Mobil Listrik China Diminati, Tapi Sulit Masuk AS
Suara Kalbar – Sejumlah calon pembeli mobil di Amerika Serikat (AS) mulai melirik mobil listrik (electric vehicle/EV) asal China yang lebih terjangkau. Namun, ketatnya kebijakan pemerintah membuat kendaraan tersebut nyaris tidak bisa dimiliki di Negeri Paman Sam.
Salah satunya adalah Sooren Moosavy (28), warga Baltimore, yang ingin membeli mobil listrik karena alasan lingkungan dan kenyamanan berkendara. Namun, pilihannya justru jatuh pada model yang tidak tersedia di pasar AS.
Ia mengincar mobil dari BYD, Geely, dan Zeekr, yang menurutnya menawarkan desain kompak, interior mewah, serta harga yang jauh lebih terjangkau.
“Saya ingin sekali punya kesempatan untuk membeli atau setidaknya mencoba test drive mobil tersebut,” ucap Moosavy kepada Reuters, Selasa (24/3/2026).
Fenomena ini tidak hanya dialami Moosavy. Dengan harga rata-rata mobil baru di AS yang mendekati US$ 50.000, semakin banyak konsumen mulai terbuka terhadap mobil China yang lebih murah, meskipun mendapat penolakan dari industri otomotif dan kalangan politik.
Sementara mobil listrik China sudah banyak beredar di Eropa, Amerika Latin, hingga Kanada, pemerintah AS secara efektif membatasi masuknya kendaraan tersebut melalui tarif impor yang melebihi 100%. Kebijakan ini diambil karena kekhawatiran terhadap keamanan data serta perlindungan industri dan tenaga kerja dalam negeri.
Di pasar global, khususnya Eropa, sejumlah mobil listrik China dijual dengan harga di bawah US$ 30.000. Tak hanya murah, kendaraan ini juga dilengkapi teknologi canggih seperti sistem bantuan berkendara, kulkas mini, hingga fitur karaoke di dalam mobil.
“Teknologi yang mereka tawarkan dengan harga segitu benar-benar luar biasa,” tulis editor senior dari situs otomotif Edmunds, Clint Simone.
Dalam beberapa tahun terakhir, China bahkan telah melampaui Jepang sebagai eksportir kendaraan terbesar di dunia. Negara seperti Kanada mulai membuka pasar dengan menurunkan tarif impor menjadi 6,1% untuk kuota awal 49.000 unit EV per tahun. Sementara itu, ekspor ke Meksiko juga meningkat pesat, bahkan produsen China mulai mempertimbangkan pembangunan pabrik di sana.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan terbuka terhadap kehadiran produsen mobil China di AS, selama mereka mempekerjakan tenaga kerja lokal.
Namun, penolakan tetap kuat. Sejumlah asosiasi industri otomotif mendesak pemerintah untuk menutup akses bagi mobil China, dengan alasan persaingan.
Senator Partai Republik, Bernie Moreno, bahkan menegaskan, “Selama saya masih hidup, tidak akan ada mobil China yang dijual di Amerika Serikat.”
Pihak Kedutaan Besar China di Washington menolak kritik tersebut dan menyatakan mobil buatan China diminati karena kualitas serta inovasi teknologinya.
Meski ada kekhawatiran soal keamanan data dan dampaknya terhadap industri lokal, minat konsumen tetap tinggi. Survei Reuters menunjukkan hampir 49% responden menilai mobil China memiliki nilai yang sangat baik, sementara 40% mendukung kehadirannya di pasar AS.
Seorang penggemar otomotif dan YouTuber, Rich Benoit, menilai harga menjadi daya tarik utama.
“Inilah yang dicari banyak orang. Efisien, senyap, dan murah. Mereka hanya ingin (dipakai untuk) pergi bekerja, tidak semua orang penggemar mobil,” ujarnya.
Benoit bahkan mempertimbangkan membeli mobil BYD di Meksiko dan membawanya ke AS.
“Itu satu-satunya cara untuk mendapatkannya. BYD sudah lama dijual di Meksiko, dan saya ingin punya mobil listrik China di Amerika,” ucapnya.
Sumber: Beritasatu.com






