SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Sebelum Membagikan Informasi di Media Sosial, Ingat 4 Pertanyaan Ini

Sebelum Membagikan Informasi di Media Sosial, Ingat 4 Pertanyaan Ini

Pengamat digital Budi Luhur University, Julaiha Probo Anggraini, mengatakan Kemudahan membagikan informasi melalui media sosial perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap etika bermedia digital. Pengguna tidak cukup hanya memastikan sebuah informasi benar, tetapi juga perlu mempertimbangkan apakah informasi tersebut layak disebarluaskan dan berpotensi merugikan orang lain. (Istimewa)

Jakarta (Suara Kalbar) – Kemudahan membagikan informasi melalui media sosial perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap etika bermedia digital. Pengguna tidak cukup hanya memastikan sebuah informasi benar, tetapi juga perlu mempertimbangkan apakah informasi tersebut memang layak disebarluaskan dan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Hal tersebut disampaikan pengamat digital dari Budi Luhur University, Julaiha Probo Anggraini, dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Etis Bermedia Digital”, Jumat (21/8/2026).

Julaiha mengatakan, kebenaran sebuah informasi bukan satu-satunya ukuran dalam menentukan apakah informasi tersebut pantas dibagikan kepada publik.

Menurutnya, pengguna media sosial juga perlu mempertimbangkan kepentingan publik, cara penyampaian, konteks, serta dampak yang mungkin timbul terhadap orang atau pihak yang berkaitan dengan informasi tersebut.

“Kebenaran bukan satu-satunya ukuran dari etika. Sebelum menyebarkan informasi yang benar, kita harus bertanya, apakah informasi ini perlu disebarkan kepada orang lain?” kata Julaiha.

Benar Belum Tentu Perlu Disebarkan

Julaiha menilai masyarakat perlu membangun kebiasaan berpikir sebelum menekan tombol share. Sebab, informasi yang benar secara fakta tetap dapat menimbulkan persoalan apabila disebarkan tanpa mempertimbangkan situasi dan dampaknya.

Menurutnya, pengguna media sosial perlu melihat apakah penyebaran informasi tersebut benar-benar memberikan manfaat atau justru berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar.

“Kita juga harus menilai, ketika informasi itu disebarkan, apakah manfaatnya lebih besar atau justru kerugiannya yang lebih besar terhadap orang tersebut. Itu yang harus dipertimbangkan,” ujarnya.

Pertimbangan tersebut menjadi semakin penting ketika informasi menyangkut kehidupan pribadi seseorang, identitas, kondisi keluarga, korban suatu peristiwa, maupun persoalan yang belum memiliki konteks secara utuh.

Karena itu, prinsip “benar” tidak otomatis berarti “perlu dibagikan” menjadi salah satu hal penting dalam membangun etika bermedia digital.

Etika Menjadi Bagian dari Literasi Digital

Menurut Julaiha, literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi atau membedakan informasi yang benar dan salah.

Kemampuan tersebut juga harus diikuti dengan pemahaman mengenai bagaimana teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

Setiap unggahan, komentar, foto, video, maupun informasi yang diteruskan kepada orang lain dapat memberikan dampak. Dalam hitungan detik, sebuah informasi dapat berpindah dari satu akun ke ribuan bahkan jutaan pengguna.

Kondisi tersebut membuat kesalahan dalam membagikan informasi sulit ditarik kembali setelah tersebar luas.

“Etika digital menjadi bagian penting dari literasi digital karena setiap unggahan, komentar, maupun informasi yang dibagikan dapat berdampak terhadap kehidupan orang lain,” demikian penjelasan Julaiha.

Empat Pertanyaan Sebelum Menekan Tombol Share

Untuk membangun kebiasaan bermedia sosial yang lebih bertanggung jawab, pengguna dapat menerapkan empat pertanyaan sederhana sebelum membagikan sebuah informasi.

Pertama, apakah informasi tersebut benar dan memiliki konteks yang jelas?

Jangan hanya melihat judul, potongan video, tangkapan layar, atau kutipan yang beredar. Pastikan informasi memiliki konteks yang cukup agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Kedua, apakah informasi tersebut memang perlu diketahui orang lain?

Tidak semua hal yang diketahui seseorang harus menjadi konsumsi publik. Ada informasi yang benar, tetapi tetap memiliki batas privasi.

Ketiga, kepada siapa informasi tersebut ditujukan dan bagaimana cara menyampaikannya?

Cara menyampaikan sebuah informasi dapat menentukan bagaimana publik memahami pesan tersebut. Bahasa yang berlebihan atau provokatif dapat mengubah informasi menjadi persoalan baru.

Keempat, apa dampaknya setelah informasi tersebut tersebar?

Pertanyaan terakhir ini penting karena jejak digital dapat bertahan lama. Informasi yang dibagikan hari ini dapat memengaruhi reputasi, pekerjaan, hubungan sosial, bahkan kehidupan seseorang di kemudian hari.

Jangan Hanya Menjadi Cepat, Jadilah Bijak

Media sosial pada dasarnya memberikan ruang bagi setiap orang untuk menjadi penyampai informasi. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab.

Kecepatan menjadi orang pertama yang membagikan sebuah informasi tidak selalu lebih penting daripada memastikan informasi tersebut disampaikan secara tepat dan bertanggung jawab.

Masyarakat perlu memahami bahwa menjadi pengguna media digital bukan sekadar mampu membuat konten dan menyebarkannya. Lebih dari itu, pengguna juga harus mampu memahami batas antara hak untuk mengetahui, kepentingan publik, dan hak orang lain untuk mendapatkan perlindungan atas privasi serta martabatnya.

Dengan membangun kebiasaan berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, masyarakat dapat ikut menciptakan ruang digital yang lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab.

Sebab, di era ketika satu klik dapat menyebarkan informasi ke mana-mana, kemampuan untuk menahan diri terkadang sama pentingnya dengan kemampuan untuk berbicara.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play