SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Melawi Pendeta GKE Melawi: Menjaga Hutan adalah Bagian dari Penghormatan dan Ketaatan Iman kepada Tuhan

Pendeta GKE Melawi: Menjaga Hutan adalah Bagian dari Penghormatan dan Ketaatan Iman kepada Tuhan

Pendeta Riko. SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa

Melawi (Suara Kalbar)- Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan, termasuk Kabupaten Melawi, tidak hanya menimbulkan kekeringan, tetapi juga memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia maupun ekosistem.

Keprihatinan tersebut disampaikan Pendeta Riko Riski, S.Th., Ketua Majelis Resort GKE Melawi yang melayani di Jemaat GKE Effata Nanga Pinoh. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan menghentikan berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

“Melihat dan sekaligus merasakan dampak dari kemarau panjang yang sedang terjadi saat ini di bumi Kalimantan, sangat memilukan hati. Di mana-mana telah terjadi kekeringan dan kebakaran hutan,” ungkapnya kepada Suarakalbar.co.id, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Riko, dampak karhutla bukan hanya dirasakan manusia melalui memburuknya kualitas udara dan ancaman gangguan kesehatan. Kebakaran juga mengancam keberlangsungan hidup satwa yang kehilangan habitat akibat hutan yang terbakar.

Ia mengingatkan bahwa hutan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Hutan menyediakan udara segar, sumber pangan, air, serta berbagai kebutuhan yang menopang kehidupan masyarakat sejak dahulu.

“Tuhan telah menciptakan bumi dan segala isinya dengan baik untuk keberlangsungan hidup ciptaan-Nya. Hutan telah menjaga kita selama ribuan tahun, memberikan pasokan udara segar, bahkan menyediakan makanan untuk kita,” katanya.

Namun, menurutnya, kondisi hutan saat ini semakin memprihatinkan akibat berbagai bentuk eksploitasi yang dilakukan secara berlebihan.

Riko menilai bencana karhutla yang terjadi saat ini harus menjadi momentum untuk melakukan introspeksi bersama. Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan bencana, tetapi juga sebuah peringatan agar manusia kembali memperhatikan dan memulihkan alam.

“Ini bukan sekadar bencana, tetapi panggilan alam bahwa mereka memerlukan bantuan kita untuk dipulihkan kembali,” tegasnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Melawi, untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan lebih bijak dalam mengelola lingkungan.

“Mari bersama kita menjaga dan menghentikan aktivitas yang berkaitan dengan membakar lahan atau apa pun yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran yang meluas. Mari kita bijak dalam mengelola hutan kita,” ajaknya.

Lebih jauh, Riko mengingatkan bahwa persoalan karhutla tidak seharusnya dilihat hanya dari sisi kepentingan siapa yang diuntungkan atau dirugikan.

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat bersama-sama memastikan generasi mendatang tetap dapat hidup di lingkungan yang sehat.

“Karena kebakaran hutan bukan lagi bicara soal siapa yang diuntungkan dan dirugikan, tetapi bagaimana caranya kita menjaga agar orang-orang yang kita sayangi, khususnya anak cucu kita, dapat bertahan hidup tanpa harus menghirup udara buruk yang akan mengancam kesehatan mereka,” tuturnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mendukung langkah pemerintah dan seluruh pihak yang saat ini tengah berupaya menangani karhutla di berbagai wilayah.

Riko memberikan apresiasi kepada aparat, tim gabungan, serta para sukarelawan yang terus berjibaku memadamkan api, bahkan harus meninggalkan keluarga dan menghadapi kondisi berat di lapangan.

“Mari kita doakan saudara-saudara kita saat ini, para aparat, tim gabungan dan sukarelawan yang sedang berjuang siang dan malam menghadapi panasnya nyala api, menghirup asap, tidur di hutan terpisah dari keluarga hanya untuk memadamkan kobaran api agar tidak meluas,” ujarnya.

Di tengah kondisi kemarau dan ancaman karhutla yang masih terjadi, ia mengajak masyarakat menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai gerakan bersama yang dimulai dari keluarga masing-masing.

“Mari kita jawab panggilan alam ini dengan memulainya dari kita dan keluarga kita, karena menjaga hutan adalah tanggung jawab kita bersama seluruh makhluk hidup,” pungkasnya.

Bagi Riko, menjaga hutan bukan semata-mata kewajiban sosial dan lingkungan. Dalam perspektif iman, menjaga serta mengelola alam merupakan bagian dari bentuk penghormatan manusia terhadap karya Sang Pencipta.

“Menjaga dan mengelola hutan dan alam adalah bagian penghormatan dan ketaatan iman kepada Sang Pencipta,” tutupnya.

Penulis: Dea Kusumah Wardhana

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play