SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Dari MotoGP ke Jalan Raya, Ini Teknologi Balap yang Kini Ada di Motor Harian

Dari MotoGP ke Jalan Raya, Ini Teknologi Balap yang Kini Ada di Motor Harian

Ilustrasi teknologi MotoGP pada motor umum. (ChatGPT/AI)

Suara Kalbar – Suara mesin, kecepatan tinggi, dan aksi saling salip menjadi daya tarik utama MotoGP. Namun, di balik performa para pembalap, terdapat teknologi yang terus dikembangkan untuk membantu motor tetap terkendali dalam kondisi ekstrem.

Seiring perkembangan teknologi, sebagian inovasi yang digunakan di lintasan balap kemudian diadaptasi ke motor produksi. Teknologi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan berkendara sehari-hari, regulasi, karakter motor, hingga aspek keselamatan.

Mulai dari electronic control unit (ECU), inertial measurement unit (IMU), kontrol traksi, wheelie control, quick shifter, hingga engine brake control kini dapat ditemukan pada sejumlah motor modern.

Meski memiliki prinsip kerja yang serupa, penerapannya pada motor jalan raya tidak dilakukan dengan cara yang sama persis seperti pada motor balap.

Lantas, teknologi apa saja yang berkembang dari dunia balap dan kini hadir pada motor produksi?

ECU Menjadi Otak Sistem Elektronik Motor

Salah satu komponen penting dalam perkembangan motor modern adalah electronic control unit atau ECU. Komponen ini bekerja layaknya komputer yang menerima dan mengolah informasi dari berbagai sensor di motor.

Pada MotoGP, ECU menerima data dari berbagai sumber, mulai dari posisi throttle, putaran mesin, posisi gigi, kecepatan roda depan dan belakang, sudut kemiringan motor, hingga suhu udara dan oli.

Data tersebut kemudian diproses untuk mengatur berbagai parameter motor, termasuk suplai bahan bakar, waktu pengapian, respons throttle, pengereman mesin, kontrol traksi, wheelie control, hingga launch control.

MotoGP menggunakan ECU standar yang dipasok Magneti Marelli sejak 2016. Penggunaan sistem elektronik terintegrasi tersebut memungkinkan pengaturan motor dilakukan berdasarkan data yang diperoleh secara real time.

Konsep pengolahan data semacam ini kemudian berkembang pada motor produksi. Salah satu contohnya dapat ditemukan pada Ducati Streetfighter V2 yang menggunakan IMU enam sumbu sebagai bagian dari sistem kendali elektroniknya.

IMU Membaca Posisi Motor secara Real Time

Jika ECU berperan sebagai pusat pengolahan data, inertial measurement unit atau IMU menjadi salah satu komponen yang menyediakan informasi mengenai kondisi dan gerakan motor.

IMU dapat mengukur pergerakan kendaraan, termasuk sudut kemiringan serta gerakan motor pada sejumlah sumbu. Informasi tersebut kemudian dikirimkan ke sistem kendali untuk menyesuaikan respons motor dengan kondisi yang sedang dihadapi.

Pada Ducati Streetfighter V2, IMU enam sumbu membaca posisi motor secara real time. Data tersebut digunakan untuk mendukung berbagai sistem elektronik, seperti kontrol traksi, wheelie control, ABS cornering, dan fitur lainnya.

Dengan demikian, sistem elektronik motor tidak hanya mengetahui seberapa besar throttle dibuka, tetapi juga dapat memperhitungkan posisi motor ketika berakselerasi, mengerem, maupun menikung.

Kemampuan membaca kondisi motor secara real time tersebut membuat berbagai sistem elektronik dapat bekerja lebih presisi.

Kontrol Traksi Mencegah Roda Belakang Kehilangan Cengkeraman

Ketika tenaga mesin lebih besar daripada kemampuan ban mencengkeram aspal, roda belakang dapat berputar terlalu cepat dan kehilangan traksi.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, motor MotoGP menggunakan sistem kontrol traksi atau traction control.

Sistem elektronik membandingkan berbagai informasi, seperti kecepatan roda depan dan belakang, posisi throttle, putaran mesin, serta sudut kemiringan motor.

Apabila terdeteksi potensi kehilangan traksi, ECU dapat mengurangi tenaga yang disalurkan ke roda belakang. Pengaturan tersebut dapat dilakukan melalui waktu pengapian, injeksi bahan bakar, maupun respons throttle.

Prinsip serupa kemudian diterapkan pada sejumlah motor produksi.

Ducati menyebut sistem DTC EVO 2 pada Streetfighter V2 sebagai traction control yang dikendalikan oleh IMU enam sumbu. Sistem tersebut menggunakan strategi prediktif untuk mendeteksi potensi selip dan memiliki delapan tingkat pengaturan, terdiri dari enam tingkat untuk kondisi kering dan dua tingkat untuk kondisi basah.

Teknologi yang awalnya digunakan untuk membantu pembalap mengelola tenaga besar di lintasan tersebut kemudian disesuaikan untuk memberikan kontrol lebih baik ketika motor digunakan di jalan raya.

Wheelie Control Menjaga Roda Depan Tetap Terkendali

Akselerasi dengan tenaga besar dapat membuat roda depan terangkat dari permukaan jalan. Dalam dunia balap, kondisi tersebut dikenal sebagai wheelie.

Pada motor MotoGP, kondisi tersebut dikelola menggunakan wheelie control. Sistem ini memanfaatkan informasi dari sejumlah sensor untuk mengetahui gerakan motor dan kemudian menyesuaikan tenaga yang disalurkan mesin.

