Tumbuh Bersama Matematika, Sains dan Teknologi Sejak Dini
“Ulang tahunku tinggal berapa hari lagi?” “Kenapa langit warnanya biru?” “Bagaimana caranya pesawat bisa terbang?”
Oleh: Hadiman
Kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut yang seringkali diucapkan oleh anak-anak. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, namun bagi seorang guru, setiap pertanyaan anak merupakan pintu masuk menuju proses belajar. Alih-alih langsung memberikan jawaban secara langsung, lebih baik dibalas dengan satu pertanyaan lain “bagaimana kalau kita cari tahu bersama?”.
Ajakan sederhana tersebut mengubah suasana belajar untuk memancing diskusi kecil. Anak mulai menghitung hari menuju ulang tahunnya, mencari informasi dari buku, menonton video edukatif dan melakukan percobaan sederhana. Dari diskusi kecil itu, disadari bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari buku pelajaran, tetapi seringkali dimulai dari rasa ingin tahu.
Mereka tidak hanya sekedar mendapatkan jawaban, tetapi juga menikmati proses menemukannya.
Sayangnya, keberhasilan belajar masih sering diukur dari seberapa banyak materi yang dihafalkan, seberapa banyak soal yang mampu dijawab, dan seberapa tinggi nilai yang dicapai. Padahal, tantangan di era sekarang ini menuntut lebih dari sekedar kemampuan mengingat informasi den seberapa tinggi nilai yang diperoleh.
Kemampuan anak untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan juga perlu diasah. Oleh karena itu, saya menyadari bahwa anak tidak tumbuh hanya karena banyaknya materi, soal, dan nilai, melainkan karena besarnya kesempatan yang diberikan untuk berpikir. Kemampuan tersebut dibangun sejak masa kanak-kanak melalui pengalaman belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
Dasar pendidikan dini melalui psikologi perkembangan
Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa masa kanak-kanak merupakan periode kritis dimana dasar-dasar keterampilan berpikir, pengelolaan emosi, interaksi sosial, dan pertumbuhan fisik mulai dibangun (Aprilyani et al., 2023).
Pada masa ini, otak anak berkembang dengan sangat pesat sehingga setiap pengalaman baru, pertanyaan yang muncul, dan kesempatan untuk mencari tahu, akan merangsang mereka untuk memahami lingkungan sekitarnya. Menurut Jean Piaget, anak-anak yang berada di tahap awal perkembangan kognitif belum sepenuhnya mampu dalam memahami konsep abstrak sehingga paling baik belajar melalui pengalaman konkret yang dapat mereka lihat, rasakan, dan lakukan sendiri di dunia sekitar mereka (Alfadhilah, 2025).
Oleh karena itu, proses pembelajaran seperti menghitung benda di sekitar, mengamati tumbuhan, atau membuat karya sederhana akan lebih bermakna.
Di sisi lain, menurut perspektif Erikson, anak usia sekolah sedang menjalani tahap industry (rasa mampu) vs inferiority (rasa rendah diri), dimana anak mulai mengembangkan kompetensi sosial dan akademik (Amrulloh & Purwandari, 2025) . Anak ingin merasa mampu dan produktif sehingga ketika diberikan kesempatan untuk mencoba, memperbaiki kesalahan, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan suatu tantangan, maka rasa percaya diri mereka akan tumbuh.
Sebaliknya, jika mereka tidak diberikan kesempatan dan hanya dituntut untuk mendapatkan jawaban benar, berisiko memunculkan perasaan tidak mampu. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pendidikan matematika, sains, dan teknologi diajarkan bukan sekedar menjadi mata pelajaran saja, tetapi juga sebagai sarana untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, rasa ingin tahu, kreativitas, dan keberanian untuk memecahkan masalah.
Namun pada kenyataannya, di berbagai sekolah, pelajaran matematika dan sains masih sering dianggap “menakutkan” dan “sulit”. Sedangkan teknologi dipersepsikan hanya sebagai sarana hiburan yang didapatkan dari penggunaan gadget atau komputer.
