SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Ketika Generasi Muda Memilih Toleransi: Membangun Harmoni di Tanah Khatulistiwa

Ketika Generasi Muda Memilih Toleransi: Membangun Harmoni di Tanah Khatulistiwa

Fitri Angraeni

Oleh: Fitri Anggraeni

Perkembangan teknologi membuat generasi muda semakin mudah mengenal berbagai informasi, budaya, dan pandangan hidup. Melalui media sosial, kita dapat berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang tanpa harus bertemu secara langsung. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan, terutama ketika perbedaan agama, suku, dan budaya justru menjadi alasan untuk saling menilai atau menyalahkan.

Menurut saya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman. Toleransi tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum resmi atau diserahkan kepada pemerintah dan tokoh agama. Sikap tersebut perlu tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara kita berbicara, berteman, menggunakan media sosial, hingga memperlakukan orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah yang memperlihatkan kehidupan masyarakat dengan latar belakang agama, suku, dan budaya yang beragam. Keberagaman ini menjadi kekayaan yang perlu dirawat bersama. Karena itu, generasi muda di Tanah Khatulistiwa ini perlu menyadari bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan, melainkan kesempatan untuk belajar saling menghargai.

Berbeda Bukan Berarti Harus Bermusuhan

Perbedaan sering kali menjadi persoalan ketika seseorang lebih dahulu menilai orang lain berdasarkan identitas kelompoknya daripada mengenalnya sebagai individu. Prasangka yang dibiarkan dapat menimbulkan jarak, bahkan memicu pertentangan yang sebenarnya bisa dihindari. Padahal, setiap orang memiliki hak untuk menjalankan keyakinannya sekaligus berkewajiban menghormati hak orang lain.

Dalam pandangan saya, moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama atau mengurangi keyakinan yang dianut. Moderasi beragama justru mengajarkan bagaimana seseorang tetap teguh pada agamanya tanpa merendahkan keyakinan orang lain. Sikap ini dapat diwujudkan melalui dialog yang terbuka, kesediaan mendengarkan, dan kemampuan menyelesaikan perbedaan secara bijaksana.

Generasi muda dapat memulainya dari lingkungan terdekat. Di kampus, misalnya, kita bisa bekerja sama dalam kegiatan akademik tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai batas pertemanan. Di lingkungan masyarakat, kita dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial bersama warga lainnya. Hal-hal sederhana seperti tidak mengejek tradisi orang lain, menghormati kegiatan keagamaan, dan menghindari candaan yang menyinggung identitas tertentu merupakan bentuk toleransi yang nyata.

Media Sosial dan Tantangan Toleransi

Media sosial menjadi ruang yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda. Melalui platform digital, informasi mengenai keberagaman dapat disebarkan dengan cepat. Namun, informasi yang belum jelas kebenarannya, ujaran kebencian, dan konten yang memancing permusuhan juga mudah tersebar. Jika tidak disikapi secara kritis, media sosial dapat memperbesar prasangka terhadap kelompok tertentu.

Dalam pemberitaan Forum Kerukunan Umat Beragama Kalimantan Barat pada Februari 2026, Ketua FKUB Kalbar, Prof. Dr. Ibrahim, M.A., menekankan pentingnya peran generasi muda dalam merawat keharmonisan dan toleransi beragama sebagai fondasi kesadaran berbangsa https://kalbar.mui.or.id/2025/07/02/cegah-radikalisme-di-kalangan-muda-ketua-mui-kalbar-dorong-kolaborasi-praktis-lintas-agama/

Pesan ini menunjukkan bahwa menjaga kerukunan membutuhkan keterlibatan anak muda, termasuk dalam menghadapi tantangan di ruang digital. Bagi saya, salah satu bentuk tanggung jawab generasi muda adalah tidak terburu-buru membagikan informasi yang menyangkut agama atau kelompok masyarakat tertentu. Kita perlu memeriksa sumber informasi, membaca berita secara utuh, dan tidak mudah terpancing oleh judul yang provokatif. Jika menemukan komentar yang menghina kelompok tertentu, kita juga tidak perlu ikut memperkeruh keadaan dengan membalas menggunakan kata-kata kasar.

