjelaskan, Haji Kholif adalah sosok insan pendidikan yang
baik dan amanah dalam pekerjaan.

“Tidak pernah hasil kerjanya mengecewakan. Tugas dan
tanggung jawabnya dikerjakan dengan baik dan sangat memuaskan. Kami benar-benar
merasa kehilangan dengan kepergiannya. Serasa hilang di mata,” ujar Ida Mulyani
lirih.

Latar belakang pendidikan di pesantren, tambah Ida, membuat Haji
Kholif sangat santun, rendah hati dan rajin beribadah. Ia selalu shalat tepat
waktu. Jika terdengar azan, pekerjaan ditinggalkan, ia langsung shalat.

“Budi bahasanya baik dan tidak pernah menyakitkan hati orang
lain. Terlebih sejak ia berstatus seorang haji, prilakunya semakin rendah
hati,” jelas Ida.

Dan yang paling membuat atasan dan rekan kerjanya terkesan
adalah, Kholifatul punya hobi berkebun. Di lahan kosong SKB, ada beberapa tanaman
hasil kerjanya yang telah dinikmati bersama. Misalnya, cabe, pisang dan
sayur-sayuran.

“Jangan heran, hingga saat ini, melihat pisang dan pohon
cabenya, baik saya maupun rekan-rekan kerjanya kerap teringat dengan almarhum. Kami
merasa sedih. Benar-benar kami sangat kehilangan,” ucap Ida.

Muhammad Nur Kholifatul Amin lahir di Ponorogo, 19 Mei 1974.
Pada tahun 2007, ia menjadi seorang CPNS dengan tempat tugas di SMP Sadaniang.
Kemudian, pindah tugas ke SKB Mempawah pada 2009.

“Atas kerja keras dan prestasinya, almarhum mendapat amanah
sebagai Pamong Belajar pada tahun 2010 lalu. Suatu perjalanan karir yang bagus
dan membanggakan,” nilai Ida.

Saat Kholifatul mengajukan surat ijin untuk pulang takziah
atas meninggalnya sang ayah pada Desember 2020 lalu, Ida mengaku dirinya dan
rekan kerjanya tak memiliki firasat apapun.

“Saat mengajukan surat ijin itu lah, merupakan pertemuan
terakhir kami semua dengan almarhum. Seperti biasa, dengan wajah riang dan
santun, ia menyatakan akan pulang ke Jawa bersama istrinya, Hajah Agus
Minarni,” kenang Ida.

Begitu mendengar pesawat yang ditumpangi Kholifatul dan
istrinya dinyatakan jatuh, Ida mengaku sempat shock. Begitu pula dengan rekan
kerja yang saling berkirim informasi dan berita soal jatuhnya Sriwijaya Air
tersebut.

Hingga kemarin siang, sebelum jenazah Kholifatul
teridentifikasi Tim DVI Mabes Polri, Ida dan rekan-rekan kerjanya mengaku masih
berharap mukjizat. Yakni, ia ditemukan dengan selamat.

“Namun setelah kemarin sore mendapat kabar jenazah almarhum
telah teridentifikasi, kami semua sudah pasrah. Ini sudah kehendak Allah SWT.
Ini pasti yang terbaik untuk almarhum dan istrinya,” tegas Ida.

Sejak tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air itu, di Gedung
SKB Mempawah, Ida dan seluruh rekan kerjanya rutin membacakan Surah Yasin dan
senantiasa mendoakan Kholifatul maupun istrinya.

“Sekarang, dengan telah teridentifkasinya jenazah Haji
Kholif, Insya Allah kami terus melanjutkan baca Surah Yasin di kantor hingga
hari ke 40 nanti,” ungkap Ida.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga dan
Pariwisata (Disdikporapar) Kabupaten Mempawah, El Zuratnam, dan Kepala Bidang Pendidikan
Non Formal dan Formal, Herry Purwanto, menyampaikan rasa berbelasungkawa
sedalam-dalamnya atas musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

“Semoga amal ibadah almarhum Haji Muhammad Nur Kholifatul
Amin dan istrinya, Hajah Agus Minarni, diterima Allah SWT, diampuni kekhilafannya
dan ditempatkan di surgaNya Allah SWT. Amiin,” ungkap El Zuratnam.

 

Penulis : Distra

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play