SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Riset Jepang Ungkap Mobil Manual Ternyata Baik untuk Kesehatan Otak

Riset Jepang Ungkap Mobil Manual Ternyata Baik untuk Kesehatan Otak

Penelitian Jepang mengungkap mengemudi mobil manual aktifkan korteks prefrontal otak, jaga fungsi kognitif tetap tajam meski populasinya kian langka. (Google)

Suara Kalbar – Mobil bertransmisi manual selama ini identik dengan sensasi berkendara yang lebih menyenangkan, terutama bagi para pecinta otomotif. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Jepang mengungkap manfaat lain yang tak kalah menarik. Mengemudikan mobil manual ternyata diyakini dapat membantu menjaga fungsi otak tetap aktif.

Temuan tersebut menjadi angin segar di tengah semakin langkanya mobil bertransmisi manual di pasar otomotif global. Jika selama ini perdebatan soal transmisi manual hanya berkutat pada performa dan pengalaman berkendara, kini ada alasan baru yang berkaitan dengan kesehatan kognitif.

Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Ryuta Kawashima, pakar pencitraan saraf dari Institute of Development, Aging, and Cancer di Tohoku University. Nama Kawashima dikenal luas sebagai ilmuwan yang menjadi dasar pengembangan gim pelatih otak Brain Age milik Nintendo.

Mengutip laporan Best Car Web, Minggu (28/6/2026), penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas mengemudikan mobil manual mampu merangsang kerja korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang berperan dalam mengatur memori, konsentrasi, hingga pengambilan keputusan.

Saat mengemudi mobil manual, pengendara harus melakukan berbagai aktivitas secara bersamaan, mulai dari memperhatikan kondisi lalu lintas, menginjak pedal kopling, memilih gigi transmisi, hingga mengatur tekanan pedal gas.

“Menjaga semua koordinasi ini tetap sinkron menuntut tingkat keterlibatan aktif yang terus mengikat perhatian pengemudi dari detik ke detik,” tulis hasil penelitian tersebut.

Melatih Otak Lewat Aktivitas Berkendara

Menurut para peneliti, koordinasi kompleks yang dilakukan saat mengoperasikan mobil manual membuat otak terus bekerja memproses berbagai informasi secara bersamaan.

Di negara seperti Jepang yang menghadapi peningkatan jumlah penduduk lanjut usia, aktivitas semacam ini dinilai dapat menjadi latihan ringan untuk membantu mempertahankan kemampuan kognitif.

Sebaliknya, mobil bertransmisi otomatis maupun kendaraan semiotonom dinilai mengurangi keterlibatan aktif pengemudi karena sebagian besar proses perpindahan gigi dan pengaturan tenaga dilakukan secara otomatis.

Mobil Manual Kian Langka

Meski memiliki sejumlah keunggulan, popularitas mobil manual terus mengalami penurunan, termasuk di Jepang.

Best Car Web melaporkan mobil bertransmisi manual kini hanya menyumbang sekitar 1 hingga 2 persen dari total penjualan kendaraan baru di Negeri Sakura. Angka tersebut menunjukkan dominasi mobil otomatis yang semakin sulit disaingi.

Saat ini, model-model murah justru menjadi benteng terakhir keberadaan transmisi manual.

Beberapa kendaraan komersial ringan dan kei car seperti Honda N-Van, Daihatsu Hijet, Suzuki Carry, dan Suzuki Every masih mempertahankan pilihan transmisi manual yang dipadukan dengan mesin tiga silinder berkapasitas 660 cc.

Konfigurasi tersebut dipertahankan untuk menjaga harga kendaraan tetap terjangkau sekaligus memenuhi kebutuhan pelaku usaha.

Mobil Sport Pun Mulai Beralih ke Otomatis

Di segmen kendaraan penumpang, pilihan transmisi manual semakin terbatas.

Model populer seperti Toyota Corolla dan Honda Civic versi standar kini hanya tersedia dengan transmisi CVT karena telah mengadopsi teknologi hybrid.

Pilihan transmisi manual kini hanya tersisa pada beberapa varian performa tinggi atau hot hatch.

Bahkan, Honda Prelude generasi terbaru yang mengusung citra mobil sport juga hadir tanpa opsi transmisi manual. Sebagai gantinya, Honda menghadirkan simulasi perpindahan gigi virtual agar sensasi berkendaranya tetap terasa sporty.

Di tengah perubahan tersebut, mobil-mobil kei car masih menjadi harapan terakhir bagi kelangsungan transmisi manual di Jepang.

Selama produsen otomotif masih mempertahankan mobil kecil dengan tiga pedal, warisan berkendara menggunakan transmisi manual diyakini belum akan benar-benar hilang dari industri otomotif.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play