SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Investasi Masuk Kalbar, Seberapa Besar Manfaatnya bagi Warga Lokal?

Investasi Masuk Kalbar, Seberapa Besar Manfaatnya bagi Warga Lokal?

Haris Zaky Mubarak

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA

Investasi selalu membawa optimisme, pada saat pabrik dibangun, alat berat bergerak, lingkungan kawasan industri berkembang, dan pemerintah daerah memperoleh angka baru untuk dipresentasikan sebagai keberhasilan pembangunan. Kalimantan Barat (Kalbar) kini berada di dalam arus tersebut. Kekayaan bauksit, perkebunan sawit, kehutanan, pertanian, perdagangan, hingga posisi geografis yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat provinsi ini semakin menarik dalam peta investasi Indonesia. Namun, persoalan pembangunan tidak selesai ketika modal datang. Pertanyaan yang jauh lebih penting ialah: berapa banyak nilai ekonomi yang benar-benar tinggal di Kalbar dan dinikmati masyarakat lokal? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena sejarah ekonomi Kalimantan memperlihatkan paradoks lama.

Daerah dapat kaya sumber daya, tetapi penduduk di sekitar sumber daya belum tentu menikmati kesejahteraan yang sebanding. Kayu, emas, karet, sawit, dan bauksit telah lama menghubungkan Kalimantan Barat dengan pasar nasional maupun global. Akan tetapi, hubungan ekonomi tersebut sering berbentuk ekstraktif: komoditas keluar, sedangkan proses penciptaan nilai tambah berlangsung di tempat lain. Dalam perspektif sejarah ekonomi, keadaan demikian bukan sesuatu yang baru. Anne Booth (1998) menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang selalu berhadapan dengan persoalan ketimpangan regional dan struktur ekonomi warisan kolonial. Banyak daerah di luar pusat pertumbuhan dibentuk terutama sebagai pemasok komoditas. Infrastruktur dibangun bukan pertama-tama untuk mengintegrasikan ekonomi lokal, melainkan memperlancar pergerakan komoditas menuju pasar. Karena itu, investasi Kalbar hari ini semestinya tidak mengulang pola ekonomi ekstraktif dengan wajah yang lebih modern.

Dari Ekstraksi Menuju Nilai Tambah

Ada tanda bahwa struktur tersebut mulai berubah. Salah satu contoh penting adalah pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah. Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas sekitar satu juta ton alumina per tahun dan menghubungkan cadangan bauksit Kalimantan Barat dengan mata rantai industri aluminium nasional. Secara ekonomi, ini merupakan perubahan penting. Bauksit yang sebelumnya identik dengan komoditas tambang mentah memperoleh proses pengolahan lebih lanjut di daerah. Dalam teori pembangunan, transformasi seperti ini penting karena negara atau daerah tidak mungkin memperoleh keuntungan pembangunan maksimal apabila terus bergantung pada ekspor bahan mentah.

Di sinilah ukuran keberhasilan hilirisasi Kalbar seharusnya diletakkan. Keberadaan pabrik alumina belum otomatis berarti ekonomi lokal telah mengalami transformasi. Pertanyaan berikutnya adalah apakah kebutuhan logistiknya menggunakan perusahaan lokal, apakah kontraktor lokal memperoleh ruang, apakah tenaga teknis berasal dari Kalbar, apakah UMKM masuk ke rantai pasok, dan apakah alumina kelak mendorong munculnya industri lanjutan. Tanpa keterkaitan tersebut, sebuah industri dapat menjadi semacam “pulau modern” di tengah ekonomi lokal yang tetap tradisional.

Gunnar Myrdal (1957) sejak lama mengingatkan adanya backwash effects: pusat pertumbuhan dapat menyedot tenaga terampil, modal, dan keuntungan tanpa menyebarkan manfaat secara proporsional ke wilayah sekitarnya. Investasi besar karena itu tidak selalu identik dengan pembangunan yang inklusif. Data ekonomi terbaru memberi alasan untuk optimistis sekaligus berhati-hati. Perekonomian Kalbar pada 2025 mencapai sekitar Rp328,57 triliun dan tumbuh 5,39 persen.Memasuki 2026, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan bahkan mencapai 6,14 persen secara tahunan pada triwulan I sebelum tumbuh 5,61 persen pada triwulan II  (BPS, 2026). Pertumbuhan tersebut menunjukkan mesin ekonomi Kalbar bergerak cukup kuat. Akan tetapi, statistik tenaga kerja memperlihatkan sisi lain.

