IDI Pontianak: Kabut Asap Bukan Sekadar Persoalan Lingkungan, tetapi Ancaman bagi Kesehatan Anak
Pontianak (Suara Kalbar)- Kabut asap kembali menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat. Fenomena yang hampir setiap tahun terjadi itu dinilai tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan atau dampak kebakaran hutan dan lahan semata.
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak, dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc., mengingatkan bahwa kabut asap merupakan ancaman serius bagi kesehatan anak yang membutuhkan perhatian bersama dari masyarakat maupun pemerintah.
Menurut dr. Rista, masyarakat Kalimantan Barat telah berulang kali menghadapi musim ketika langit tertutup asap, udara berbau menyengat, aktivitas sekolah terganggu, hingga masyarakat harus membatasi kegiatan di luar rumah akibat menurunnya kualitas udara.
“Namun mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang. Bahwa kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan,” kata dr. Rista, Minggu (23/8/2026).
Ia menegaskan, kabut asap bukan hanya berkaitan dengan kebakaran lahan atau keputusan meliburkan sekolah. Di balik kondisi tersebut terdapat risiko kesehatan yang terus mengintai, terutama bagi anak-anak yang setiap hari terpapar udara tercemar.
“Kabut asap adalah persoalan kesehatan anak. Setiap kali seorang anak menghirup udara yang tercemar, ada paparan polutan berbahaya yang sedang berlangsung,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai keputusan yang diambil saat kualitas udara memburuk sejatinya berkaitan langsung dengan perlindungan kesehatan paru-paru anak. Mulai dari keputusan membatasi aktivitas luar ruangan, memindahkan kegiatan olahraga ke dalam ruangan, menutup jendela rumah, hingga memberikan perlindungan tambahan bagi anak yang memiliki riwayat asma.
“Pada akhirnya, semua itu adalah keputusan tentang seberapa besar paparan yang akan diterima paru mereka,” katanya.
Dr. Rista menuturkan, masyarakat memang tidak bisa menghentikan anak-anak untuk bernapas. Namun, orang tua dan lingkungan sekitar dapat mengambil langkah untuk meminimalkan paparan udara tercemar yang mereka hirup.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu hingga muncul gejala yang lebih berat pada anak. Menurutnya, anak-anak sering kali tidak mampu mengungkapkan secara jelas ketidaknyamanan yang mereka rasakan akibat kualitas udara yang buruk.
“Bayi tidak dapat mengeluh, balita mungkin hanya menjadi lebih rewel. Anak yang lebih besar mungkin hanya mengatakan, ‘Aku capek’, tanpa menyadari bahwa napasnya mulai bekerja lebih keras,” jelasnya.
Karena itu, orang tua diminta lebih peka terhadap tanda-tanda yang muncul pada anak selama kabut asap berlangsung. Tidak hanya memperhatikan munculnya batuk, tetapi juga perubahan pola pernapasan, tingkat aktivitas, nafsu makan, kemampuan minum, hingga perubahan perilaku yang tidak biasa.
Selain masyarakat, dr. Rista juga berharap para pemangku kebijakan semakin serius dalam mengambil langkah-langkah yang berpihak pada kesehatan anak. Menurutnya, perlindungan terhadap kesehatan paru-paru anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap respons terhadap memburuknya kualitas udara.
Ia menegaskan bahwa kabut asap mungkin akan berakhir ketika hujan turun. Namun perhatian terhadap dampaknya terhadap kesehatan anak tidak boleh berhenti ketika kondisi udara kembali membaik.
Dokter spesialis anak yang juga Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Barat itu menilai upaya menjaga kualitas udara hari ini merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi mendatang.
“Kita sedang menjaga paru-paru yang akan mereka gunakan sepanjang hidupnya,” tutup dr. Rista.
Penulis: Diko Eno