Padahal, bagi anak-anak, matematika, sains, dan teknologi dapat dimulai dari pengalaman yang didapatkan di lingkungan sekitarnya, seperti menghitung buah, menyusun balok, dan membuat pesawat sederhana dari kertas. Apabila sejak dini anak diajarkan untuk tumbuh bersama matematika, sains, dan teknologi, dengan cara yang sesuai tahap perkembangan mereka, merupakan upaya strategis untuk menyiapkan generasi emas yang mampu berpikir kritis, melek data, dan siap dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Tumbuh bersama matematika, sains, dan teknologi
Ketika berbicara tentang “tumbuh bersama matematika, sains, dan teknologi”, dapat dipahami bahwa bukan berarti anak dipaksa untuk menjadi ahli dalam segala hal, melainkan menjadikan ketiga bidang tersebut sebagai teman untuk bertumbuh. Berangkat dari teori perkembangan psikologi, anak-anak mulai mampu berpikir logis
dengan tetap membutuhkan contoh nyata, benda konkret, dan pengalaman langsung untuk memahami suatu konsep. Matematika tumbuh ketika anak menghitung hari menuju ulang tahun atau membandingkan ukuran mainannya. Sains tumbuh ketika anak bertanya mengapa langit berwarna biru, mengapa ada pelangi setelah hujan atau mengapa hari menjadi gelap ketika malam.
Teknologi tumbuh ketika anak mencoba merakit mainan sederhana atau menggunakan aplikasi digital untuk menggambar dan mengeksplorasi ide-idenya.
Semua pengalaman tersebut berawal dari rasa ingin tahu, dan psikologi perkembangan memahami bahwa rasa ingin tahu yang muncul merupakan salah satu kunci penggerak bagi anak dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru memiliki peran untuk menyusun strategi pembelajaran melalui permainan, eksperimen sederhana, dan dengan memanfaatkan teknologi, serta memberi ruang bagi anak untuk bertanya agar dapat menciptakan suasana yang menyenangkan serta bermakna.
Dengan menggunakan petunjuk dari psikologi perkembangan, maka tugas guru bukan hanya untuk memberikan jawaban, tetapi juga menjaga rasa ingin tahu tetap hidup pada anak.
Peran guru dan orang tua dalam menumbuhkan rasa ingin tahu
Dalam rangka menstimulasi pemahaman anak dalam bidang matematika, sains, dan teknologi, peran orang tua dan pendidik sangatlah penting. Untuk menumbuhkan kemampuan berpikir anak tidak selalu membutuhkan peralatan yang lengkap dan mahal, tetapi yang paling dibutuhkan adalah pendampingan orang dewasa terhadap anak untuk mengamati, bertanya, dan mencoba.
Guru berperan untuk merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, sedangkan orang tua juga dapat memperkuat pengalaman belajar melalui aktivitas sederhana di rumah seperti membangun interaksi yang hangat dan rutin melalui pengalaman yang dialami anak dalam kehidupan sehari-hari, bermain bersama, serta memberikan contoh untuk mengatasi suatu permasalahan. Ketika guru dan orang tua bekerja sama, maka anak akan memperoleh kesempatan belajar secara konsisten.
Berbagai penelitian menjelaskan bahwa partisipasi aktif antara orang tua dan guru untuk memberikan stimulasi positif dalam bentuk permainan maupun kegiatan eksplorasi dapat membantu mengembangkan keterampilan berpikir anak.
Ketika interaksi serta aktivitas sehari-hari dikaitkan dengan penggunaan istilah matematika atau menjelaskan proses ilmiah, dapat mendukung perkembangan kognitif anak (Leda & Marliah, 2025). Anak perlu diberikan pertanyaan terbuka untuk memancing diskusi
mengenai pengalaman mereka sehari-hari. Dengan demikian, guru maupun orang tua perlu menciptakan lingkungan yang dapat mendukung stimulasi matematika dan sains secara menyenangkan dan bebas stres demi mendukung proses perkembangan anak.
Peran teknologi sebagai sarana pembelajaran
Di era perkembangan digital yang sangat pesat seperti sekarang, teknologi memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan. Saat ini, pengalaman belajar anak sudah mulai distimulasi melalui media digital. Namun, pada kenyataannya, peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN, Soeharto dalam suatu diskusi kegiatan webinar mengungkapkan rendahnya minat generasi muda terhadap bidang matematika, sains, dan teknologi yang masih berada di bawah beberapa negara tetangga, sehingga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi saat ini. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu memposisikan teknologi sebagai alat untuk mengembangkan pengalaman belajar.
Proses pengembangan pembelajaran dapat dimulai dari pemanfaatan coding, alat peraga elektronika, permainan edukatif untuk numerasi anak, hingga penggunaan mixed reality yang menggabungkan teknologi virtual ke dalam aktivitas belajar untuk memberikan pengalaman belajar yang imersif, interaktif, dan kontekstual (Ramadhani et al., 2026) .
