Wabup Sanggau Susana Herpena: Festival Paradje Momentum Pemulihan Pasca Karhutla, Pererat Persatuan dan Gerakkan Ekonomi
Wabup Sanggau Susana Herpena. suarakalbar.co.id/cok
Sanggau (Suara Kalbar) – Wakil Bupati Sanggau yang juga Ketua Satgas Bencana Karhutla dan Asap, Susana Herpena, mengatakan Kabupaten Sanggau saat ini telah memasuki masa transisi dari status tanggap darurat Karhutla sehingga aktivitas masyarakat dan kegiatan budaya sudah bisa kembali dilaksanakan.
Hal itu disampaikannya usai pembukaan Festival Paradje Pesaka Negeri ke-XVIII di Istana Surya Negara Sanggau, Rabu (07/10/2026).
“Menghadapi karhutla kemarin kita tanggap darurat, namun di masa transisi ini kita sudah bisa melaksanakan aktivitas. Tentunya salah satu kegiatan Festival Paradje yang ke-18 di Kabupaten Sanggau di Istana Surya Negara ini,” ujar Susana.
Menurutnya, festival budaya ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian adat, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi untuk mempererat hubungan antar warga serta mendorong pergerakan ekonomi masyarakat.
“Tentunya kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan juga mempererat hubungan serta mendorong bergeraknya ekonomi,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Sanggau, lanjut Susana, selalu mendukung penuh kegiatan budaya. Ia menyebut ada sembilan paguyuban di Sanggau yang akan dilibatkan dalam event besar selanjutnya.
“Pemerintah Kabupaten Sanggau, tentunya saya bersama dengan Bapak Bupati selalu mendukung. Kedepannya akan ads kegiatan Festival Sabang Merah yang diikuti oleh sembilan paguyuban. Nanti di bulan November akan kita atur, karena kemarin kendala terkait Karhutla juga, memang beberapa kegiatan event termasuk olahraga banyak terkendala,” jelasnya.
Susana menegaskan, keberagaman suku di Sanggau adalah kekayaan yang harus dijaga. Melayu, Dayak, serta berbagai paguyuban seperti Batak, Madura, Tionghoa dan lainnya merupakan satu keluarga besar.
“Budaya ini tentunya mempererat rasa persaudaraan kita, bahwa yang ada di Kabupaten Sanggau adalah Melayu dan Dayak dan beberapa paguyuban yang tentunya merupakan salah satu kekayaan kita yang harus tetap kita jaga. Karena Sanggau adalah rumah kita, kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya. Dari kita untuk kita,” tegasnya.
“Dan tentunya kerukunan ini yang harus menjadi komitmen, jangan sampai terpengaruh oleh dunia luar atau orang-orang luar. Contohnya kegiatan hari ini bisa berjalan. Tadi di sambutan Raja Sanggau juga menyampaikan bahwa Dayak dan Melayu adalah menjadi satu kesatuan, nenek moyang mereka adalah satu dan tentunya beberapa paguyuban seperti Batak, Madura, Jawa, Tionghoa dan lainnya ini semua merupakan bagian dari keluarga kita. Mari kita jaga untuk Sanggau Maju Berkelanjutan dan Berkeadilan,” sambungnya.
Di sisi lain, Susana juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada memasuki musim hujan. Pasca tanggap darurat Karhutla, Sanggau kini menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, badai, dan tanah longsor.
“Untuk pasca menghadapi transisi ini ada beberapa dampak. Kemarin kita juga melaksanakan rakor, tentunya kita menyampaikan pesan juga kepada masyarakat untuk tetap menjaga serta waspada dini karena akan terjadi hujan juga tentunya badai dan beberapa tempat juga akan diperkirakan terjadi longsor,” ungkapnya.
Pemkab bersama Forkopimda akan terus siaga. Laporan dari BMKG yang diterima saat rakor bersama Gubernur Kalbar menyebutkan 14 kecamatan di Sanggau berpotensi terdampak, terutama wilayah pesisir atau bantaran sungai yang rawan banjir dan wilayah perbukitan yang rawan longsor.
“Upaya ini akan terus kita selalu siaga, nanti kita akan rapat bersama seluruh jajaran Forkopimda bagaimana untuk mengatasi ini,” tutupnya.
Penulis: Darmansyah






