SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Cek Fakta CEK FAKTA: Heboh Penculikan Anak Beredar di Medsos, Ini Faktanya

CEK FAKTA: Heboh Penculikan Anak Beredar di Medsos, Ini Faktanya

Isi Chat Tentang Penculikan Anak.[Ist]

Pontianak (Suara Kalbar) – Isu penculikan anak kembali ramai dibahas warganet. Bahkan ada yang berkeyakinan upaya penculikan itu nyata terjadi. Seperti di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Dikabarkan, telah terjadi upaya penculikan di sana. Tepatnya di Jalan Raya Kuala Dua, depan Pondok Pesantren Darul Ulum. Tiga pekan sebelumnya juga dikabar ada upaya yang sama terjadi di jembatan persimpangan WBA, Kuala Dua.

Informasi penculikan anak ini cepat beredar di media sosial. Di platform facebook dan whatsapp. Banyak netizen yang mengunggah bahwa telah terjadi upaya penculikan anak di depan Ponpes Darul Ulum. Meski gagal menculik, penggunggah mengajak masyarakat tetap waspada adanya tindakan susulan.

Salah satunya pemilik akun facebook Rahma Smile Uye. Akun ini mengunggah tangkapan layar (screenshot) WA story yang berisi narasi sebagai berikut:

“Pemberitahuan kepada keluarga di Pematang Tujuh, barusan terjadi penculikan anak di depan Pesantren Darul Ulum. Alhamdulillah anaknya selamat. Pelakunya pakai mobil avanza warna hitam. Sekarang mobil menuju ke Rasau Jaya”.

Dalam postingan gambar tangkapan layar ini, akun Rahma juga menambahkan caption. “Hati2 buk ibuk.. Jaga anak nya barusan apat kabar..” Unggahan akun Rahma ini sudah dibagikan 192 kali oleh netizen, per tanggal 6 Maret 2020, pukul 08.18 Wib. (https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=664524720981816&id=100022728821967)

Kapolsek Rasau Jaya, Iptu Sihar Binardi Siagan menegaskan bahwa kabar penculikan anak yang disebut menuju Rasau Jaya adalah tidak benar. “Itu hoaks,” tegasnya ketika dikonfirmasi, Jumat (60/3/2020).

Postingan upaya penculikan anak di depan Darul Ulum ini dapat dipastikan setelah adanya voice note (VN) atau audio yang terlebih dahulu beredar di grup-grup whatsapp. Dalam VN berdurasi 59 detik itu, seorang pria memberikan informasi bahwa di depan rumahnya hampir terjadi penculikan anak. Berikut transkrip VN tersebut:

“Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Barusan di rumah saya, di depan rumah saya, terjadi hampir penculikan anak. Pakai mobil innova hitam. Tapi tidak sempat merekam nomor KB-nya. Mobil itu berhenti di kerumunan anak-anak yang sekolah di Ibtidayah atau SD di Darul Ulum. Mereka berhenti dan memanggil anak-anak. Hei anak-anak, sini mau duit ndak? Sini masuk mobil. Untungnya anak-anak ini sudah dikabarkan gurunya bahwa ini penculikan anak, maka anak-anak lari dari mobil itu. Dan kita mau datangi, mobil itu lari dengan cepatnya. Tolong, ini di-share ke grup-grup, ke teman-teman, bahwa penculikan itu bukan hoaks di Pontianak. Tapi memang benaran. Pelakunya berada di sekitar Pontianak”.

Postingan-postingan mengenai upaya penculikan anak di depan Darul Ulum ini menjadi momok menakutkan bagi kaum ibu. Apalagi di kolom komentar ada yang meyakinkan bahwa informasi penculikan anak itu benar adanya.

Na, seorang netizen yang dihubungi melalui layanan messenger membenarkan bahwa upaya penculikan anak di kawasan Kuala Dua. Karena, kata dia, suaminya yang merupakan anggota Senkom Mitra Polri Kubu Raya itu pernah melihat langsung upaya penculikan tersebut.

“Di Darul Ulum ini kejadian yang kedua. Tiga minggu sebelumnya juga ada. Ceritanya itu suami saya lagi antar barang. Lalu lihat ada penculikan. Anak yang mau diculik itu sekolah dekat rumah saya. Dia mau diculik di jembatan WBA, siswa pulang sekolah jalan kaki. Anak itu rumahnya di Gang Debu. Jalan kaki sekitar jam satu siang lagi,” kisah Na.

Menurutnya, percaya atau tidak itu hak orang masing-masing. Karena, sambung Na, niatnya baik agar masyarakat waspada. “Percuma komentar di grup, niat baik malah dibilang hoaks. Berfikir positif sajalah. Yang nggak percaya itu mungkin belum punya anak atau tidak punya anak kecil,” ujarnya.

Dua kejadian yang diketahui Na ini, syukurnya gagal. Ia pun tahu kala itu pelakunya menggunakan mobil warna hitam. “Kalau mobil hitam kan, pas (saat) dapat mangsa tidak tembus pandang dari luar. Orang-orang di grup pada tanya kok nomor KB-nya nggak dilihat. Hello, keadaan panik bagaimana mau lihat. Pasti anaknya dulu yang diselamatkan, nomor satu,” ujarnya.

Menurut Na, meski pelaku gagal menculik, dia tidak mau warga menganggap hal ini adalah hoaks. “Kita bilang kayak begini, itu supaya warga bisa hati-hati. Saya juga tidak mau bilang jika berita ini masih hoaks,” tutup Na.

Terkait isu penculikan anak di wilayah hukumnya, Kapolres Kubu Raya AKBP Yani Permana mengimbau agar warga tetap tenang ketika mendapat informasi. Apalagi informasi yang didapat belum pasti kejelasannya.

“Kami minta untuk warga masyarakat agar tenang, bila ada yang mengetahui informasi plat nomor kendaraan segera hubungi kepolisian terdekat dan kami akan bantu,” kata Kapolres.

Pihaknya, sambung Kapolres, berharap jika memang benar ada yang melihat gerak-gerik mencurigakan, agar segera melapor ke kantor polisi terdekat.

Isu mobil hitam berisi pelaku penculikan juga beredar di Kota Pontianak. Dalam percakapan di whatsapp grup, terdapat pengakuan bahwa anaknya nyaris diculik karena telat menjemput anaknya.

Disebutkan anak tersebut tadinya dikasih uang Rp100 ribu oleh seseorang dari mobil avanza hitam. Lalu ditolak dan sang anak pun melarikan diri. Kejadian ini disebut terjadi di depan Masjid Al Karim, Tanjung Raya II, Kecamatan Pontianak Timur.

Dikonfirmasi, anggota Polsek Pontianak Timur mengatakan bahwa informasi itu belum dapat dipastikan kebenarannya. Karena anggota yang melakukan penyelidikan di lapangan tak menemukan petunjuk adanya upaya penculikan. “Dicek di lapangan, tidak ada. Informasi yang beredar kalimatnya sama. Hanya TKP-nya saja berbeda,” tutur Aipda Husnul Mubin.

Presidium Hoax Crisis Center (HCC) Borneo, Nina Soraya mengatakan, masyarakat harusnya bisa lebih bijak jika mendapat suatu informasi. Jangan langsung membagikannya tanpa tahu kejelasan dari infomasi itu.

Karena, kata dia, di era yang sudah canggih ini sebenarnya masyarakat bisa memilah mana informasi benar atau yang masih diragukan. Namun, ia berpandangan, saat ini kebanyakan dari masyarakat hanya dengan modal informasi yang tidak valid, mudahnya jempol menyebarkan, tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

“Mari menjadi netizen yang cerdas, meningkatkan pemahaman kita akan informasi. Jangan kalah jempol dengan otak, pikir dulu baru sebar, cari yang benar dulu baru komentar,” harapnya.

Dia berharap masyarakat dapat meningkatkan literasinya. Serahkan dan laporkan kepada aparat keamanan jika ada gerak gerik yang mencurigakan. Bukan asal posting sebelum tahu kejadian sebenarnya.

“Jadi mari cerdaslah bermedia sosial. Menjadi yang pertama menyebarkan informasi tak menjadikan Anda hebat, atau menjadikan Anda yang paling tahu akan segala hal, apalagi informasi tersebut adalah informasi bohong, dan ditambah dengan asumsi sendiri,” tuturnya.

Karena, salah menyebarkan informasi bisa berakibat fatal. Ia mencontohkan seorang kakek di Mempawah beberapa tahun silam yang tewas dihajar massa karena dituduh menculik anak. Faktanya, kakek itu hanya mencari alamat rumah anaknya, karena ingin bertemu dengan cucunya. Jika informasi palsu terus beredar, tidak menutup kemungkinan orang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban salah sasaran.

“Menjaga anak-anak itu, harus kapan dan di mana pun. Bukan tunggu ada isu penculikan baru kita meningkatkan kewaspadaan. Waspada memang harus, namun bukan dengan menyebar hoaks. Ingat, jika Anda menyebar hoaks, Anda turut melakukan upaya kejahatan lainnya dalam tiap kasus yang Anda asumsikan tersebut,” pesan Nina.

Rilis Ocsya Ade P, HCC Borneo. dikemas melalui analisa profesional oleh Tim Cek Fakta HCC Borneo.

Komentar
Bagikan:

Iklan