SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Diet Gagal Meski Sudah Olahraga? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Diet Gagal Meski Sudah Olahraga? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Ilustrasi sarapan yang baik untuk kesehatan tubuh (Pexels)

Suara Kalbar – Banyak orang gagal memperbaiki bentuk tubuh meskipun sudah konsisten berdiet dan berolahraga. Salah satu pemicu kegagalan tersebut adalah penerapan metode yang salah, seperti sengaja melewatkan sarapan dengan harapan berat badan cepat turun.

Ahli gizi asal Taiwan Peng Yishan mengungkapkan bahwa melewatkan sarapan sering kali menjadi jebakan diet yang tidak ilmiah. Banyak pelaku puasa intermiten (intermittent fasting) secara keliru menganggap tidak sarapan sebagai cara puasa yang benar.

“Saya merekomendasikan untuk tetap makan pertama sebelum tengah hari. Hal ini penting untuk mengoptimalkan proses metabolisme dan pembakaran lemak tubuh,” ujar Peng Yishan, Minggu (29/3/2026).

Peng menjelaskan bahwa makan hanya satu kali sehari memang menciptakan defisit kalori, tetapi memiliki konsekuensi buruk. Berat badan yang hilang sebagian besar adalah massa otot, sementara lemak membandel justru tetap tertinggal di dalam tubuh.

Selama proses penurunan lemak, asupan protein memegang peranan kunci. Pelaku diet perlu menjaga keseimbangan antara protein hewani dan nabati guna mempertahankan massa otot agar metabolisme tetap terjaga dengan baik.

Bahkan untuk makanan sehat seperti alpukat, kacang-kacangan, atau oatmeal, pengendalian porsi tetap wajib dilakukan. Konsumsi berlebihan pada makanan sehat sekalipun tetap akan memicu asupan energi berlebih yang menghambat diet.

Selain nutrisi, kualitas tidur juga berdampak langsung pada sekresi hormon seperti ghrelin, leptin, dan kortisol. Kurang tidur yang berkepanjangan akan merusak keseimbangan hormon tersebut sehingga menghambat pengeluaran energi tubuh secara maksimal.

Peng Yishan menekankan bahwa penurunan berat badan adalah sebuah maraton, bukan lari cepat. Target yang sehat dan realistis adalah penurunan 0,5 hingga 1 kg per minggu, atau total 10% dari berat badan dalam waktu tiga bulan.

Terakhir, ia menyarankan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada angka di timbangan. Indikator kesuksesan diet yang lebih akurat meliputi persentase lemak tubuh, lingkar pinggang, dan komposisi massa otot yang lebih komprehensif.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan