SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Bos XPeng Prediksi Banyak Merek Mobil Listrik Tumbang, Hanya Perusahaan Berbasis AI yang Akan Bertahan

Bos XPeng Prediksi Banyak Merek Mobil Listrik Tumbang, Hanya Perusahaan Berbasis AI yang Akan Bertahan

VP XPeng Brian Gu ingatkan banyak merek EV terancam gulung tikar akibat persaingan ketat, menekankan pentingnya inovasi AI dan teknologi. (Drive/DOK)

Suara Kalbar – Persaingan di industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa tahun ke depan. Vice President XPeng, Dr. Brian Gu, bahkan memprediksi tidak semua produsen mobil, termasuk startup kendaraan listrik asal Tiongkok, akan mampu bertahan menghadapi perubahan besar menuju era elektrifikasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pernyataan tersebut disampaikan Brian Gu saat peluncuran ulang merek XPeng di Australia. Langkah itu dilakukan setelah XPeng mengambil alih langsung operasional bisnisnya dari distributor independen yang sebelumnya menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keterlambatan pasokan suku cadang, program cashback, hingga sengketa hukum.

Menurut Gu, XPeng memiliki komitmen jangka panjang untuk tetap bersaing di pasar global melalui inovasi teknologi, pengembangan AI, serta menghadirkan produk yang memiliki karakter berbeda dibandingkan para kompetitornya.

“Kami berinvestasi untuk jangka panjang, bukan sekadar meluncurkan satu model atau menjual beberapa unit mobil. Kami ingin masyarakat menyadari bahwa XPeng adalah merek yang berbeda dari EV lain di pasar. Saat ini ada terlalu banyak merek EV yang menawarkan fitur hampir serupa,” ujar Brian Gu, dikutip dari Drive, Kamis (23/7/2026).

Industri Otomotif Dinilai Sedang Mengalami Perubahan Besar

Brian Gu membandingkan kondisi industri otomotif saat ini dengan persaingan industri smartphone pada pertengahan tahun 2000-an.

Menurutnya, peralihan menuju kendaraan listrik dan mobil pintar berlangsung sangat cepat sehingga produsen yang gagal beradaptasi berisiko kehilangan daya saing.

Fenomena tersebut mulai terlihat di berbagai negara. Di Australia, Fiat telah menghentikan impor mobil penumpangnya, sementara distributor independen Peugeot juga memutuskan mengembalikan hak distribusi merek tersebut.

Di tingkat global, tekanan persaingan dari produsen otomotif asal Tiongkok turut memengaruhi perusahaan-perusahaan besar. Volkswagen Group, misalnya, dikabarkan tengah melakukan efisiensi besar-besaran yang berpotensi memangkas hingga 100.000 tenaga kerja serta mengurangi sekitar separuh lini produknya.

Padahal, Volkswagen sendiri diketahui memiliki kerja sama pengembangan platform kendaraan listrik bersama XPeng untuk pasar Tiongkok.

Produsen Mobil Harus Bertransformasi Menjadi Perusahaan Teknologi

Brian Gu menilai tantangan industri otomotif modern jauh lebih kompleks dibandingkan era sebelumnya.

Menurutnya, perusahaan otomotif tidak lagi cukup hanya mengandalkan kapasitas produksi dan jaringan manufaktur. Untuk bertahan, produsen juga harus memiliki kemampuan mengembangkan perangkat lunak, teknologi AI, hingga membangun ekosistem kendaraan pintar secara menyeluruh.

Ia menyebut kemampuan tersebut sebagai full-stack capability, yakni kemampuan menguasai seluruh rantai pengembangan teknologi mulai dari perangkat keras hingga perangkat lunak.

“Kemampuan seperti ini tidak mudah dimiliki oleh setiap perusahaan. Oleh karena itu, pada akhirnya jumlah pemain yang mampu bertahan di era otomotif baru ini akan jauh lebih sedikit dibandingkan era otomotif lama,” jelasnya.

Persaingan EV di China Semakin Ketat

China saat ini menjadi pasar kendaraan listrik terbesar sekaligus paling kompetitif di dunia.

Namun, perlambatan pertumbuhan permintaan domestik dan kapasitas produksi yang berlebih membuat banyak produsen asal Tiongkok mulai memperluas ekspansi ke pasar internasional.

Meski sepanjang semester pertama tahun ini tercatat sekitar 650 model baru dan penyegaran produk diluncurkan di China, Brian Gu menilai sebagian besar hanyalah pembaruan ringan atau facelift, bukan kendaraan yang benar-benar baru.

Karena itu, menurutnya keberhasilan sebuah merek tidak ditentukan oleh banyaknya model yang diluncurkan, melainkan kemampuan menghadirkan inovasi yang mampu menarik perhatian konsumen serta meningkatkan pangsa pasar.

XPeng Catat Pertumbuhan Pengiriman Lebih dari 100 Persen

Di tengah persaingan yang semakin ketat, XPeng mengklaim tetap mencatat pertumbuhan yang kuat.

Perusahaan tersebut melaporkan pengiriman kendaraan secara global meningkat 126 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian tersebut menjadi modal bagi XPeng untuk memperluas kehadiran di berbagai negara sekaligus memperkuat posisinya sebagai produsen kendaraan listrik premium yang mengedepankan teknologi AI dan mobilitas cerdas.

Dengan semakin ketatnya kompetisi global, pernyataan Brian Gu memperlihatkan bahwa masa depan industri otomotif tidak hanya akan ditentukan oleh kemampuan memproduksi mobil listrik, tetapi juga oleh penguasaan teknologi kecerdasan buatan, perangkat lunak, serta inovasi digital yang mampu memberikan pengalaman baru bagi pengguna.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play