SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Gempa Tektonik dan Vulkanik, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Berbahaya?

Gempa Tektonik dan Vulkanik, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Berbahaya?

Ilustrasi gempa bumi (Freepik.com/Freepik)

Suara Kalbar – Gempa bumi dapat terjadi hanya dalam hitungan detik, tetapi guncangannya berpotensi menimbulkan dampak besar. Kerusakan bangunan, longsor, likuefaksi hingga tsunami merupakan sejumlah bahaya yang dapat muncul, tergantung pada karakter gempa dan kondisi wilayah yang terdampak.

Gempa bumi sendiri tidak hanya disebabkan oleh satu proses. Dua jenis yang sering dibahas adalah gempa tektonik dan gempa vulkanik. Keduanya sama-sama menghasilkan getaran di permukaan bumi, tetapi memiliki sumber energi dan mekanisme yang berbeda.

Perbedaan tersebut juga berkaitan dengan karakter bahaya yang ditimbulkan. Karena itu, memahami sumber dan karakteristik masing-masing jenis gempa penting untuk mengetahui risiko serta langkah mitigasi yang diperlukan.

Gempa Tektonik Terjadi akibat Pergerakan Lempeng

Gempa tektonik berkaitan erat dengan pergerakan lempeng bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa permukaan bumi tersusun atas lempeng-lempeng yang terus bergerak dan saling berinteraksi.

Pergerakan lempeng dapat berupa saling mendekat, menjauh maupun bergeser. Pada kondisi tertentu, pergerakan tersebut tertahan karena bagian batuan saling mengunci sehingga tekanan dan energi terus terakumulasi.

Ketika batuan tidak lagi mampu menahan tekanan, energi yang tersimpan dapat dilepaskan secara tiba-tiba. Pelepasan energi tersebut menghasilkan gelombang seismik yang kemudian dirasakan sebagai gempa bumi.

United States Geological Survey (USGS) juga menjelaskan bahwa gempa dapat terjadi ketika dua bagian kerak bumi tiba-tiba bergerak melewati satu sama lain pada sebuah patahan.

Karena itu, banyak gempa terjadi di sekitar batas lempeng tektonik yang memiliki aktivitas patahan cukup tinggi.

Dampak Gempa Tektonik Bisa Meluas

Besarnya magnitudo bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kerusakan akibat gempa. Kedalaman sumber gempa, jarak suatu wilayah dari sumber, durasi guncangan, kondisi tanah serta kualitas bangunan turut memengaruhi dampaknya.

Gempa dengan kekuatan besar dapat menghasilkan guncangan tanah yang merusak. Dalam kondisi tertentu, gempa juga dapat memicu bahaya sekunder seperti longsor dan likuefaksi.

Apabila sumber gempa berada di laut dan memenuhi kondisi tertentu, peristiwa tersebut juga dapat memicu tsunami. Artinya, bahaya gempa tidak selalu berhenti pada guncangan langsung.

Indonesia termasuk salah satu wilayah dengan aktivitas kegempaan tinggi karena berada di kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik besar. Kondisi geologi tersebut membuat sejumlah wilayah di Indonesia memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi.

Gempa Vulkanik Berkaitan dengan Aktivitas Gunung Api

Berbeda dengan gempa tektonik, gempa vulkanik berkaitan dengan aktivitas di dalam sistem gunung api. Pergerakan magma dan perubahan tekanan fluida atau gas di dalam gunung api dapat berhubungan dengan munculnya gempa jenis ini.

Dengan demikian, sumber gempa vulkanik tidak terutama berasal dari pergeseran lempeng seperti pada gempa tektonik.

Aktivitas kegempaan menjadi salah satu parameter yang diperhatikan dalam pemantauan gunung api. Data tersebut dapat membantu menggambarkan perubahan aktivitas yang sedang berlangsung di kawasan vulkanik.

Meski demikian, munculnya gempa vulkanik tidak otomatis berarti sebuah gunung api akan segera mengalami erupsi. Aktivitas tersebut harus dianalisis bersama berbagai parameter pemantauan lainnya.

Apa Bedanya Gempa Tektonik dan Vulkanik?

Perbedaan utama kedua jenis gempa tersebut terletak pada sumber dan proses yang memicunya.

Gempa tektonik berkaitan dengan pergerakan lempeng atau aktivitas pada patahan bumi. Sementara gempa vulkanik berkaitan dengan aktivitas di dalam sistem gunung api, termasuk pergerakan magma serta perubahan tekanan fluida atau gas.

Perbedaan sumber tersebut membuat konteks bahayanya juga tidak sama. Gempa tektonik dapat berkaitan dengan aktivitas tektonik yang memengaruhi wilayah cukup luas, sedangkan gempa vulkanik lebih berkaitan dengan kawasan di sekitar sistem gunung api.

Gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik juga dapat muncul dalam bentuk kelompok atau earthquake swarm. Sebagian besar kelompok gempa tersebut tidak berakhir dengan erupsi.

Namun, peningkatan aktivitas kegempaan dapat menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam pemantauan gunung api. Karena itu, peningkatan gempa vulkanik tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa erupsi akan segera terjadi.

Mana yang Lebih Berbahaya?

Tidak tepat jika gempa tektonik atau vulkanik secara otomatis disebut sebagai jenis gempa yang selalu lebih berbahaya. Tingkat risiko sangat bergantung pada karakter kejadian dan kondisi wilayah yang terdampak.

Gempa tektonik berkekuatan besar memiliki potensi menghasilkan guncangan yang dirasakan di wilayah luas. USGS menyebut gempa dapat menimbulkan berbagai bahaya, antara lain guncangan tanah, longsor, likuefaksi dan tsunami.

Sementara itu, gempa vulkanik perlu dilihat dalam konteks aktivitas gunung api. Guncangan yang muncul dapat menjadi salah satu petunjuk adanya perubahan aktivitas magma atau fluida di dalam sistem gunung api.

Dengan demikian, gempa tektonik besar secara umum dapat memiliki dampak guncangan yang lebih luas. Namun, gempa vulkanik tetap penting diperhatikan karena dapat menjadi salah satu parameter untuk memantau perubahan aktivitas gunung api.

Pada akhirnya, tingkat bahaya tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jenis gempa. Magnitudo, kedalaman sumber, lokasi, kondisi tanah, kualitas bangunan, serta potensi bahaya ikutannya menjadi faktor penting dalam menentukan dampak yang dirasakan masyarakat.

Gempa Belum Bisa Diprediksi Secara Tepat

Hal lain yang perlu dipahami masyarakat adalah waktu terjadinya gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat.

BMKG menyebut gempa bumi berlangsung dalam waktu singkat, dapat terjadi kembali, dan hingga kini belum dapat diprediksi maupun dicegah.

USGS juga menjelaskan bahwa para ilmuwan belum mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana sebuah gempa akan terjadi. Peneliti dapat mempelajari kemungkinan terjadinya gempa pada patahan tertentu, tetapi belum dapat menentukan tanggal dan waktu kejadian secara pasti.

Karena itu, mitigasi menjadi bagian penting dalam menghadapi risiko gempa. Masyarakat perlu memahami karakter lingkungan tempat tinggal, mengetahui jalur evakuasi, memperhatikan kondisi bangunan serta memahami langkah keselamatan ketika gempa terjadi.

Memahami perbedaan gempa tektonik dan vulkanik bukan berarti dapat menentukan kapan gempa akan terjadi. Namun, pengetahuan tersebut dapat membantu masyarakat memahami sumber bahaya dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play