Tingkat Pengangguran Terbuka Kalbar pada Februari 2026 tercatat 4,57 persen, naik 0,34 poin persentase dibanding Februari 2025. Angka tersebut memberikan pesan penting: pertumbuhan investasi dan pertumbuhan ekonomi harus selalu diperiksa kualitas transmisinya terhadap pasar tenaga kerja. Arthur Lewis (1954), melalui teori pembangunan ekonomi dua sektor, menjelaskan bahwa transformasi ekonomi terjadi ketika tenaga kerja berpindah dari sektor berproduktivitas rendah menuju sektor modern yang berproduktivitas lebih tinggi. Tetapi perpindahan itu memerlukan kemampuan, pendidikan, keterampilan, dan institusi yang memadai. Masalahnya, investasi modern semakin padat teknologi dan keterampilan.

Smelter, industri kimia, perkebunan modern, logistik digital, dan manufaktur tidak membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah tidak terbatas. Mereka membutuhkan operator, teknisi, ahli mesin, tenaga listrik, analis laboratorium, ahli keselamatan, insinyur, dan manajer rantai pasok. Jika kompetensi tersebut tidak tersedia secara lokal, investasi memang berada di Kalbar, tetapi sebagian pekerjaan dengan produktivitas dan penghasilan terbaik berpotensi dinikmati tenaga kerja dari luar daerah. Di sinilah pendidikan vokasi menjadi kebijakan investasi yang sesungguhnya.

Jangan Melupakan Ekonomi Lokal

Michael Porter (1990) menjelaskan bahwa daya saing wilayah tumbuh melalui pembentukan cluster: perusahaan besar, pemasok, tenaga terampil, lembaga pendidikan, jasa keuangan, transportasi, dan inovasi bertemu dalam satu ekosistem geografis. Kalbar membutuhkan pendekatan seperti itu. Investasi perkebunan, misalnya, seharusnya tidak berhenti pada kebun dan pabrik pengolahan primer. Sawit dapat dikembangkan menuju oleokimia, pangan, kosmetik, bahan kimia, hingga energi. Industri karet dapat dikaitkan dengan produk hilir. Sektor perikanan membutuhkan cold storage, pengolahan, pengemasan, dan logistik. Demikian pula bauksit semestinya menjadi pintu menuju ekosistem industri aluminium.

Dengan cara itu, investasi tidak berdiri sendiri. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal dapat menjadi pemasok makanan, seragam, transportasi, jasa perawatan, konstruksi, komponen sederhana, teknologi informasi, hingga kebutuhan operasional perusahaan. Efek penggandanya akan jauh lebih besar daripada sekadar menghitung nilai investasi awal.Diperlukan basis data vendor lokal, sertifikasi, peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, pelatihan pengadaan, dan kebijakan kemitraan yang terukur.

Pada kontekstual lainnya, Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, Ketapang, Sanggau, dan kawasan lain yang terhubung dengan industri akan menghadapi perubahan struktur ruang. Tanah menjadi lebih mahal, arus migrasi meningkat, permintaan perumahan tumbuh, lalu lintas barang bertambah, dan pusat-pusat ekonomi baru muncul. Edward Glaeser (2011) menjelaskan bahwa kota produktif lahir karena kedekatan manusia dan aktivitas ekonomi menciptakan aglomerasi pengetahuan, tenaga kerja, serta pasar. Tetapi aglomerasi yang tidak dikelola dapat menghasilkan biaya sosial: kemacetan, permukiman tidak terencana, kenaikan harga tanah, dan ketimpangan spasial. Karena itu, investasi industri harus terhubung dengan kebijakan kota.

Mempawah, misalnya, jangan hanya dibayangkan sebagai lokasi pabrik. Ia harus diproyeksikan sebagai simpul ekonomi baru yang membutuhkan perumahan layak, pendidikan, layanan kesehatan, perdagangan, transportasi, ruang publik, dan kawasan usaha lokal. Apabila semua kebutuhan industri dipasok dari luar dan pekerja berpendapatan tinggi tinggal dalam enclave tersendiri, dampak ekonomi lokal akan terbatas.

Ada pula dimensi yang sering hilang dari laporan investasi: kebudayaan dan masyarakat. Kalimantan Barat merupakan ruang sosial yang kompleks. Masyarakat Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura, Jawa, Bugis, dan berbagai komunitas lainnya telah membentuk lanskap ekonomi serta budaya daerah selama berabad-abad. Tanah dalam banyak komunitas tidak semata-mata merupakan faktor produksi. Ia memiliki hubungan dengan identitas, sejarah keluarga, komunitas, bahkan sistem nilai.

Karl Polanyi (1944) mengingatkan bahwa ekonomi selalu melekat (embedded) dalam hubungan sosial. Ketika tanah hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, kebijakan investasi berpotensi gagal membaca makna sosial yang hidup di masyarakat. Investasi karena itu membutuhkan legitimasi sosial, bukan hanya legalitas administratif. Konsultasi publik, penyelesaian konflik lahan, pengakuan terhadap masyarakat lokal, perlindungan lingkungan, dan pembagian manfaat harus menjadi bagian dari biaya pembangunan. Investor yang menganggapnya sebagai beban justru sedang mengabaikan fondasi keberlanjutan investasinya sendiri.

Beberapa indikator kesejahteraan Kalbar menunjukkan perkembangan positif. Pada September 2025, tingkat kemiskinan berada pada 5,97 persen atau sekitar 322,54 ribu penduduk. Rasio Gini juga turun menjadi 0,308. Tetapi indikator tersebut jangan membuat pemerintah cepat puas.. Karena itu, keberhasilan investasi bukan sekadar besarnya modal yang masuk, melainkan bertambahnya kemampuan masyarakat untuk memperoleh pekerjaan yang baik, pendidikan, pendapatan, kesehatan, serta kesempatan menentukan masa depannya.

Setiap proyek investasi besar dapat dievaluasi berdasarkan lima ukuran: persentase tenaga kerja lokal, persentase belanja kepada pemasok lokal, peningkatan upah dan keterampilan pekerja, kontribusi terhadap industri hilir, serta dampaknya terhadap kondisi sosial dan lingkungan. Dengan ukuran semacam itu, publik dapat membedakan antara investasi yang sekadar “berlokasi di Kalbar” dan investasi yang benar-benar “membangun Kalbar”. Perbedaannya sangat mendasar. Investasi yang hanya berlokasi di Kalbar memanfaatkan tanah, sumber daya, dan posisi geografis daerah. Sebaliknya, investasi yang membangun Kalbar menciptakan keterampilan baru, pengusaha baru, industri baru, kota baru yang produktif, serta kelas menengah lokal yang semakin kuat.

Pada akhirnya, masa depan Kalbar tidak ditentukan oleh seberapa banyak modal yang datang, tetapi oleh seberapa besar nilai tambah yang dapat ditahan di daerah. Modal boleh berasal dari Jakarta, Singapura, Tiongkok, atau negara lain. Teknologi pun boleh datang dari luar. Tetapi manfaat ekonomi harus berakar di Mempawah, Ketapang, Sanggau, Sambas, Kubu Raya, Pontianak, dan wilayah Kalbar lainnya. Sebab pembangunan bukan perlombaan mengumpulkan angka investasi. Pembangunan adalah kemampuan mengubah investasi menjadi pekerjaan, pengetahuan, usaha lokal, mobilitas sosial, dan kesejahteraan. Jika itu terjadi, masuknya investasi akan menjadi awal transformasi ekonomi Kalimantan Barat.

*Penulis adalah Analis dan Eksekutif Peneliti Jaringan Studi Indonesia

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play