SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Dunia PBB: Meningkatnya Konflik di Perbatasan Sudan Ancam Warga Sipil dan Operasi Bantuan

PBB: Meningkatnya Konflik di Perbatasan Sudan Ancam Warga Sipil dan Operasi Bantuan

Foto yang diabadikan pada 20 Februari 2026 ini menunjukkan para pengungsi Sudan yang kembali dari Uganda di Bandar Udara Internasional Port Sudan di Port Sudan, Sudan timur./Xinhua

PBB (Suara Kalbar) – Konflik di sepanjang perbatasan Sudan dengan negara-negara tetangga serta meningkatnya serangan drone memperbesar ancaman terhadap warga sipil dan mengganggu operasi bantuan, kata badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (25/3/2026).

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan bahwa bentrokan terbaru di sepanjang dan di sekitar perbatasan Sudan dengan Chad dan Ethiopia telah mengakibatkan korban sipil serta memaksa warga mengungsi dari rumah mereka.

OCHA menyatakan bahwa sejumlah mitra kemanusiaan melaporkan serangan drone pada Senin (23/3) mengakibatkan korban sipil di Sudan selatan.

Kantor tersebut menyatakan bahwa di Negara Bagian Nil Biru, Sudan timur, kekerasan di dekat perbatasan Ethiopia mengancam akses ke kota Kurmuk, Sali, dan Dindraw, di selatan Ed Damazine, ibu kota negara bagian itu. Warga sipil pun terpaksa mengungsi ke Ed Damazine maupun menyeberang ke Ethiopia.

Pasukan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) Sudan pada Selasa (24/3) menyatakan telah mengambil alih kota strategis Kurmuk, setelah pertempuran “sengit” dengan Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) dari pemerintah.

OCHA menyatakan bahwa kebakaran di lokasi pengungsian di Sudan meningkat di tengah kepadatan berlebihan, suhu tinggi, serta penggunaan bahan tempat tinggal yang mudah terbakar.

Kantor tersebut pada Senin menyatakan bahwa kebakaran di lokasi pengungsian Al Afad di Negara Bagian Utara (Northern) mengakibatkan seorang anak berusia tiga tahun tewas dan memaksa 15 keluarga mengungsi. Kebakaran lainnya di Kordofan Utara menyebabkan sedikitnya 30 keluarga kehilangan tempat tinggal.

OCHA menyerukan kepada semua pihak untuk meredakan ketegangan, melindungi warga sipil, serta memastikan akses kemanusiaan yang aman, cepat, dan tanpa hambatan bagi mereka yang membutuhkan. Selesai

Sumber: Xinhua

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan