Tiga “Pangeran” dan Seorang “Putri” Diarak dengan Dua Pesawat Bambu
Mempawah (Suara Kalbar) – Dam! Dam! Cer! Suara musik dari drum band terdengar lantang di Kelurahan Pasir Wan Salim, Kecamatan Mempawah Timur, Minggu (9/1/2022) pagi.
Warga yang berada di pasar pun seketika menoleh. Daya tarik musik dan arak-arakan begitu kuat, sehingga membuat banyak pengendara sepeda motor yang menghentikan kendaraannya.
Arak-arakan itu tampak rapi dikawal personel Satlantas Polres Mempawah.
Di belakang iring-iringan drum band, tampak dua “pesawat” dipikul atau ditandu 8-10 orang yang berjalan pelan dari arah Desa Kuala Secapah.
Di dalam replika pesawat berbahan bambu, kayu dan kertas itu, duduk empat anak berbaju kurung layaknya tiga pangeran dan seorang putri.
Suasananya pun terbilang seru. Mereka saling menyapa saat melintasi jalan raya, kemudian menuju ke kediaman keluarga besar almarhum H. Ishak Johan di Jalan Bardanadi, RT. 008/RW. 004 Kelurahan Pasir Wan Salim.
“Alhamdulillah, keluarga besar almarhum H. Ishak Johan hari ini menggelar akad nikah dan Khatamul Quran. Empat anak yang diarak dengan pesawat bambu tadi, adalah bagian dari keluarga besar almarhum,” kata Muharyadi yang mewakili pihak keluarga kepada SUARAKALBAR.CO.ID.
Menurut dia, empat anak yang diarak tersebut merupakan tradisi keluarga sebagai bentuk rasa syukur karena telah berhasil meng-khatam-kan Alquran 30 juzz.
Mereka adalah Muhammad Zimar Maulana, Fayadh Aozora Ramadhan, Muhairin Alamsyah dan Delisha Mikaela Putri.
“Dan Insya Allah, malam ini keempat anak-anak tersebut akan menampilkan kemampuannya baca Alquran di hadapan seluruh keluarga besar kami,” ujar Muharyadi.
Selain Khatamul Alquran, keluarga besar almarhum H. Ishak Johan juga menggelar akad nikah antara Reza Adriani, S.Tr TLM selaku mempelai wanita, dengan mempelai pria, Pratu Ari Budiarta.
Tokoh MABM Kabupaten Mempawah, H. Trisna Jaya dan Aryadi M. Nuh, membenarkan tradisi mengarak anak merupakan bagian dari kearifan lokal etnis Melayu.
“Itu merupakan tradisi Melayu dolok-dolok, yang mana setiap ada anak yang Khatamul Alquran akan ditandu berbentuk helikopter, pesawat, kapal dan lain-lain,” kata Trisna Jaya.
Tradisi ini disebut Beharak atau Ngarak Budak, dan biasanya diiringi bunyi-bunyian alat musik tradisional, seperti tar (rebana), tarling atau tanjidor.
“Kami di MABM Mempawah memberikan apresiasi kepada keluarga besar almarhum H. Ishak Johan yang telah turut melestarikan tradisi Beharak atau Ngarak Budak ini,” tutupnya.