Pemanfaatan teknologi dapat menjadi sarana yang mendukung peningkatan rasa ingin tahu, kreativitas, serta kemampuan problem solving pada anak.
Beberapa inovasi pembelajaran telah dikembangkan melalui platform pembelajaran berbasis GeoGebra untuk membantu mengenalkan konsep numerasi dasar, dan perangkat pembelajaran berbasis Arduino dapat digunakan untuk mengenalkan konsep sains, teknologi, dan rekayasa secara praktis ( (Sylviani & Permana, 2019), (Murniati & Fahmi, 2025)).
Meskipun penggunaan teknologi digital memberi peluang besar untuk meningkatkan kemampuan anak, teknologi digital juga memunculkan risiko ketergantungan anak terhadap visualisasi digital. Media digital memang dapat membantu untuk menjelaskan konsep yang sulit dibayangkan, namun apabila digunakan secara berlebihan tanpa diimbangi pengalaman nyata, kesempatan anak untuk mengembangkan imajinasi, keterampilan sosial, dan kemampuan eksplorasi lingkungan secara langsung akan hilang.
Semboyan dari Ki Hajar Dewantara “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” memiliki makna di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan (Fuadi et al., 2025) .
Melalui semboyan tersebut hubungan guru dan anak merupakan hubungan yang saling mendukung demi menumbuhkan potensi terbaik. Pendidikan merupakan proses untuk menuntun kodrat anak agar tumbuh sesuai kemanusiaannya. Landasan filosofis yang kuat bagi sistem pendidikan di era pembelajaran digital memiliki makna bahwa guru perlu mengajarkan anak untuk menggunakan teknologi secara bijak dan beretika (Hutagalung & Andriany, 2024).
Teknologi digunakan untuk mengoptimalkan cara kerja memori dan perhatian anak, bukan untuk menggantikan hubungan guru dengan siswa, tetapi justru untuk memperkuat pemahaman anak. Selain itu, posisi teknologi hanyalah sebagai sarana untuk mendukung kebebasan berpikir dan pembentukan karakter, sehingga anak terdorong untuk belajar karena keinginan untuk tumbuh (Witragunaa et al., 2026). Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, penanaman nilai-nilai etis kepada anak juga penting agar kemajuan teknologi dapat berjalan selaras dengan pembentukan karakter yang berintegritas.
Menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dari ruang kelas
Ketika ditanya, bagaimana praktik di satu ruang kelas dapat berkaitan dengan cita-cita besar Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur, jawabannya terletak pada proses bertumbuh yang dibangun setiap hari. Anak yang dibiasakan berpikir kritis, logis, dan bersikap bijak akan tumbuh menjadi warga negara yang memiliki prinsip tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan, dan mampu membaca data. Kemampuan tersebut dapat menjadi fondasi kedaulatan bangsa.
Kemudian, proses pembelajaran yang memperhatikan psikologi perkembangan anak dan menggunakan bahan-bahan sederhana adalah bentuk keadilan dalam pendidikan. Setiap anak dari berbagai latar belakang juga dapat ikut tumbuh bersama matematika, sains, dan teknologi.
Penanaman kemampuan literasi numerasi, ilmiah, dan digital sejak dini juga dapat menjadi modal produktivitas di masa depan. Karena, di masa depan anak-anak akan tumbuh dan mengembangkan teknologi, melakukan riset, ataupun mengelola usaha dengan dasar pendidikan yang kuat. Selain itu, kemampuan berpikir kritis, literasi numerasi, sains, dan kemampuan mengelola media digital akan menjadi bekal bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam memajukan bangsa. Dengan demikian, kita sedang menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kemakmuran bangsa.
Kesimpulan
Pendidikan matematika, sains, dan teknologi yang dikenalkan sejak dini kepada anak baik di sekolah maupun di rumah merupakan suatu langkah fundamental untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan keberanian anak dalam menghadapi tantangan sesuai tahap perkembangannya. Ketika pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna dihadirkan oleh guru dan orang tua, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan tetapi juga membangun karakter sebagai pembelajar selama hidupnya.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ruang kelas menjadi tempat lahirnya generasi muda yang kritis, inovatif, dan berintegritas serta memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. Anak-anak yang tumbuh dari rasa ingin tahu, berani mencoba dan ingin terus belajar pada akhirnya akan membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur, sehingga dari ruang kelas sederhana, masa depan bangsa mulai dibentuk.
*Penulis adalah Kepala SD Negeri 09 Jongkat, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat






