SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional Kabut Asap Masih Kepung Sanggau, GKM dan AJS Serahkan 15 Ribu Masker ke Pemkab Sanggau dan Masyarakat, Bupati: Sangat Dibutuhkan Warga Terdampak Asap

Kabut Asap Masih Kepung Sanggau, GKM dan AJS Serahkan 15 Ribu Masker ke Pemkab Sanggau dan Masyarakat, Bupati: Sangat Dibutuhkan Warga Terdampak Asap

Bupati Sanggau Yohanes Onto saat menerima bantuan masker (suarakalbar.co.id/cok)

 

Sanggau (Suara Kalbar) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Kabupaten Sanggau. Di tengah kondisi udara yang kurang bersahabat, PT Global Kalimantan Makmur (GKM) bersama Aliansi Jurnalis Sanggau (AJS) serta Pemerintah Kabupaten Sanggau membagikan 15 ribu masker gratis kepada masyarakat, Jumat (04/09/2026).

Kegiatan diawali dengan penyerahan masker kepada pemerintah daerah yang diterima langsung Bupati Sanggau Yohanes Ontot dan aksi pembagian masker dilakukan di Perempatan Lampu Merah Jalan Ahmad Yani, Sanggau. Di tengah kendaraan yang berhenti saat lampu merah menyala, relawan membagikan masker satu per satu kepada pengendara dan warga yang melintas.

Bupati Sanggau Yohanes Ontot mengapresiasi bantuan yang diberikan. Ia menyebut masker sangat dibutuhkan masyarakat di tengah kondisi udara yang tidak sehat.

“Saya sebagai Bupati Sanggau menerima sumbangan bantuan dari PT Global Kalimantan Makmur, GKM dan Aliansi Jurnalis Sanggau (AJS). Ini adalah bantuan dalam rangka membantu pemerintah dan masyarakat terkait dengan dampak asap karhutla,” ujar Bupati.

“Ini merupakan salah satu support dari berbagai pihak, salah satunya adalah di PT GKM ini. Dan atas nama pemerintah daerah dan masyarakat menyampaikan terima kasih banyak,” tambahnya.

Bupati menegaskan, sekecil apapun kontribusi dari pihak manapun merupakan tanda kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.

Bupati menjelaskan penggunaan masker sangat penting untuk mengurangi dampak kesehatan akibat asap. Salah satu dampak dominan yang dikhawatirkan adalah ISPA.

“Untuk masker ini sebenarnya juga sangat diperlukan oleh masyarakat, paling tidak mengurangi akibat atau dampak dari asap ini. Karena dampaknya ini kan macam-macam. Salah satunya yang dominan adalah ISPA. Lalu kemudian kalau yang memang ada alergi asap atau paru-paru itu juga sangat-sangat berisiko tinggi,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahaya jangka panjang dari partikel asap yang terhirup.

“Kalau di mobil ini nampak betul debunya. Nah ini berarti kalau tidak ada penyangga atau blocking dari alat untuk pernapasan kita, setiap saat ini akan mengganggu. Mungkin kalau sepintas tidak terlalu, tapi kalau jangka panjang berbulan-bulan ini juga berbahaya. Karena oksigennya kita masukkan keluar masuk, kalau partikel ini masuk dan keluar terus, ini berbahaya,” jelasnya.

Bupati memastikan bantuan masker tersebut akan segera didistribusikan kepada masyarakat melalui berbagai lembaga kemasyarakatan.

“Nanti kita bagi. Kita bagi di berbagai lembaga kemasyarakatan. Nanti mereka bagaimana mendistribusikannya. Terimakasih sekali lagi dan semoga ini bermanfaat untuk kita semua. Amin,” ucap Ontot.

Sementara itu GM Humas & CSR PT GKM, Paulus Nokus, mengatakan pembagian masker merupakan bentuk kepedulian perusahaan bersama AJS kepada masyarakat terdampak kabut asap.

Langit Sanggau masih tampak kelabu. Matahari terlihat samar tertutup kabut asap. Aktivitas warga tetap berjalan, pedagang buka usaha, pekerja berangkat, dan pengendara terus melintas.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kami kepada masyarakat Sanggau di tengah kondisi kabut asap akibat Karhutla. Kami membagikan 15 ribu masker dan mengajak masyarakat untuk menggunakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah,” kata Paulus.

Menurutnya, masker diharapkan tidak hanya dipakai saat pembagian, tetapi menjadi pengingat agar masyarakat lebih peduli menjaga kesehatan saat kualitas udara menurun.

“Kami berharap masker yang dibagikan ini tidak hanya dipakai hari ini, tetapi menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan dan lebih peduli terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.

Hingga saat ini data menunjukkan tujuh ribuan lebih titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat, dengan sebagian berada pada tingkat berbahay tinggi.

Bagi masyarakat, dampaknya langsung terasa. Jarak pandang menurun, udara menjadi tidak sehat, dan aktivitas di luar ruangan membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Kabut asap tidak mengenal batas wilayah. Ia bergerak mengikuti arah angin dan bisa memengaruhi daerah yang jauh dari titik api.

Paulus menegaskan kegiatan sosial ini bukan untuk menggantikan peran pemerintah, melainkan bagian dari kepedulian bersama.

“Penanganan Karhutla membutuhkan kerja bersama. Pemerintah memiliki peran dalam pencegahan, pengawasan, pemadaman dan penegakan aturan. Masyarakat juga memiliki peran menjaga lingkungan. Sementara dunia usaha dapat mengambil bagian melalui kepedulian sosial dan dukungan terhadap masyarakat di wilayah terdampak,” jelasnya.

Ia menambahkan, masker memang bukan solusi untuk menghentikan karhutla. Namun setidaknya menjadi pelindung diri bagi masyarakat.

“Karena kesehatan masyarakat perlu mendapat perhatian ketika asap memenuhi udara. Pesannya jelas, jangan menganggap kabut asap sebagai sesuatu yang biasa. Sebab persoalan Karhutla jauh lebih besar daripada sekadar asap yang terlihat di langit,” tutupnya.

Sementara itu Ketua AJS Sanggau Darmansyah mengatakan kegiatan pembagian masker ini sebagai bagian dalam membantu pemerintah dalam menjaga kesehatan masyarakat yang terdampak.

“Semoga pembagian masker ini bisa bermanfaat bagi masyarakat yang sedang beraktifitas dan menjadi pengingat masyarakat dalam menjaga kesehatan dimasa kabut asap ini untuk selalu memakai masker,”tutupnya.

Selama udara Sanggau belum sepenuhnya jernih, setiap masker yang menutup hidung dan mulut menjadi pengingat sederhana: masyarakat berhak menghirup udara yang aman, dan menjaga hak itu membutuhkan kepedulian banyak pihak.

Penulis: Darmansyah

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play