Sudah Lelah tapi Sulit Tidur? Ini Sejumlah Penyebab yang Perlu Diketahui
Suara Kalbar – Rasa lelah setelah menjalani aktivitas seharian tidak selalu membuat seseorang langsung tertidur. Dalam kondisi tertentu, tubuh bisa terasa sangat lelah, tetapi mata tetap sulit terpejam ketika sudah berada di tempat tidur.
Kemampuan tubuh untuk mulai tidur dipengaruhi oleh sejumlah mekanisme, terutama ritme sirkadian dan tekanan tidur. Keduanya bekerja bersama untuk mengatur kapan tubuh berada dalam kondisi terjaga dan kapan waktunya beristirahat.
Dilansir dari National Institute of General Medical Sciences (NIGMS), ritme sirkadian merupakan sistem internal tubuh yang bekerja dalam siklus sekitar 24 jam. Sistem ini membantu mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk pola tidur dan rasa kantuk.
Selain ritme sirkadian, tubuh memiliki mekanisme yang disebut tekanan tidur. Semakin lama seseorang terjaga, semakin besar tekanan tidur yang terbentuk sehingga tubuh secara alami terdorong untuk beristirahat.
Namun, kedua mekanisme tersebut dapat terganggu oleh berbagai faktor. Akibatnya, seseorang dapat merasa lelah secara fisik, tetapi tubuh belum berada dalam kondisi yang mendukung untuk segera tertidur.
Kondisi tersebut juga dapat diperburuk oleh pikiran yang terus aktif. Kekhawatiran karena tidak kunjung tidur justru dapat membuat seseorang semakin memperhatikan kondisi tubuhnya dan sulit mencapai keadaan rileks.
Sistem Saraf Berperan dalam Proses Tidur
Kemampuan seseorang untuk tertidur tidak hanya ditentukan oleh rasa lelah. Kondisi sistem saraf juga berperan dalam membantu tubuh beralih dari keadaan aktif menuju kondisi yang lebih rileks.
Ketika seseorang mengalami stres atau ketegangan, sistem saraf simpatik dapat tetap aktif. Sistem ini berkaitan dengan respons tubuh terhadap situasi yang dianggap membutuhkan kewaspadaan.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami peningkatan kewaspadaan, detak jantung, atau ketegangan meskipun secara fisik sudah merasa lelah.
Sebaliknya, aktivitas sistem saraf parasimpatik berkaitan dengan kondisi tubuh yang lebih tenang dan rileks. Peralihan menuju keadaan tersebut merupakan bagian dari proses yang membantu tubuh mempersiapkan diri untuk tidur.
Karena itu, rasa lelah tidak selalu menjadi satu-satunya penentu seseorang dapat langsung tertidur. Kondisi pikiran, lingkungan, kebiasaan sehari-hari, dan ritme tubuh juga ikut berpengaruh.
Penyebab Sulit Tidur meski Tubuh Sudah Lelah
Ada sejumlah kebiasaan dan kondisi yang dapat membuat seseorang tetap sulit tidur meskipun tubuh sudah terasa lelah. Berikut beberapa di antaranya.
1. Pola Tidur Tidak Teratur
Jadwal tidur dan bangun yang sering berubah dapat mengganggu ritme sirkadian. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih sulit mengenali kapan waktunya beraktivitas dan kapan harus beristirahat.
Menjaga waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari dapat membantu tubuh mempertahankan pola tidur yang lebih teratur.
2. Tidur Siang Terlalu Lama
Tidur siang dapat membantu mengurangi rasa lelah, tetapi durasi dan waktunya perlu diperhatikan. Tidur siang terlalu lama atau dilakukan terlalu sore dapat mengurangi rasa kantuk pada malam hari.
Akibatnya, seseorang mungkin sudah merasa lelah setelah beraktivitas, tetapi belum cukup mengantuk ketika waktu tidur tiba.
3. Kecemasan dan Pikiran yang Terus Aktif
Malam hari yang tenang terkadang justru membuat berbagai persoalan kembali memenuhi pikiran. Pekerjaan, masalah keluarga, keuangan, maupun kekhawatiran mengenai hari berikutnya dapat membuat otak tetap aktif.
