SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Dunia Inggris Tetapkan Status Kekeringan, Gelombang Panas Picu Krisis Air dan Kebakaran Hutan

Inggris Tetapkan Status Kekeringan, Gelombang Panas Picu Krisis Air dan Kebakaran Hutan

Inggris menetapkan status kekeringan di separuh wilayahnya akibat cuaca panas ekstrem, yang memicu krisis air, ancaman kesehatan, dan kebakaran hutan. (The Independent/DOK)

Suara Kalbar – Badan Lingkungan Hidup (Environment Agency) Inggris resmi menetapkan status kekeringan di hampir separuh wilayah negara tersebut menyusul minimnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara secara drastis.

Fenomena flash drought atau kekeringan mendadak kini melanda sejumlah kawasan, di antaranya East Anglia, Hertfordshire, London, Thames Valley, Hampshire, Isle of Wight, Devon, Cornwall, West Midlands, hingga Wessex.

Kondisi tersebut diperparah dengan catatan curah hujan yang sangat rendah sepanjang Juli 2026. Bulan ini bahkan diperkirakan menjadi Juli terkering dalam sejarah pencatatan cuaca di Inggris setelah hanya menerima sekitar 7 persen dari total curah hujan normal.

Situasi itu mendorong Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengeluarkan peringatan bahaya kesehatan akibat cuaca panas dengan status kuning dan amber di sejumlah wilayah.

Peringatan berstatus kuning diberlakukan untuk Yorkshire and the Humber, West Midlands, serta Southwest. Sementara itu, East Midlands, Inggris Timur, London, dan South East berada dalam status amber karena suhu udara yang dinilai berpotensi membahayakan kelompok masyarakat rentan.

Tak hanya menghadapi krisis air, Inggris juga dihadapkan pada meningkatnya ancaman kebakaran hutan, terutama di wilayah selatan dan tenggara.

Dewan Kepala Pemadam Kebakaran Nasional (National Fire Chiefs Council/NFCC) mencatat petugas pemadam kebakaran di Inggris dan Wales telah menangani sebanyak 706 kebakaran hutan sepanjang 2026.

“Yang mengejutkan, sebanyak 208 di antaranya terjadi hanya dalam dua minggu terakhir seiring dengan datangnya gelombang panas keempat musim panas ini,” tulis The Independent, Kamis (30/7/2026).

Dampak kekeringan juga mulai mengancam kawasan konservasi. Di Skotlandia, petugas pemadam kebakaran masih berupaya mengendalikan kebakaran besar yang terjadi di kawasan Cairngorms.

Penasihat taktis kebakaran hutan, Thomas Mortimer, mengatakan proses pemadaman berlangsung cukup sulit setelah kobaran api sempat melompati jalur penyekat api (firebreak).

Meski demikian, ia mengapresiasi kerja sama tim gabungan dan dukungan masyarakat setempat yang membantu menahan laju penyebaran api.

“Kami pernah mengalami kebakaran hutan berskala besar di Skotlandia pada masa lalu. Kejadian ini tentu menjadi insiden yang sangat signifikan dan menantang bagi kami,” ujar Mortimer.

Ia menambahkan, “Namun, sangat menggembirakan melihat betapa kerasnya semua orang bekerja hingga kita mencapai tahap ini, begitu pula dukungan dari masyarakat lokal yang memungkinkan kami dan para mitra melakukan tugas tersebut.”

Krisis kekeringan tersebut juga mendapat sorotan dari berbagai organisasi kemanusiaan dan lingkungan, salah satunya WaterAid.

Organisasi itu mendesak pemerintah Inggris menjadikan ketahanan air sebagai prioritas, mengingat dampak perubahan iklim kini semakin nyata dengan mengeringnya rumput di taman-taman kota serta menyusutnya debit sungai dan waduk.

Penasihat Advokasi Iklim Senior WaterAid, Julie Henri, mengatakan krisis air yang kini dirasakan Inggris merupakan kenyataan yang telah lama dihadapi banyak negara miskin.

“Saat suhu melonjak, nilai dari sebotol air menjadi hal yang mustahil untuk diabaikan, ketika rumput kita berubah menjadi cokelat serta sungai dan waduk kita mengering,” kata Henri.

Ia juga mendesak pemerintah Inggris mengambil peran lebih besar dalam memperkuat ketahanan air di tingkat global.

“Memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit air telah menjadi kenyataan iklim bagi banyak negara termiskin di dunia yang menghadapi risiko terbesar namun memiliki sumber daya paling sedikit untuk beradaptasi. Setiap orang, di mana pun berada, membutuhkan air. Kami mendesak Menteri Luar Negeri yang baru untuk mengangkat isu ketahanan air sebagai prioritas demi menjaga keselamatan masyarakat dan mata pencaharian mereka,” tutup Henri.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play