SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Ibukota Pindah, Mohon Keikhlasan Warga Jakarta

Ibukota Pindah, Mohon Keikhlasan Warga Jakarta

OLEH: ROSADI JAMANI

PEMERINTAH sudah memutuskan, ibukota negara pindah ke Kutai Kertanegara – Penajam Paser Utara (KK-PPU) Kalimantan Timur, Senin (26/8/2019). Dari Jakarta pindah ke Kaltim. Dari tanah Jawa pindah ke tanah Borneo. Pemerintah sudah memutuskan. Berikutnya tinggal menunggu keputusan politik dan regulasi. Menunggu apakah para wakil rakyat di Senayan ikut mendukung atau menolak. Kalau sempat menolak, bisa ribut urusannya. Kalau mendukung, lempeng jalannya untuk pindah.

Sebagai warga lahir dan dibesarkan di tanah Borneo, ibukota negara pindah, jelas bangga. Dalam cuitannya saya di twitter @rosadi_jamani, pindahnya ibukota adalah bentuk rasa keadilan sosial yang sudah lama dinantikan. Kalimantan itu pulau terbesar di negara ini. Kekayaan alamnya melimpah. Sayang, tingkat kesejahteraannya justru jauh dibandingkan  warga di Pulau Jawa. Sebagai contoh, untuk menghidupkan listrik di Pulau Jawa, butuh batubara dari Kalimantan. Sementara di Kalimantan banyak desa belum dialiri listrik.

Pulaunya besar, penduduknya sendikit. Penduduk Kalbar saja hanya lima jutaan. Belum lagi penduduk Kalteng pasti di bawah Kalbar. Jumlah penduduk ini hanya lawan satu kecamatan di Jawa. Sementara alokasi anggaran selalu menghitung berdasarkan jumlah penduduk. Sampai kapanpun, alokasi untuk Kalimantan pasti lebih sedikit. Wajar apabila derap pembangunan sangat lambat.

“Apa sih tak dibangun di Jawa itu. Kalau di Kalimantan, bangun jembatan itu di atas sungai. Sementara di Jawa, bangun jembatan di atas daratan.” Begitu anggapan umum warga Kalimantan memandang kemajuan Jawa.

Belum lagi soal pendidikan. Kualitasnya sangat jauh dibandingkan di Jawa. Wajar apabila ratusan ribu pelajar kuliah di perguruan tinggi ternama ke sana. Belum lagi kesehatan. Dokter spesialis menjamur. Sementara di sini, untuk menempatkan satu dokter spesialis di Puskesmas harus dibujuk dengan berbagai fasilitas.

Apalagi di bidang olahraga. Kalau atlet atau tim bila ketemu Jawa, sudah ciut duluan. Atlet dari Jawa sangat mendominasi setiap perolahan medali di even nasional. Kenapa? Karena pembinaan atlet rutin. Anggaran mereka sangat mendukung. Sementara umumnya di Kalimantan, pembinaan baru dilakukan bila ada even nasional. Kesimpulannya, antara Kalimantan dan Jawa memang jauh. Jauh tertinggal.

Ketika pemerintah di bawah Presiden Jokowi memutuskan ibukota pindah ke KK-PPU, ada harapan besar bagi seluruh warga Kalimantan Barat. Harapan akan kemajuan di segala bidang. Segala kemajuan seperti sudah di depan mata. Jalan tol, kereta api, bandara canggih, kampus modern, rumah sakit kualitas internasional, hotel bintang lima, resort, stadion megah. Kesejahteraan juga seperti sudah digenggam. Duh, senang ibukota pemerintahan pindah di Kalimantan.

Seperti habis bermimpi. Iya, memang masih bermimpi. Soalnya, pemerintah baru memulai memindahkan ibukota akhir 2020. Baru benar-benar pindah 2024. Berarti masih lima tahun lagi, barulah sang presiden dan wakil rakyat ngantor di KK-PPU.

Di tengah rasa senang dan bangga, ternyata banyak juga warga menolak ibukota pindah. Beberapa pantauan saya di media sosial, kebanyakan yang tidak setuju, sebagian warga Jakarta. Tidak semuanya ya. Sebagian warga Jakarta seperti tidak ikhlas ibukota pindah. Mereka pun melakukan perlawanan dengan mengobral komentar penolakan di media sosial. Bahkan, sudah ada demo, minta ibukota jangan dipindahkan. Seolah-olah kenikmatan sebagai warga ibukota seperti dicabut.  Mereka menjadi takut kenikmatan yang selama ini dirasakan menjadi hilang.

Wahai warga Jakarta yang selama ini dimanjakan berbagai macam kemajuan, Apapun ada di Jakarta. Sementara di Kalimantan sering jadi penonton.Akrab dengan ketertinggalan. Gigit jari saat kekayaan alamnya dinikmati orang dari Pulau Jawa. Kalimantan sudah lama menderita. Kalimantan memang iri dengan kemajuan tanah Jawa. Kalimantan sudah lama tak berdaya.

Inilah momen yang sudah lama diidamkan seluruh penghuni Kalimantan. Ingin maju seperti Jawa juga. Untuk itu, janganlah berusaha untuk menghalangi, membangun opini dengan narasi jelek tentang Kalimantan. Jangan pula ada niat menggalang kekuatan untuk menggagalkan pemindahan ibukota. Bagaimanapun Kalimantan adalah Indonesia. Kalimantan maju tentu maju untuk seluruh rakyat Indonesia.*

Penulis: Rosadi Jamani, Dosen UNU Kalimantan Barat

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play