SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Nakba Bukan Peristiwa untuk Dilupakan

Nakba Bukan Peristiwa untuk Dilupakan

Ilustrasi – Nakba/int

Oleh: Lalitya Mahardhika, S.Kes., Ftr

Dari kamp pengungsian di Palestina hingga jalan-jalan besar di seluruh dunia memperingati Peristiwa Nakba pada 15 Mei. Tahun ini adalah tahun ke-78 atas tragedi besar di tahun 1948 ketika sekitar 800.000 warga Palestina diusir atau terpaksa eksodus dari tanah airnya. Satu hari setelah deklarasi kemerdekaan Israel inilah warga Palestina menjadi pengungsi di tanah sendiri hingga saat ini.

Israel telah menduduki 1000 m² wilayah Gaza, Suriah dan Lebanon sejak 7 Oktober 2023 bahkan akan terus bertambah di tengah ambisi Zionis Israel memperluas wilayah mereka. Lebih menyakitkan lagi, warga Palestina terutama umat muslim Palestina, sejak 1948 melawan penjajahan itu sendiri tanpa kehadiran pemimpin-pemimpin muslim.

Pemimpin-pemimpin muslim, termasuk Prabowo-Presiden Indonesia saat ini, berulang kali menyerukan solusi 2 negara atas genosida Palestina. Solusi ini bahkan pernah Prabowo sampaikan di Sidang Umum PBB tahun 2025, ia menyatakan hanya solusi 2 negara inilah yang mampu membawa perdamaian. Pernyataan ini jelas sejalan dengan solusi praktis yang selalu ditawarkan oleh Amerika dan Perserikatan Bangsa-Bangsa yaitu membagi dua tanah Palestina menjadi untuk Zionis dan Palestina.

Usulan ini pertama kali muncul pada Laporan Komisi Peel di tahun 1937. Saat itu terjadi migrasi besar Yahudi Eropa ke Palestina di bawah mandat Inggris yang mendukung didirikannya Negara Yahudi di tanah Palestina. Laporan tersebut merekomendasikan agar lebih dari 200.000 warga Palestina dipindahkan dari rumah mereka untuk mengakomodasi negara Yahudi yang baru. Pada akhirnya, warga Palestina hanya disisakan tanah tandus yang dikenal saat ini sebagai wilayah Tepi Barat dan Gaza. Tapi ternyata, hari ini Tepi Barat telah dikuasai Israel dan warga Gaza terus dibunuh untuk tanahnya bisa dikuasai oleh Zionis Israel sepenuhnya. Inikah solusi yang diinginkan oleh pemimpin negeri-negeri muslim?

Solusi 2 negara hanyalah tipu daya Barat dan Zionis Israel untuk menguasai tanah Palestina seutuhnya, dari awal mereka tidaklah menginginkan hidup berdampingan dengan warga Palestina. Gagasan tersebut bukanlah ramuan ajaib yang layak diserukan oleh pemimpin negeri muslim dengan tujuan untuk menghapus genosida pada warga Palestina. Bahkan PM Netanyahu saja di sidangan PPB September 2025 secara terang-­terang­an telah menolak gagasasan tersebut. Netanyahu juga menegaskan tidak akan berhenti sebelum Gaza dikuasai oleh Israel dan menyebut ide negara Palestina sebagai “sheer madness” (kegilaan murni). Semua ini teleh membuktikan Israel tidak berniat memberikan kemerdekaan pada Palestina meskipun setitik.

Maka dari itu, seluruh pemimpin negeri-negeri muslim dan seluruh kaum muslimin hendaknya meyadari bahwa masih bergantung pada solusi 2 negara hanyalah angan kosong. Perlu dipahami bahawa pembebasan penjajahan atas Palestina hanya akan mampu disolusikan dengan adanya keberadaan Negara Islam atau Khilafah. Khilafah adalah  kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam di dunia untuk menerapkan syariat dan mengurus urusan agama serta dunia.

Berdasarkan fakta sejarah, wilayah Palestina berabad-abad pernah berada dalam naungan kepemimpinan Negara Islam. Selama itu, tanah adan kehidupan warga Palestina berada dalam kebaikan di mana pluralitas agama diakui dan terlindungi satu sama lain melalui sistem hukum yang menjamin unsur-unsur pokok kehidupan yakni menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, harta, kehormatan dan lingkungan negara.

Negara islam atau Khilafah akan memberlakukan hukum berdasarkan syariat Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Al-Qur’an telah mengemukakan kepada manusia tentang rahasia kebaikan penerapan Islam dalam negara yaitu bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang “…memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus,” (Al-Isra’:39). Maka penegakkan Khilafah adalah perwujudan dari penerapan perintah Allah di dalam Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Khalifah Mu’tashim Billah adalah contoh pemimpin negara Khilafah yang gagah berani membawa tentara Muslim melawan tentara Romawi di Kota Ammuriah untuk membebaskan seorang tawanan Muslimah yang dilecehkan. Begitulah sejatinya pemimpin, ia tak akan diam dan sekedar mengecam saja namun dengan memobilisasi pasukan Muslim untuk mengalahkan negara pelaku kejahatan.

Sungguh keberadaan Khilafah adalah cita-cita besar yang hendaknya diperjuangkan oleh seluruh kaum muslimin di dunia untuk menyelamatkan saudara di Palestina. Rasulullah bersabda “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak merendahkannya.”. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Aktivis Muslimah Kalimantan Barat

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play