Keinginan untuk segera tidur juga terkadang berubah menjadi tekanan tersendiri. Ketika seseorang terus memikirkan, “Mengapa saya belum tidur?”, proses untuk rileks justru dapat menjadi semakin sulit.
4. Konsumsi Kafein
Kafein merupakan zat stimulan yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa kantuk. Efeknya dapat bertahan selama beberapa jam setelah dikonsumsi.
Karena itu, minum kopi, teh, minuman energi, atau produk berkafein lainnya pada sore maupun malam hari dapat mengganggu tidur, terutama pada orang yang sensitif terhadap kafein.
Waktu terakhir mengonsumsi kafein sebaiknya disesuaikan dengan sensitivitas masing-masing orang. Sebagian orang mungkin tetap merasakan efeknya beberapa jam setelah konsumsi.
5. Terlalu Lama Menggunakan Perangkat Elektronik
Penggunaan ponsel, tablet, laptop, atau televisi menjelang tidur juga dapat membuat seseorang lebih sulit beristirahat.
Paparan cahaya dari layar dapat memengaruhi mekanisme tubuh yang berkaitan dengan waktu tidur. Selain itu, aktivitas seperti bermain gim, menonton video, membaca berita, atau berselancar di media sosial dapat membuat pikiran tetap terstimulasi.
Mengurangi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang bagi tubuh dan pikiran.
6. Makan Terlalu Banyak Menjelang Tidur
Makan dalam jumlah besar atau terlalu dekat dengan waktu tidur dapat membuat tubuh masih aktif melakukan proses pencernaan ketika seseorang mulai beristirahat.
Pada sebagian orang, kondisi tersebut juga dapat memicu rasa tidak nyaman, seperti begah atau gejala refluks, yang akhirnya mengganggu proses tidur.
Karena itu, mengatur waktu dan porsi makan pada malam hari dapat menjadi salah satu bagian dari kebiasaan tidur yang lebih baik.
7. Kurang Aktivitas Fisik dan Paparan Cahaya Alami
Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu menjaga pola tidur. Sebaliknya, kurang bergerak sepanjang hari dapat membuat tubuh tidak memperoleh dorongan alami yang cukup untuk beristirahat pada malam hari.
Paparan cahaya alami pada pagi atau siang hari juga berperan dalam membantu mengatur ritme sirkadian. Kebiasaan mendapatkan cahaya matahari pada waktu yang tepat dapat membantu tubuh membedakan periode siang dan malam.
Namun, olahraga dengan intensitas tinggi terlalu dekat dengan waktu tidur justru dapat membuat sebagian orang lebih sulit rileks. Karena itu, waktu berolahraga dapat disesuaikan dengan respons tubuh masing-masing.
8. Gangguan Tidur Tertentu
Kesulitan tidur meski tubuh sudah lelah juga dapat berkaitan dengan gangguan tidur tertentu.
Sleep apnea, misalnya, dapat menyebabkan seseorang berulang kali berhenti bernapas atau mengalami penurunan aliran napas ketika tidur. Kondisi tersebut dapat membuat kualitas tidur terganggu sehingga seseorang tetap merasa lelah pada siang hari.
Ada pula restless legs syndrome yang ditandai rasa tidak nyaman pada kaki dan dorongan kuat untuk menggerakkannya. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan mempertahankan atau memulai tidur.
Gangguan ritme sirkadian juga dapat menyebabkan waktu tidur seseorang bergeser. Salah satunya adalah delayed sleep-wake phase disorder, ketika seseorang cenderung baru mengantuk dan tertidur jauh lebih larut dibandingkan jadwal tidur yang diinginkan.
Pada kondisi tersebut, seseorang mungkin sulit tidur pada malam hari tetapi baru merasa sangat mengantuk pada dini hari atau pagi.
Kesulitan tidur sesekali merupakan hal yang dapat dialami banyak orang. Namun, apabila gangguan tidur terjadi terus-menerus, berulang, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui apakah masalah tersebut berkaitan dengan kebiasaan tidur, stres, penggunaan zat tertentu, gangguan ritme sirkadian, atau kondisi medis maupun gangguan tidur lainnya.
Sumber: Beritasatu.com





