Astronom Klaim Temukan Exomoon Pertama, Bulan di Luar Tata Surya Mulai Terungkap
Suara Kalbar – Setelah lebih dari tiga dekade berhasil menemukan ribuan planet di luar tata surya (eksoplanet), para astronom kini melaporkan penemuan yang disebut-sebut sebagai kandidat exomoon pertama atau bulan yang mengorbit objek di luar tata surya.
Jika nantinya terkonfirmasi, temuan ini akan menjadi tonggak penting dalam dunia astronomi sekaligus membuka babak baru dalam upaya memahami pembentukan sistem planet di alam semesta.
Selama ribuan tahun manusia telah mengamati Bulan, bintang, dan planet di langit malam. Namun, baru pada 1992 astronom berhasil mengonfirmasi eksoplanet pertama.
Sejak saat itu, jumlah eksoplanet yang ditemukan terus meningkat hingga melampaui 6.000 planet, membuat para ilmuwan meyakini hampir setiap bintang di galaksi memiliki sistem planetnya sendiri.
Meski demikian, keberadaan exomoon selama ini masih menjadi misteri karena belum pernah berhasil dipastikan keberadaannya.
Ditemukan di Sistem CD-35 2722
Dikutip dari Time, objek tersebut ditemukan menggunakan Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory (ESO) di Chile.
Objek itu berada di sistem CD-35 2722, sekitar 73 tahun cahaya dari Bumi.
Dalam skala kosmik, jarak tersebut tergolong relatif dekat sehingga memungkinkan pengamatan lebih rinci menggunakan teleskop modern.
Yang membuat penemuan ini berbeda adalah objek tersebut tidak mengorbit sebuah planet sebagaimana Bulan mengelilingi Bumi.
Sebaliknya, benda itu mengorbit katai cokelat (brown dwarf), yakni objek yang berada di antara planet raksasa dan bintang.
Katai cokelat sering dijuluki sebagai “bintang gagal” karena terbentuk seperti bintang, tetapi massanya tidak cukup besar untuk memicu reaksi fusi hidrogen di intinya.
Dalam sistem ini, katai cokelat memiliki massa sekitar 33 kali massa Jupiter, sedangkan objek yang mengitarinya diperkirakan memiliki massa sedikitnya setara dengan Jupiter.
Statusnya Masih Diperdebatkan
Keunikan sistem tersebut membuat para astronom masih memperdebatkan klasifikasi objek yang ditemukan.
Di satu sisi, massanya cukup besar sehingga menyerupai planet gas raksasa.
Namun di sisi lain, objek tersebut mengorbit katai cokelat, bukan bintang secara langsung.
Karena alasan itu, tim peneliti lebih memilih menyebutnya sebagai eksosatelit, sementara statusnya sebagai exomoon masih menjadi bahan diskusi ilmiah.
Penulis utama penelitian dari Universidad Diego Portales dan European Southern Observatory, Kevin Hoy, mengatakan sistem tersebut sulit dijelaskan menggunakan definisi yang selama ini dipakai dalam tata surya.
Menurutnya, objek tersebut memiliki massa yang cukup besar untuk disebut planet, tetapi pola orbitnya membuat klasifikasinya jauh lebih rumit.
Sementara itu, anggota tim peneliti Alice Zurlo menjelaskan bahwa batas antara planet, bulan, dan bintang yang selama ini dianggap jelas ternyata menjadi kabur ketika berhadapan dengan sistem seperti CD-35 2722.
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature.
Mengapa Exomoon Sangat Sulit Ditemukan?
Selama ini para astronom telah menemukan ribuan eksoplanet, tetapi belum pernah mengonfirmasi keberadaan exomoon.
Kesulitan utamanya terletak pada ukuran exomoon yang jauh lebih kecil dibandingkan planet maupun bintang.
Sebagian besar eksoplanet ditemukan menggunakan metode transit, yakni ketika planet melintas di depan bintang induknya sehingga menyebabkan cahaya bintang meredup dalam jumlah yang sangat kecil.
Metode lain adalah kecepatan radial, yaitu mengamati goyangan kecil pada bintang akibat tarikan gravitasi planet yang mengorbitnya.
Dalam penelitian sistem CD-35 2722, para astronom menggunakan metode kecepatan radial untuk mengukur perubahan kecil pada gerakan katai cokelat akibat pengaruh gravitasi objek yang mengitarinya.
Melalui perubahan tersebut, para peneliti kemudian menghitung massa objek yang diduga sebagai exomoon.
Membuka Babak Baru Astronomi
Penemuan ini dinilai menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana sistem planet terbentuk di alam semesta.
Selama ini para ilmuwan memperkirakan apabila sebagian besar planet di tata surya memiliki satelit alami, maka eksoplanet di sistem bintang lain kemungkinan juga memiliki bulan.
Namun hingga kini belum ada bukti observasi yang benar-benar meyakinkan.
Kevin Hoy mengingatkan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan besar hanya berdasarkan satu sistem.
Menurutnya, para astronom belum mengetahui apakah sistem seperti CD-35 2722 merupakan fenomena yang umum terjadi atau justru sangat langka.
Karena itu, tim peneliti akan melanjutkan pencarian terhadap kandidat exomoon lain yang saat ini masih dalam tahap pengamatan.
Teleskop ELT Diperkirakan Percepat Penemuan Baru
Pencarian exomoon diperkirakan akan semakin berkembang ketika Extremely Large Telescope (ELT) milik ESO mulai beroperasi di Chile pada awal 2029.
Teleskop raksasa tersebut dirancang mampu mengumpulkan cahaya sekitar 20 kali lebih banyak dibandingkan Very Large Telescope yang digunakan dalam penelitian ini.
Kemampuan tersebut memungkinkan para astronom mengamati sistem eksoplanet secara lebih rinci sekaligus meningkatkan peluang menemukan lebih banyak kandidat exomoon di masa depan.
Penemuan di sistem CD-35 2722 kembali menunjukkan bahwa alam semesta menyimpan keragaman yang jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.
Setelah ribuan eksoplanet berhasil ditemukan dalam tiga dekade terakhir, keberadaan kandidat exomoon membuka cakrawala baru bagi penelitian astronomi dan memperlihatkan masih banyak misteri kosmos yang menunggu untuk diungkap.
Sumber: Beritasatu.com






