SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Ayo Kita Berdaulat

Ayo Kita Berdaulat

Ilustrasi

Oleh: Suqyan Rahmat, SH

Indonesia terdiri dari banyak suku, masing-masing suku mempunyai wilayahnya sendiri. Contohnya, suku melayu wilayahnya di kepulauan Riau dan suku minang di pulau sumatra. Kita sama-sama pernah dijajah Belanda. Setelah belanda tak menjajah lagi, benarkah kita benar-benar sudah merdeka? … Apakah pemerintahan tertinggi di wilayah kita adalah kita yang menjalankannya? … Kenyataannya adalah sampai sekarang kita belum benar-benar merdeka, kita belum merdeka. Karena kenyataannya yang terjadi adalah pergantian penjajah dari Belanda kepada penjajah baru yang bernama Indonesia. Yang pemerintahan pusatnya selalu dikuasai orang-orang yang tidak mampu dan tidak bijaksana. Dengan mengatasnamakan indonesia, pemerintah pusat menguasai kekayaan alam kita, yang berdampak pada rusaknya lingkungan kita. Ketidak adilan ini didukung pejabat dan politisi di pemerintah pusat yang selalu membuat aturan-aturan yang menguntungkan penguasaan mereka terhadap kekayaan alam kita.

Penyatuan semua wilayah di indonesia pada tahun 1949 dulu itu adalah keputusan yang terburu-buru dan tidak bijaksana. Ini disebabkan karena kalahnya tentara kuomintang pada saat itu, yang membuat china menjadi negara komunis sejak 1 Oktober 1949. Amerika Serikat kawatir komunis di China menyebar ke seluruh Asia Tenggara, terutama di wilayah Nusantara. Karena saat itu perang dingin baru saja dimulai, antara ideologi kapitalis yang ditantang ideologi komunis. Sehingga membuat Amerika terpaksa setuju dengan penggabungan wilayah semua suku yang diatur Belanda pada saat itu, menjadi Republik Indonesia Serikat. Hakikatnya, kita bersatu menjadi satu negara bukanlah karena kemauan kita dan bukan karena sama-sama bekas jajahan belanda. Tapi karena wilayah kita yang saling berdekatan dan semua wilayah ini dikawatirkan masuk dalam pengaruh komunis. Yang di Asia bukan hanya sudah menang di China dan Korea, tapi juga sudah menguasai sepertiga Indochina.

Setelah lebih dari tujuh dekade kita bersama dalam Indonesia, kita sama-sama tau keadaan negara kita selama ini. Negara kita menjadi negara gagal, bukan cuma gagal tapi juga zalim. Ketidakadilan terjadi dimana-mana. Alam kita di sumatra dan kalimantan rusak parah karena dukungan penuh jendral-jendral TNI kepada semua tauke sawit. Yang membuat gajah, harimau, badak, dan orangutan kehilangan lingkungan yang telah berabad-abad mereka huni. Pribumi di semua wilayah ini menderita dengan adanya pemodalan yang tak bermanfaat, hanya segelintir orang yang diuntungkan. Yang memalukannya, Polisi hanya berani menghukum orang-orang yang lemah. Kemudian, sangat jarang ada orang di indonesia yang mampu menjelajahi seluruh indonesia, mulai dari Sumatra sampai Papua. Jangankan untuk jalan-jalan sekeluarga, sekedar untuk cukup makan sebulan pun banyak keluarga yang tak mampu. Apalah artinya negara besar tapi seumur hidup tak pernah kemana-mana. Hanya berkeliling di provinsi sendiri.

Contohnya daerah istimewa di indonesia yang masyarakat pribuminya banyak miskin, walaupun keluarga rajanya kaya. Mbah-mbah yang sudah berumur 80an masih mendorong gerobak berjualan makanan keliling kota, hanya demi bisa melanjutkan kehidupannya sehari-hari. Ini adalah pemandangan umum disana. Dan mirisnya, kemiskinan seperti ini bukan hanya terjadi di daerah istimewa tapi hampir di semua provinsi di indonesia, kecuali di provinsi Kepulauan Riau. Keadaan ini disebabkan karena mbah-mbah itu tidak punya dana pensiun dan jaminan kesejahteraan di hari tua, di negara yang pejabatnya banyak hidup mewah. Pensiun hanya didapat orang-orang yang pernah bekerja dengan pemerintah. Ini tentu tidak adil di dalam sebuah negara yang penuh dengan kekayaan alam. Sangat berbeda dengan yang dialami rakyat brunei, negara berwilayah sebesar bali yang semua rakyatnya hidup makmur berkat kebijaksanaan rajanya.

