Meditasi Tak Selalu Menenangkan, Penelitian Temukan Dampak Negatif pada Sebagian Orang
Suara Kalbar – Meditasi selama ini dikenal sebagai salah satu aktivitas yang dapat membantu menjaga kesehatan mental dan fisik. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak selalu memberikan pengalaman positif bagi setiap orang.
Pada sebagian orang, meditasi justru dapat memunculkan pengalaman negatif selama atau setelah praktik dilakukan. Dampaknya beragam, mulai dari kecemasan, ketakutan, dan insomnia hingga perubahan psikologis yang dapat berlangsung dalam waktu cukup lama.
Dalam beberapa kasus, pengalaman negatif tersebut juga dikaitkan dengan munculnya gejala psikosis.
Mengutip ABC News, Rabu (16/9/2026), sekitar satu dari 10 orang yang melakukan meditasi dilaporkan dapat mengalami dampak negatif yang bertahan lebih dari 30 hari atau bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Meditasi Punya Manfaat, tetapi Bukan Tanpa Risiko
Salah satu bentuk meditasi yang cukup populer adalah mindfulness. Praktik ini digunakan dalam berbagai pendekatan untuk membantu seseorang menghadapi dan mengelola persoalan kesehatan mental.
Nicholas Van Dam, Direktur Contemplative Study Centre di University of Melbourne, mengatakan meditasi dapat membantu menangani sejumlah kondisi, termasuk kecemasan dan depresi. Praktik tersebut juga disebut dapat digunakan dalam penanganan beberapa persoalan yang berkaitan dengan penggunaan zat.
Selain itu, meditasi dapat membantu sebagian orang dalam mengelola rasa sakit pada kondisi tertentu. Manfaat tersebut antara lain berkaitan dengan penderita radang sendi dan orang yang sedang menjalani pemulihan kanker.
Dalam praktiknya, meditasi melatih seseorang untuk memusatkan perhatian sehingga fokus terhadap rasa sakit dapat berkurang. Aktivitas ini juga kerap melibatkan pengaturan pernapasan serta upaya menenangkan pikiran.
Meski memiliki sejumlah manfaat, Van Dam menekankan bahwa manfaat dan risiko meditasi perlu dibahas secara bersamaan. Menurutnya, meditasi merupakan praktik yang kuat sehingga pengalaman yang dirasakan seseorang setelah menjalaninya tidak selalu sama dengan orang lain.
Penelitian Temukan Puluhan Gejala Negatif
Willoughby Britton, profesor madya psikiatri di Brown University sekaligus Direktur Clinical and Affective Neuroscience Lab, telah mempelajari pengalaman negatif yang berkaitan dengan meditasi selama bertahun-tahun.
Bersama timnya, Britton menemukan beragam pengalaman tidak menyenangkan yang dialami orang ketika menjalani meditasi. Pada 2017, Britton dan tim menerbitkan hasil penelitian yang dilakukan selama 10 tahun dengan melibatkan wawancara terhadap lebih dari 100 praktisi meditasi Buddha.
Hasil penelitian tersebut menemukan lebih dari 50 gejala yang berkaitan dengan pengalaman negatif selama meditasi.
Salah satunya adalah hyperarousal, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami peningkatan respons kewaspadaan. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan kecemasan, ketakutan, insomnia, gerakan tubuh yang tidak disengaja, hingga luapan emosi.
Ada pula hypoarousal. Kondisi ini dapat membuat seseorang mengalami penurunan emosi, motivasi, serta rasa terhadap diri sendiri. Sebagian orang juga mengalami kondisi tidak teratur yang merupakan kombinasi dari kedua keadaan tersebut.
Penelitian itu turut mencatat adanya pengalaman berupa gejala psikosis. Pada sejumlah peserta, kondisi tersebut dilaporkan berlangsung cukup lama, dengan rata-rata antara satu hingga tiga tahun.
Pengalaman Traumatis
Laporan ABC News juga mengangkat pengalaman sejumlah orang yang mengalami dampak negatif setelah melakukan meditasi.
Salah satunya adalah Sue, perempuan berusia 70-an yang tinggal di Florida, Amerika Serikat (AS). Sue sebelumnya tertarik pada pranayama, salah satu praktik yang melibatkan pengaturan durasi serta waktu tarikan dan embusan napas.
