SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak Studi Tiru ke Pontianak, Toraja Utara Kagumi Harmoni di Tengah Keberagaman

Studi Tiru ke Pontianak, Toraja Utara Kagumi Harmoni di Tengah Keberagaman

Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong memasangkan kain khas Toraja kepada Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono. SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa

Pontianak (Suara Kalbar)– Pemerintah Kabupaten Toraja Utara bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melakukan kunjungan studi tiru ke Kota Pontianak untuk mempelajari pola pengelolaan kerukunan umat beragama serta strategi pencegahan konflik sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Kota Pontianak dipilih karena dinilai berhasil menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan masyarakat meskipun dihuni oleh beragam suku, agama, dan latar belakang budaya. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu alasan daerah lain menjadikan Pontianak sebagai referensi dalam membangun toleransi dan kebersamaan.

Rombongan dipimpin oleh Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, yang mengaku terkesan dengan berbagai pendekatan sosial yang diterapkan Pemerintah Kota Pontianak dalam menjaga keharmonisan masyarakat.

Salah satu hal yang menarik perhatian selama kunjungan tersebut adalah budaya ngopi yang tumbuh kuat di tengah masyarakat Pontianak. Menurut Frederik, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman, melainkan ruang publik yang menjadi wadah interaksi sosial berbagai kalangan.

Ia melihat masyarakat memanfaatkan warung kopi sebagai tempat berdiskusi, bertukar gagasan, hingga membahas berbagai persoalan kehidupan sehari-hari secara terbuka. Interaksi yang intens tersebut dinilai berperan penting dalam membangun kedekatan antarmasyarakat.

“Filosofi warung kopi itu luar biasa. Di dalam secangkir kopi ada pahit dan manis kehidupan yang bisa dinikmati bersama,” ujarnya saat pertemuan dengan Pemerintah Kota Pontianak dan FKUB Pontianak di Ruang Rapat Wali Kota Pontianak, Kamis (4/6/2026).

Meski daerah yang dipimpinnya dikenal sebagai salah satu penghasil kopi berkualitas di Indonesia, Frederik mengungkapkan budaya nongkrong di warung kopi belum berkembang seperti di Pontianak. Masyarakat Toraja Utara umumnya lebih terbiasa menikmati kopi di rumah.

Karena itu, ia mengaku tertarik mengadopsi konsep ruang interaksi sosial berbasis warung kopi sebagai salah satu cara mempererat hubungan antarwarga di daerahnya.

Selain budaya ngopi, Frederik juga memberikan apresiasi terhadap capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak yang telah berada pada kategori sangat tinggi. Menurutnya, keberhasilan pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dilepaskan dari kondisi daerah yang aman dan harmonis.

Ia menegaskan bahwa kerukunan masyarakat merupakan fondasi utama dalam mendorong kemajuan suatu daerah. Tanpa stabilitas sosial, pembangunan sulit berjalan secara optimal.

“Tidak ada daerah yang bisa berkembang dengan baik apabila kerukunan dan keharmonisan masyarakatnya tidak terjaga,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menjelaskan bahwa sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak memiliki karakter masyarakat yang sangat heterogen dan terbuka terhadap pendatang.

Menurut Edi, tantangan terbesar dalam menjaga stabilitas sosial adalah memastikan komunikasi antar kelompok masyarakat tetap berjalan dengan baik. Karena itu, pemerintah terus mendorong dialog lintas komunitas dan memperkuat peran tokoh masyarakat serta tokoh adat.

Ia mengungkapkan bahwa konflik yang pernah terjadi di Kalimantan Barat umumnya lebih banyak dipicu oleh persoalan identitas kesukuan dibandingkan faktor agama. Oleh sebab itu, pendekatan komunikasi dan mediasi menjadi langkah utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

“Jika ada persoalan, kami mengundang para tokoh untuk duduk bersama mencari solusi. Apabila berkaitan dengan hukum, tentu diserahkan kepada aparat penegak hukum untuk diproses sesuai aturan yang berlaku,” jelasnya.

Edi menilai budaya ngopi menjadi salah satu kekuatan sosial yang unik di Pontianak. Warung kopi telah berkembang menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan tanpa memandang usia, profesi, suku, maupun agama.

Di tempat-tempat tersebut, warga dapat saling mengenal, berbagi informasi, hingga berdiskusi mengenai berbagai isu sosial, ekonomi, bahkan politik. Interaksi yang terbangun secara alami itulah yang dinilai mampu memperkuat kohesi sosial masyarakat.

“Walaupun di rumah masing-masing tersedia kopi, masyarakat tetap datang ke warung kopi karena suasana kebersamaan, silaturahmi, dan ruang interaksi yang tercipta di sana,” tuturnya.

Selain memperkuat ruang sosial melalui budaya ngopi, Pemerintah Kota Pontianak juga terus mengembangkan ruang terbuka hijau dan kawasan publik yang nyaman. Kehadiran ruang publik dinilai penting untuk memperluas interaksi masyarakat sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.

Menurut Edi, semakin banyak warga berinteraksi dalam suasana yang positif, semakin besar pula peluang untuk membangun sikap saling menghargai dan memahami perbedaan.

“Pontianak dibangun dengan semangat kekeluargaan. Banyak warga berasal dari berbagai daerah, sehingga kami ingin kota ini tetap menjadi tempat yang ramah, nyaman, dan terbuka bagi semua,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui menjaga harmoni sosial di kota besar bukan perkara mudah. Berbagai tantangan masih harus dihadapi, mulai dari persoalan ketertiban umum, mobilitas penduduk, hingga berbagai persoalan sosial perkotaan lainnya.

Karena itu, Edi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, organisasi masyarakat, serta seluruh warga dalam menjaga suasana kondusif di Kota Pontianak.

“Yang terpenting adalah komunikasi. Ketika ada persoalan, kita mediasi dan mencari jalan keluar bersama. Dengan saling mengenal dan berinteraksi, masyarakat akan lebih mudah menerima perbedaan dan hidup berdampingan secara harmonis,” pungkasnya.

Penulis: Diko Eno

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play