Senjata utama pejabat dan politisi di pemerintah pusat untuk mempertahankan penguasaan mereka di indonesia yang beragam suku ini adalah dengan membunuh musuh politiknya. Diawali dengan penyebaran fitnah demi pencemaran citra musuh politiknya. Selain itu adalah dengan menyalahkan pihak asing, kemudian mereka tampil di depan umum supaya dianggap pahlawan dan mengatasnamakan persatuan bangsa. Seolah-olah demi negara. Ini dijalankan supaya semua rakyat mendukung penguasaan abadi mereka di kursi kepresidenan dan di kabinet. Bukan karena mereka hebat, seperti mitos-mitos yang disebarkan tokoh-tokoh mereka selama ini. Tapi karena mereka diuntungkan oleh keadaan negara ini yang tidak adil dan tak ada rakyat yang sadar. Kenyataannya selama ini kita semua dipaksa kompak bersatu dengan semboyan NKRI harga mati adalah untuk mendukung kekuasaan mereka terus menerus tanpa henti, yang sudah terbukti gagal dalam mengurus negara dan memakmurkan semua rakyat.

Kenapa sejak zaman suharto selesai ada banyak wilayah yang mau menjadi provinsi? … karena wewenang pemerintah daerah menjadi lebih banyak dan semakin besar setelah menjadi provinsi. Negara kita sekarang gagal bukanlah disebabkan karena wilayah kita besar, bukan karena rakyat kita banyak, bukan karena negara kita tak berbentuk federal, dan bukan karena presiden kita orang jawa, bukan. Tapi karena wewenang di semua provinsi itu kecil dan sedikit, wewenang-wewenang besar hampir semuanya bertumpu di pemerintah pusat di Jakarta. Yang semua pejabatnya adalah orang-orang yang tidak mampu dan tidak bisa dipercaya. Saya menyebut mereka dengan istilah penjajah yang gagal tapi rakus. Inilah kenapa negara-negara di Eropa semuanya berjaya, walaupun baru merdeka. Nah… inilah yang terjadi bila semua provinsi merdeka, kita akan seberwenang pemerintah pusat. Terutama dalam hal pengurusan kekayaan alam, yang hasil penjualannya tentunya lebih banyak menjadi milik daerah kita. Kita berkuasa sebagai pemerintah pusat, seperti di Malaysia yang kekayaan alamnya tak dikuasai Indonesia.

Adalah keinginan yang wajar dan benar bagi suku aceh yang menuntut kedaulatan wilayahnya. Yang mereka tuntut pun adalah wilayah mereka, bukan wilayah yang bukan hak mereka. Tapanuli misalnya. Dilihat dari peta indonesia, Indonesia bisa dibuat menjadi sembilan negara baru. Yaitu Republik Sumatra, Riouw, Republik Bangka Belitung, Republik Kalimantan, Republik Jawa, Republik Sulawesi, Republik Maluku, Republik Nusa Tenggara, dan Republik Papua. Tapi setelah berbelas tahun mempelajari indonesia, berdasarkan pemikiran saya idealnya negara gagal ini layak dibuat menjadi 32 negara baru. Diluar wilayah (Kepulauan) Riau, saya serahkan kepada semua rakyat indonesia untuk menentukan nasibnya. Mau selamanya begini? … atau ikut dengan saran cemerlang saya?… Satu hal yang pasti adalah wilayah saya bukanlah bagian dari pulau sumatra. Kami berdiri sendiri, sebagai United States of Riouw.

Baiklah semua pembaca saya … ayo kita berdaulat sama-sama, berjaya sama-sama. Seperti malaysia yang berjaya karena berkuasa penuh di wilayahnya, karena mereka bukan provinsinya Indonesia. Indonesia yang gagal dan zalim ini bukanlah kesatuan yang sakral, bukan kitab suci. Kita juga bisa jadi presiden, di wilayah peninggalan nenek moyang kita. Ayo kita bikin impian kita jadi kenyataan, ini hak kita. Berdaulatlah kita semua !!!

*Penulis adalah pembaca majalah Fortune, Globe, dan National Geographic Traveler dimasa mudanya. Alumni Universitas Islam Indonesia. Tinggal di Batam.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan