Warga Sadaniang Kompak Tutup Kampung Dalam Rangka Ritual Balala’k
![]() |
| Ritual adat Balala’k yang digelar masyarakat Sadaniang yang ditandai dengan penutupan akses keluar masuk di Desa Sekabuk, Senin (23/3/2020) sumber foto : istimewa |
Mempawah (Suara Kalbar)- Masyarakat Adat Dayak di Kecamatan Sadaniang melaksanakan ritual Balala’k, Senin (23/03) sekitar pukul 17.00 WIB.
Selama dua hari ke depan, enam desa di kecamatan terjauh di Kabupaten Mempawah itu ditutup. Prosesi adat dipimpin langsung Plt Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Sadaniang, Paulus Luno, SH.
Dimulainya prosesi adat itu ditandai dengan pemasangan portal di wilayah Desa Sekabuk yang berbatasan dengan Kecamatan Mempawah Hilir. Portal serupa di pasang di Desa Pentek yang berbatasan dengan Kecamatan Toho.
Di tiap portal, warga memasang banner sebagai tanda peringatan sekaligus pemberitahuan tentang pelaksanaan Adat Balala’k yang akan berlangsung selama dua hari sejak tanggal 23-24 Maret 2020 di seluruh desa di Kecamatan Sadaniang.
“Adat Balala’k ini merupakan ritual masyarakat Dayak untuk menolak bala atau marabahaya. Jadi, seluruh kampung ditutup agar masyarakat di daerah itu aman dari bala atau bahaya. Dalam hal ini kita menolak bala virus Corona (Covid-19),” kata Tokoh Masyarakat Dayak Kecamatan Sadaniang, Arpian, SH.
Selama dua hari ke depan, kata Arpian seluruh masyarakat yang ada di enam desa di Kecamatan Sadaniang membatasi aktivitasnya. Bahkan, masyarakat tidak boleh keluar masuk ke kampung.
Mereka hanya melakukan aktivitas di dalam rumah dan berkumpul bersama keluarga. “Jika ada masyarakat yang melanggar ketentuan ini, maka akan dikenakan sanksi adat,” tegasnya.
Mantan Anggota DPRD Mempawah itu menjelaskan, pelaksanaan ritual adat Belala’k sebagai bentuk partisipasi dan dukungan masyarakat Dayak di Kecamatan Sadaniang terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Mempawah dalam upaya mengantisipasi penyebaran wabah Covid-19.
“Mudah-mudahan melalui upaya ini, wilayah Kabupaten Mempawah khususnya dan Kalbar umumnya dapat mengatasi masalah penyebaran virus Covid-19. Dengan demikian, mata rantai penyebaran virus ini dapat diputus dan tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban,” katanya.
Penulis : Dian Sastra
Editor : Hendra






