Demi Persatuan Umat, Yayasan Tjhie San Thong Batalkan Rencana Pembangunan Baru Vihara di Mempawah
Mempawah (Suara Kalbar) – Pengurus Yayasan Tjhie San Thong Mempawah memutuskan membatalkan rencana pembangunan baru Vihara Tjhie San Thong yang berada di Jalan Daeng Manambon, Kelurahan Tengah, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Keputusan tersebut diambil sebagai langkah menjaga keharmonisan dan jalinan silaturahmi antarumat Buddha di Mempawah, menyusul munculnya perbedaan pandangan terkait rencana pembangunan ulang rumah ibadah tersebut.
Hal itu disampaikan Ketua Pengurus Yayasan Tjhie San Thong, Djap Kuang Tang atau akrab disapa Pak Atang, saat ditemui awak media, Minggu (31/5/2026) sore.
Turut mendampingi, Dewan Kehormatan Yayasan Ahiung Stamina, Tokoh Senior Lim Khin Bun atau Akhin, Wakil Ketua Yunardy atau Zee Khouw, Sekretaris Cen Po Hin, serta Bendahara Tikon Kusno atau Chang Ngie Hian.
Pak Atang menjelaskan, keputusan pembatalan pembangunan baru vihara merupakan bentuk komitmen pengurus dalam mengedepankan persatuan umat Buddha di Kabupaten Mempawah.
Menurutnya, rencana pembangunan ulang sebenarnya dilatarbelakangi kondisi bangunan vihara yang telah mengalami kerusakan di sejumlah bagian akibat faktor usia. Pengurus khawatir kondisi tersebut dapat mengganggu kenyamanan bahkan membahayakan keselamatan umat saat menjalankan ibadah.
“Tujuan utama kami adalah menjaga keselamatan umat. Karena kondisi bangunan yang sudah tua dan mengalami kerusakan, muncul rencana membangun kembali vihara dengan bentuk dan lokasi yang sama,” ujarnya.
Namun, rencana tersebut memunculkan pro dan kontra di kalangan umat. Pengurus yayasan telah beberapa kali menggelar pertemuan dan mediasi dengan melibatkan tokoh masyarakat, sesepuh, serta tokoh Buddha. Meski demikian, upaya tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Bahkan mediasi yang berlangsung pada 28 Mei 2026 di Aula Pertemuan Thiew Hen Sin Mu Mempawah juga belum menemukan titik temu. Atas dasar itu, pengurus akhirnya memutuskan menghentikan seluruh rencana pembangunan baru vihara demi menjaga kondusivitas dan persaudaraan antarumat.
Bukan Cagar Budaya
Sementara itu, Wakil Ketua Yayasan Tjhie San Thong, Yunardy atau Zee Khouw, menegaskan bahwa sejumlah informasi yang berkembang di media sosial dan masyarakat perlu diluruskan.
Ia menyatakan Vihara Tjhie San Thong bukan merupakan bangunan yang berstatus cagar budaya sebagaimana yang ramai diperbincangkan.
“Kami tegaskan bahwa Vihara Tjhie San Thong bukan cagar budaya. Vihara ini adalah rumah ibadah umat Buddha dan pengelolaannya dilakukan oleh yayasan bersama umat,” katanya.
Yunardy juga menegaskan pihak yayasan tidak berkeinginan mengusulkan vihara tersebut menjadi cagar budaya di masa mendatang karena fungsi utamanya sebagai tempat ibadah.
Vihara Dibangun Tahun 1942
Penjelasan serupa disampaikan Tokoh Senior Yayasan Tjhie San Thong, Lim Khin Bun atau Akhin. Ia mengatakan informasi yang menyebut vihara berusia 180 tahun tidaklah tepat.
Menurut Akhin, bangunan Vihara Tjhie San Thong yang berdiri saat ini dibangun pada tahun 1942 atau telah berusia sekitar 84 tahun.
Sebelumnya, vihara berada di kawasan Jalan M. Yusuf (belakang Rutan Mempawah) sebelum dipindahkan dan dibangun kembali di lokasi sekarang.
“Yang berusia sekitar 180 tahun adalah rupang atau patung yang ada di vihara, bukan bangunannya,” jelasnya.
Akhin menambahkan, polemik yang terjadi selama ini dipicu oleh informasi yang tidak utuh mengenai kondisi bangunan vihara.
Ia menilai perhatian publik lebih banyak tertuju pada tampilan fisik bangunan yang masih terlihat baik, sementara persoalan utama justru berada pada struktur dan pondasi bangunan yang dinilai telah mengalami kerusakan serius.
Menurut Akhin, sejumlah tukang dan tenaga ahli yang berpengalaman menangani bangunan vihara saat diundang ke Vihara Tjhie San Thong menyatakan tidak berani melakukan perbaikan pada pondasi bangunan setelah melakukan peninjauan langsung.
“Pertimbangan utama kami sejak awal adalah keselamatan umat yang beribadah. Terutama saat perayaan hari besar keagamaan ketika jumlah umat yang hadir sangat banyak,” katanya.
Dan Akhin juga mengungkapkan bahwa sejak pertama kali dibangun 84 tahun lalu hingga sekarang, vihara tersebut ternyata sudah empat kali direnovasi agar nyaman dan aman untuk umat beribadah.
Imbau Akhiri Polemik
Di kesempatan yang sama, Dewan Kehormatan Yayasan Tjhie San Thong, Ahiung Stamina, mengajak seluruh pihak, baik yang mendukung maupun yang menolak pembangunan ulang vihara, untuk menghormati keputusan yang telah diambil dan mengakhiri polemik yang berkembang.
Ia berharap perbedaan pendapat yang sempat terjadi tidak lagi diperpanjang, terutama melalui media sosial, sehingga umat Buddha dapat kembali menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk.
“Kita harus saling menghormati perbedaan pendapat. Karena keputusan sudah diambil, mari bersama-sama menjaga kerukunan dan kedamaian umat,” ujarnya.
Akhirnya, Pengurus Yayasan Tjhie San Thong juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat dan para donatur yang telah memberikan dukungan terhadap rencana pembangunan baru vihara.
“Dana yang telah terkumpul akan dikembalikan secara utuh kepada para donatur,” imbuh mereka.
Nah, dengan berakhirnya polemik tersebut, pengurus berharap seluruh umat Buddha di Mempawah dapat kembali fokus menjalankan ibadah dalam suasana yang damai, tenteram, dan penuh kebersamaan.
Penulis: Distra
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