Ketika sistem mendeteksi roda depan mulai terangkat secara berlebihan, ECU dapat mengurangi tenaga atau torsi mesin sehingga motor lebih mudah dikendalikan.

Teknologi tersebut juga telah diterapkan pada motor produksi.

Ducati Streetfighter V2 menggunakan Ducati Wheelie Control EVO yang memanfaatkan data dari IMU enam sumbu. Sistem tersebut dirancang untuk menjaga wheelie tetap terkendali sekaligus mempertahankan kemampuan akselerasi motor.

Bagi pengendara, teknologi ini menunjukkan bagaimana sensor dan komputer dapat bekerja secara otomatis untuk mengelola perubahan kondisi kendaraan.

Quick Shifter Mempercepat Perpindahan Gigi

Teknologi lain yang erat dengan dunia balap adalah quick shifter. Fitur ini memungkinkan perpindahan gigi dilakukan lebih cepat tanpa penggunaan kopling secara konvensional pada kondisi tertentu.

Ducati Streetfighter V2 menggunakan Ducati Quick Shift atau DQS EVO 2. Sistem tersebut memanfaatkan informasi mengenai kondisi motor, termasuk sudut kemiringan, ketika mengatur perpindahan gigi.

Penggunaan data tersebut membantu menjaga stabilitas motor ketika perpindahan gigi dilakukan saat menikung. Sistem juga memungkinkan pengendara melakukan perpindahan gigi ke bawah tanpa harus menarik tuas kopling.

Quick shifter memberikan keuntungan ketika pengendara membutuhkan perpindahan gigi secara cepat. Namun, karakter dan pengaturannya pada motor jalan raya tetap disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan sehari-hari.

Engine Brake Control Membantu Menjaga Stabilitas

Teknologi elektronik tidak hanya bekerja ketika pengendara membuka throttle. Saat motor mengalami perlambatan, sistem juga perlu menjaga agar kendaraan tetap stabil.

Ketika throttle ditutup, mesin menghasilkan efek pengereman yang dikenal sebagai engine braking. Dalam kondisi tertentu, efek tersebut dapat memengaruhi kestabilan roda belakang, terutama ketika motor memasuki tikungan.

Pada MotoGP, sistem engine braking management digunakan untuk mengatur seberapa besar mesin menahan laju motor ketika throttle ditutup.

ECU dapat menyesuaikan berbagai parameter untuk membantu menjaga kestabilan roda belakang ketika motor melakukan deselerasi.

Konsep serupa diterapkan pada Ducati Streetfighter V2 melalui engine brake control EVO.

Sistem tersebut mempertimbangkan sejumlah parameter, seperti sudut kemiringan, posisi throttle, gigi yang digunakan, serta perlambatan poros engkol.

Data tersebut kemudian digunakan untuk mengatur respons sistem sehingga gaya yang diterima ban belakang dapat dikelola dengan lebih baik.

ABS Cornering Menjadi Fitur Penting di Jalan Raya

Ada satu hal yang perlu dibedakan ketika membandingkan teknologi MotoGP dan motor jalan raya, yakni sistem pengereman ABS.

ABS bukan teknologi yang digunakan untuk membantu pembalap MotoGP mengerem seperti pada motor produksi. Motor MotoGP menggunakan sistem pengereman khusus untuk kebutuhan balap dan tidak mengandalkan ABS sebagaimana motor jalan raya.

Sebaliknya, ABS cornering menjadi salah satu teknologi keselamatan yang banyak digunakan pada motor produksi modern.

Sistem ini memanfaatkan informasi mengenai kondisi motor, termasuk ketika kendaraan sedang dalam posisi miring, untuk mengoptimalkan pengereman.

Ducati Streetfighter V2, misalnya, dibekali ABS cornering EVO yang tetap bekerja ketika motor sedang miring.

Ducati menyebut sistem tersebut membantu mempertahankan kestabilan saat pengereman serta mengurangi risiko roda kehilangan traksi ketika pengereman dilakukan di tikungan.

Dengan karakter tersebut, teknologi pengereman pada motor produksi menunjukkan bagaimana sistem elektronik dapat disesuaikan untuk menghadapi situasi yang umum terjadi di jalan raya.

Perlengkapan Keselamatan MotoGP Juga Menjadi Rujukan

Transfer teknologi dari lintasan balap ke jalan raya tidak hanya terjadi pada sistem elektronik motor. Perkembangan perlengkapan keselamatan pembalap juga menjadi bagian dari evolusi teknologi tersebut.

MotoGP mewajibkan pembalap menggunakan helm yang memiliki sertifikasi FIM dan memenuhi standar pengujian FRHPhe-01. Pengujiannya mencakup benturan linear, benturan miring, dan penetrasi.

Helm balap juga menggunakan lapisan pelindung dengan kepadatan berbeda untuk memberikan perlindungan terhadap kepala.

Prinsip penggunaan material pelindung dan desain berlapis tersebut kemudian turut berkembang pada perlengkapan berkendara untuk pengguna jalan raya.

Meski demikian, standar perlengkapan untuk penggunaan sehari-hari tetap berbeda karena kebutuhan pengendara jalan umum tidak sama dengan pembalap profesional di lintasan.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi menunjukkan bahwa lintasan balap tidak hanya menjadi tempat untuk menguji kecepatan. Berbagai teknologi yang dikembangkan untuk menghadapi kondisi ekstrem juga dapat menjadi dasar inovasi pada kendaraan produksi.

Setelah melalui proses pengembangan dan penyesuaian, sebagian teknologi tersebut kini dapat ditemukan pada motor yang digunakan masyarakat sehari-hari, dengan tujuan utama meningkatkan kendali, performa, kenyamanan, dan keselamatan berkendara.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play