Namun, Sue kemudian menghentikan praktik tersebut setelah mengalami apa yang disebutnya sebagai pengalaman traumatis akut yang berkaitan dengan meditasi.
Ia juga pernah mengalami sensasi seolah-olah dirinya menghilang. Pengalaman itu terjadi ketika Sue sedang sendirian di dalam mobil dan membuatnya merasa sangat ketakutan.
Kondisi tidak teratur yang dialaminya tidak langsung menghilang. Pengalaman tersebut bahkan berlangsung sekitar satu setengah tahun.
Pengalaman negatif serupa juga dialami Jane, seorang pensiunan berusia pertengahan 70-an yang telah menjalani meditasi Zen selama beberapa tahun.
Jane kemudian mengikuti retret meditasi selama lima hari. Namun, kegiatan tersebut diikuti episode kesehatan mental serius yang berlangsung dalam waktu panjang.
Ia mulai menyadari adanya masalah pada malam pertama retret. Ketika meminta bantuan kepada pengajar meditasi pada hari berikutnya, Jane justru mendapat tanggapan bahwa tidur bukan sesuatu yang diperlukan ketika bermeditasi.
Setelah kembali ke rumah, suami Jane meminta bantuan dokter. Jane kemudian mendapat diagnosis kondisi psikotik dan mania.
Dalam 20 tahun berikutnya, Jane beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit. Ia juga mendapatkan sejumlah obat antipsikotik untuk menangani kondisi tersebut.
Dampak Meditasi Berbeda pada Setiap Orang
Pengalaman negatif yang berkaitan dengan meditasi tidak hanya ditemukan pada praktik yang dilakukan dalam jangka panjang. Dampaknya juga dapat muncul setelah paparan singkat maupun meditasi yang dilakukan secara intensif.
Kondisi ini menjadi perhatian seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang menjalani meditasi. Di AS, proporsi masyarakat yang melakukan meditasi meningkat dari 10 persen menjadi 20 persen dalam kurun waktu dua dekade.
Karena itu, informasi mengenai kemungkinan risiko dinilai perlu disampaikan kepada orang-orang yang mengikuti praktik meditasi.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah masih minimnya penerapan informed consent atau persetujuan berdasarkan informasi yang memadai dalam pembahasan mengenai praktik meditasi.
Risiko Meditasi Dikenal Sejak Berabad-abad
Pembahasan mengenai dampak negatif meditasi sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru.
Pierce Salguero, profesor sejarah Asia dan health humanities di Penn State University, mengatakan tradisi Buddha telah mengenal sejumlah kondisi yang berkaitan dengan pengalaman negatif selama meditasi.
Menurut Salguero, tulisan yang berasal dari sekitar 1.500 tahun lalu telah membahas meditasi bukan hanya sebagai praktik penyembuhan, tetapi juga sebagai aktivitas yang dapat berkaitan dengan persoalan fisik dan mental.
Sejumlah istilah bahkan digunakan dalam tradisi Buddha untuk menggambarkan pengalaman tersebut, di antaranya meditation sickness, Zen sickness, dan wind disorder.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kemungkinan risiko meditasi telah muncul jauh sebelum praktik tersebut berkembang dan populer secara luas seperti saat ini.
Memahami Manfaat dan Risikonya
Berbagai temuan mengenai pengalaman negatif tidak serta-merta menghilangkan manfaat meditasi. Para ahli tetap menyebut praktik tersebut dapat membantu kesehatan mental serta pengelolaan rasa sakit dalam kondisi tertentu.
Namun, pengalaman yang dirasakan setelah meditasi dapat berbeda pada setiap orang.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya orang yang mengalami kecemasan, gangguan tidur, perubahan emosi, hingga gejala psikosis setelah melakukan meditasi.
Karena itu, pemahaman mengenai manfaat sekaligus kemungkinan efek negatif meditasi menjadi penting. Dengan demikian, praktik tersebut dapat dipandang secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari sisi manfaat, tetapi juga dengan mempertimbangkan risiko yang mungkin dialami sebagian orang.
Sumber: Beritasatu.com





