SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Pakar: Edukasi Krisis Lingkungan pada Anak Harus Jujur, Namun Tidak Menakutkan

Pakar: Edukasi Krisis Lingkungan pada Anak Harus Jujur, Namun Tidak Menakutkan

Pakar menyampaikan edukasi terkait isu lingkungan yang terlalu menekankan pada bencana, kerusakan alam, dan ancaman masa depan berisiko menimbulkan kecemasan pada anak-anak. (Freepik.com/@tirachardz)

Suara Kalbar – Anak-anak perlu memperoleh informasi yang benar mengenai krisis lingkungan dan perubahan iklim yang tengah terjadi di dunia. Namun, penyampaian informasi tersebut harus dilakukan secara bijak agar tidak memicu rasa takut maupun kecemasan berlebihan.

Mengutip Beritasatu.com, Minggu (31/5/2026), Pandangan itu disampaikan Senior Lecturer Fakultas Hukum Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr Nurul Hidayat Ab Rahman. Menurutnya, pendekatan edukasi lingkungan yang terlalu menonjolkan bencana, kerusakan alam, dan ancaman masa depan berpotensi menimbulkan dampak psikologis pada anak-anak.

“Ketika kita mengajarkan hak-hak lingkungan kepada anak, jangan menggunakan pendekatan yang menakutkan. Misalnya dengan mengatakan dunia akan berakhir, semuanya rusak, masa depan mereka hancur, atau mereka menjadi bagian dari masalah,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

Nurul menjelaskan, paparan informasi mengenai banjir, kebakaran hutan, kepunahan satwa, hingga berbagai bencana akibat perubahan iklim yang terus-menerus disampaikan tanpa diimbangi solusi dapat membentuk pandangan negatif pada anak terhadap dunia di sekitarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat memunculkan kecemasan karena anak merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan.

“Anak-anak bisa mulai berpikir bahwa dunia ini menakutkan, tidak ada yang bisa diperbaiki, dan orang dewasa telah gagal melindungi mereka,” katanya.

Karena itu, ia menilai pendidikan lingkungan perlu dirancang secara lebih seimbang. Selain menjelaskan berbagai persoalan yang terjadi, anak-anak juga perlu diperkenalkan pada langkah-langkah nyata yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga lingkungan.

Nurul mencontohkan berbagai kegiatan sederhana yang bisa diajarkan di sekolah, seperti mendaur ulang sampah, menjaga kebersihan sungai, menanam pohon, hingga membiasakan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya memahami masalah yang ada, tetapi juga menyadari bahwa mereka memiliki peran dalam menciptakan perubahan positif.

“Ajarkan bahwa perubahan masih mungkin dilakukan, bahkan oleh anak-anak. Berikan mereka ruang untuk berpendapat dan apresiasi setiap langkah kecil yang berhasil dilakukan dalam menjaga lingkungan,” tegasnya.

Meski demikian, Nurul menekankan bahwa fakta mengenai kerusakan lingkungan tidak boleh ditutupi. Anak-anak tetap memiliki hak untuk memperoleh informasi yang benar dan dapat dipercaya.

Ia merujuk pada ketentuan dalam United Nations Convention on the Rights of the Child atau Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Pasal 17, yang menjamin hak anak untuk mengakses informasi yang akurat.

“Kita harus tetap jujur. Anak-anak berhak mendapatkan informasi yang dapat dipercaya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara menyampaikannya agar mereka tidak menjadi terlalu takut atau cemas,” ujarnya.

Menurut Nurul, mengabaikan atau menyembunyikan persoalan lingkungan bukanlah solusi yang tepat. Anak-anak tetap perlu memahami tingkat keseriusan tantangan yang dihadapi dunia saat ini, tetapi dengan pendekatan yang sesuai usia dan lebih membangun harapan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan, melainkan juga cara penyampaiannya.

“Jadi bukan hanya apa yang kita sampaikan, tetapi bagaimana cara menyampaikannya yang menjadi hal paling penting,” pungkasnya.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play