SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Headline Link-AR Borneo Tuding Mayawana Persada Diduga Rusak Gambut dan Habitat Orangutan di Kayong Utara

Link-AR Borneo Tuding Mayawana Persada Diduga Rusak Gambut dan Habitat Orangutan di Kayong Utara

Lingkaran garis hitam: areal konsesi Mayawana Persada. SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa

Pontianak (Suara Kalbar) — Lembaga Lingkaran Advokasi dan Riset (Link-AR) Borneo mengungkap dugaan pengrusakan ekosistem gambut dan habitat orangutan yang dilakukan perusahaan kehutanan PT Mayawana Persada di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Direktur Eksekutif Link-AR Borneo Ahmad Syukri menilai aktivitas kanalisasi atau pembuatan kanal yang dilakukan perusahaan di bagian selatan wilayah konsesi telah menyebabkan bentang alam gambut mengalami kekeringan secara masif. Kondisi tersebut, menurut dia, meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Pemerintah tetap harus mengevaluasi dampak-dampak lingkungan yang terjadi, termasuk misalnya habitat orang utan yang dirusak. Kemudian ekosistem gambut yang mereka hancurkan, terutama di selatan konsesi kawasan Kayong Utara,” ujar pria yang akrab disapa Uki tersebut, Sabtu (22/8/2026).

Pria yang akrab disapa Uki itu menjelaskan, kanal-kanal yang dibangun di kawasan gambut mempercepat proses pengeringan air tanah. Akibatnya, lapisan gambut menjadi lebih mudah terbakar, terutama pada musim kemarau dan saat fenomena iklim kering seperti El Nino terjadi.

Menurut dia, sejumlah titik panas (hotspot) telah ditemukan di dalam area konsesi. Bahkan, kata Uki, upaya pemadaman yang dilakukan perusahaan disebut menghadapi berbagai kendala akibat kondisi gambut yang telah mengering.

“Sekarang itu kan sudah dikanal-kanal sama mereka, itu membuat gambut kering dan sekarang berpotensi Karhutla. Kita juga telah menemukan ada banyak titik api di sana, kenyataannya perusahaan juga hampir kewalahan untuk memadamkan api tersebut,” jelasnya.

Ia menyoroti bahwa ancaman bencana kabut asap Karhutla lahir dari kelonggaran izin yang mengabaikan fungsi perlindungan gambut alami. Kondisi tersebut diperparah dengan fenomena iklim kering El Nino yang tengah melanda.

“Pemerintah harusnya mengerti dan menyadari bahwa sejatinya bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan itu akibat mereka memberikan izin pengrusakan ekosistem gambut yang sudah ada. Andaikan ekosistem gambut tetap ditutupi oleh tutupan hutan, ia akan tetap lembap di bawah dan tidak dibuat kanal. Mau api sebanyak apa pun melompat dari ladang masyarakat di luar konsesi, tidak akan terjadi kebakaran hebat. Sekarang gambutnya kering parah, api akan menyebar luas dan sangat sulit dipadamkan, ditambah situasi El Nino saat ini,” pungkas Uki.

Penulis: Diko Eno

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play