SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Hujan Abu Vulkanik, Bolehkah AC Tetap Dinyalakan? Ini Penjelasannya

Hujan Abu Vulkanik, Bolehkah AC Tetap Dinyalakan? Ini Penjelasannya

Ilustrasi AC luar ruangan. (Magnific/Istimewa)

Suara Kalbar – Abu vulkanik yang terbawa angin hingga kawasan permukiman tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas udara dan kebersihan lingkungan rumah.

Partikel abu yang sangat halus dapat masuk ke dalam bangunan dan menempel pada berbagai permukaan, termasuk peralatan elektronik. Salah satu perangkat yang perlu mendapat perhatian saat hujan abu vulkanik terjadi adalah pendingin ruangan atau air conditioner (AC).

Lantas, apakah AC masih aman digunakan ketika abu vulkanik turun?

Penggunaan AC saat hujan abu perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, jenis perangkat, sistem sirkulasi udara, serta intensitas abu yang berjatuhan.

Sejumlah panduan keselamatan menyarankan masyarakat menutup rapat pintu dan jendela serta mematikan AC yang mengambil udara dari luar ketika terjadi hujan abu. Langkah tersebut bertujuan mengurangi kemungkinan abu maupun gas vulkanik masuk ke dalam rumah.

Penggunaan AC Saat Abu Vulkanik Turun

Ketika abu vulkanik mulai berjatuhan, masyarakat dianjurkan berlindung di dalam rumah dan membatasi masuknya udara dari luar.

United States Geological Survey (USGS) menyarankan pintu dan jendela ditutup serta heat pump dan AC yang mengambil udara dari luar dimatikan. Anjuran serupa juga diberikan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Selama erupsi, masyarakat diminta menutup pintu dan jendela serta mematikan pemanas, AC, dan kipas yang dapat memasukkan udara dari luar. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan abu maupun gas vulkanik masuk ke dalam ruangan.

Meski demikian, hujan abu tidak selalu berarti AC akan langsung mengalami kerusakan. Informasi dari produsen peralatan elektronik yang dikutip Inquirer Net menyebut AC masih dapat digunakan apabila abu yang turun berada dalam jumlah ringan.

AC jenis split dan window pada umumnya menggunakan udara dari dalam ruangan untuk menghasilkan udara dingin. Karena itu, dalam kondisi abu vulkanik yang masih ringan, kedua jenis AC tersebut tidak secara langsung menarik abu dari luar melalui sistem pendinginnya.

Namun, kondisi tersebut berbeda ketika hujan abu berlangsung dengan intensitas tinggi.

Risiko AC Saat Abu Vulkanik Turun Lebat

Abu vulkanik yang menumpuk pada bagian luar AC dapat memengaruhi kinerja perangkat, terutama pada unit yang berada di luar ruangan.

Concepcion Industrial Corporation (CIC), dalam unggahannya di Facebook, menyebut penggunaan AC secara terus-menerus ketika abu vulkanik turun lebat dapat menyebabkan kumparan kondensor pada unit luar tertutup atau tersumbat abu.

Kondisi tersebut dapat mengganggu proses pelepasan panas pada sistem pendingin. Akibatnya, beban kerja kompresor dapat meningkat dan risiko mengalami panas berlebih juga semakin besar.

Abu yang menumpuk pada kumparan kondensor membuat sirkulasi udara dan proses pembuangan panas menjadi tidak optimal. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, kinerja AC dapat terganggu.

Karena itu, intensitas hujan abu perlu menjadi pertimbangan sebelum AC tetap dinyalakan.

Ketika abu turun dalam jumlah banyak, mematikan AC untuk sementara dapat menjadi pilihan yang lebih aman. Langkah tersebut bukan hanya untuk membantu melindungi perangkat, tetapi juga mengurangi kemungkinan udara yang terkontaminasi abu masuk ke dalam rumah.

Langkah Aman Saat Abu Vulkanik Turun

Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan abu vulkanik sekaligus mencegah partikel masuk ke dalam rumah.

1. Tutup pintu dan jendela

Selama abu vulkanik berjatuhan, pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat. Langkah ini membantu membatasi masuknya partikel abu maupun gas vulkanik ke dalam ruangan.

USGS dan CDC sama-sama menganjurkan masyarakat berlindung di dalam bangunan dengan membatasi pertukaran udara dari luar ketika terjadi hujan abu.

2. Matikan AC yang mengambil udara dari luar

AC yang memasukkan udara dari luar sebaiknya dimatikan ketika abu vulkanik mulai turun. Hal yang sama berlaku untuk heat pump atau kipas yang memungkinkan udara luar masuk ke dalam bangunan.

Untuk AC jenis lain, keputusan penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi abu, sistem sirkulasi perangkat, serta petunjuk dari produsen.

3. Kurangi paparan langsung terhadap abu

Jika harus keluar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan perlindungan untuk hidung dan mulut serta mengurangi paparan langsung terhadap abu.

Bagi orang yang harus berada di luar ruangan atau melakukan pembersihan abu, CDC merekomendasikan penggunaan respirator N95 yang disetujui NIOSH. Perlindungan mata dan pakaian yang menutupi kulit juga dianjurkan.

Pada kondisi hujan abu yang cukup lebat, pilihan paling aman adalah tetap berada di dalam bangunan atau kendaraan dan menghindari aktivitas di luar ruangan hingga kondisi memungkinkan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play