Dari Perbedaan Menuju Kerja Sama Nyata

Upaya membangun toleransi di Kalimantan Barat tidak hanya dapat dilakukan melalui imbauan, tetapi juga melalui kegiatan yang mempertemukan anak muda dari latar belakang berbeda. Salah satu contoh yang diberitakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat pada Juli 2025 adalah kolaborasi lintas agama yang melibatkan komunitas Sahabat Eko Bhinneka Muhammadiyah dan Suar Asa Khatulistiwa. Pemberitaan tersebut mengangkat kegiatan seperti aksi peduli lingkungan, kunjungan ke rumah ibadah, diskusi, dan edukasi keberagaman. https://kalbar.mui.or.id/2025/07/02/cegah-radikalisme-di-kalangan-muda-ketua-mui-kalbar-dorong-kolaborasi-praktis-lintas-agama/

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa toleransi dapat dibangun melalui pengalaman bersama. Anak muda tidak hanya belajar menghargai perbedaan melalui teori, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk saling mengenal dan bekerja sama. Menurut saya, kegiatan seperti ini layak menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan komunitas pemuda lainnya di Kalimantan Barat. Kita tidak harus menunggu kegiatan besar untuk mulai membangun kerukunan. Mengikuti kegiatan sosial, membantu masyarakat, menjaga lingkungan, dan membuka ruang diskusi yang sehat merupakan langkah yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Generasi Muda sebagai Penentu Masa Depan Kerukunan

Masa depan toleransi di Kalimantan Barat bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah memiliki peran masing-masing dalam menumbuhkan sikap saling menghormati. Meski demikian, generasi muda juga perlu mengambil bagian secara aktif, bukan sekadar menjadi penerima pesan tentang toleransi.

Di lingkungan pendidikan, mahasiswa dapat membangun kebiasaan berdiskusi secara terbuka dan menghargai pendapat yang berbeda. Dalam kehidupan bermasyarakat, pemuda dapat terlibat dalam kegiatan sosial yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang. Sementara itu, di ruang digital, generasi muda dapat memilih untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat dan menghindari konten yang berpotensi memecah belah.

Hal yang tidak kalah penting adalah keberanian untuk mengevaluasi diri sendiri. Sebelum menilai sikap orang lain, kita perlu bertanya apakah perkataan dan tindakan kita sudah menunjukkan rasa hormat. Apakah kita pernah menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya? Apakah kita memberikan ruang kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat? Pertanyaan seperti ini dapat membantu kita memahami bahwa toleransi juga dimulai dari kesediaan memperbaiki diri.

Generasi muda tidak harus selalu melakukan sesuatu yang besar untuk membawa perubahan. Terkadang, perubahan dimulai ketika seseorang berani menghentikan candaan yang merendahkan kelompok tertentu, meluruskan informasi yang keliru dengan cara yang santun, atau mengajak teman-temannya bekerja sama dalam kegiatan positif. Jika kebiasaan tersebut tumbuh secara luas, lingkungan yang lebih rukun akan semakin mungkin diwujudkan.

Bagi saya, memilih toleransi bukan berarti menghindari semua perbedaan pendapat. Toleransi berarti mampu menghadapi perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Sikap ini perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata, baik melalui pertemanan, kegiatan sosial, maupun cara kita menggunakan media sosial.

Generasi muda memiliki kesempatan untuk menentukan arah kehidupan masyarakat di masa mendatang. Harmoni di Tanah Khatulistiwa bukan sekadar harapan, melainkan tanggung jawab bersama yang perlu diwujudkan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, kualitas keberagaman tidak hanya ditentukan oleh banyaknya perbedaan yang kita miliki, tetapi juga oleh cara kita memperlakukan satu sama lain di tengah perbedaan tersebut.

Daftar Pustaka

Forum Kerukunan Umat Beragama Kalimantan Barat. (2026, 12 Februari). Ketua FKUB Kalbar: Generasi Muda Harus Rawat Keberagaman sebagai Kekayaan Bangsa. https://fkub-kalbar.or.id/2026/02/11/ketua-fkub-kalbar-generasi-muda-harus-rawat-keberagaman-sebagai-kekayaan-bangsa/

Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Barat. (2025, 2 Juli). Cegah Radikalisme di Kalangan Muda, Ketua MUI Kalbar Dorong Kolaborasi Praktis Lintas Agama. https://kalbar.mui.or.id/2025/07/02/cegah-radikalisme-di-kalangan-muda-ketua-mui-kalbar-dorong-kolaborasi-praktis-lintas-agama/

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Pontianak

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play